Kisah Penebang Pohon di Jakarta: Kecelakaan Tak Terhitung

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemangkasan pohon di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan pada Sabtu (29/11). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemangkasan pohon di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan pada Sabtu (29/11). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Di sepanjang Jalan Haji Nawi menuju Fatmawati, Jakarta Selatan, tumpukan daun berserakan. Debu dan serangga bergelimang.

Di antara lalu lintas yang tak berjeda, delapan orang petugas Suku Dinas Kehutanan Jakarta Selatan, tepatnya tim petugas Kecamatan Kebayoran Baru, tampak memangkas rimbunnya pepohonan.

Di bawah terik matahari dan keringat yang mengucur, Sarikah (50) menggelosor di trotoar sekitar sembari mengasah alat perangnya—chainsaw. Sesekali ia menyeruput kopi hitam, tepat di samping ia duduk.

Pemangkasan pohon di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan pada Sabtu (29/11). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Kata dia, tahun ini adalah tahun ke-10 ia menghabiskan hari-harinya mengabdi sebagai penebang pohon di Jakarta, bergelantung di antara cabang-cabang pohon besar.

“Ini untuk laporan surat. Pemangkasan berdasarkan program dari Sudin,” ujar Sarikah, menjelaskan agenda pemangkasan pada Sabtu (29/11) pagi.

Pemangkasan di jalur ini tidak bersifat rutin, tapi menyesuaikan kondisi pohon.

Petugas saat memangkas pohon di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan pada Sabtu (29/11). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

“Seumpama ada pemangkasan di wilayah ini, kita sesuaikan dengan tingginya pohon dan rimbunnya. Itu langsung kita eksekusi, apalagi untuk jalur-jalur ramai seperti Jalan Haji Nawi ini, kan enggak ada kosong waktunya,” kata Sarikah.

Jalur Haji Nawi di Jakarta Selatan yang padat menuntut penanganan ekstra. Rencana mereka hari itu cukup ambisius: memotong pohon dari lampu merah Haji Nawi, menyusuri Pondok Indah hingga Fatmawati.

Target Harian di Jalur Padat

Dalam sekali turun, tim biasanya tak mendapat target harian. Namun, untuk misi hari itu, sekitar 15 pohon masuk daftar eksekusi.

“Yang sudah jalan ini baru 3 pohon,” kata Sarikah bercerita soal berapa pohon yang sudah dipangkasnya.

Jumlah itu tak bisa dikerjakan oleh satu tim saja, sebab tinggi pohon di kawasan tersebut banyak yang mencapai di atas 40 meter. Karena itu, tim Kebayoran Baru digabung dengan Buser 1 untuk memperkuat tenaga di lapangan. Target diselesaikan dalam sehari, meski kondisi jalan tak pernah benar-benar lengang.

Dalam seminggu terakhir, Sarikah mengaku telah memangkas sekitar 90 pohon, atau 10-13 pohon dalam sehari. “Sebetulnya, target 3 pohon dalam 1 hari. Tapi kalau masih banyak waktu, kita cari lagi dari laporan warga,” ungkapnya.

Menurut Sarikah, pengerjaan hari ini berjalan dari pukul 08:00 WIB hingga 14:00 WIB. “Satu pohon sekitar 15 sampai 30 menit,” kata dia.

Menimbang Pohon: Diameter, Tinggi, Kerimbunan

Pemangkasan pohon di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan pada Sabtu (29/11). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Penilaian pemangkasan dilakukan berdasarkan tiga faktor utama: diameter, ketinggian, dan tingkat kerimbunan.

Di Jalan Haji Nawi, kata Sarikah, banyak pohon yang diameternya langsung masuk perlakuan toping atau penggal, yaitu pengurangan tinggi.

“Kita di sini kan diameternya udah 10, otomatis kita toping. Kalau penggal itu atasnya kita buang, kurangi ketinggian, kerimbunannya. Kalau pangkas, sisi kanan kiri,” jelas Sarikah sembari menunjuk batang yang baru saja dipotong.

Mengamati kondisi pohon sudah menjadi insting. “Kadang kelihatannya rimbun, teduh, tapi belum tentu aman,” ujarnya.

Kulit yang berubah, batang bagian bawah yang keropos akibat rayap atau pembusukan, hingga hingga akar yang tidak lagi mencengkeram kuat tanah menandakan pohon itu rapuh.

“Karena wilayah kita ini sekarang ini enggak kayak di hutan. Cengkeraman akarnya itu enggak ngait ke tanah. Karena banyak pembangunan gedung ya,” jelas Sarikah.

“Contoh kayak kemarin yang baru di Sisingamangaraja. Itu kan karena akarnya dia ini udah enggak nyengkeram ke tanah. Sudah terlalu banyak fondasi-fondasi tanah di bawah dan pengerukan," tambah dia.

“Orang senang pohon yang teduh, sedangkan untuk keamanan pohon itu sendiri kurang mengikat ke tanah. Karena terbatas dari tembok atau fondasi lain, atau galian lain yang dipotong, dipangkas,” ungkapnya.

Keamanan Kerja di Tepi Jalan

Bekerja di pinggir jalan membuat risiko tak terpisahkan dari pekerjaan. Jarak aman sekitar 5–10 meter selalu diupayakan saat batang besar hendak dipotong. Sementara itu, arus kendaraan diatur dengan sistem buka-tutup oleh sebagian anggota tim, yang juga petugas penebang.

Alat pemotong berupa chainsaw disediakan Sudin, namun perawatan menjadi urusan tim sendiri.

“Kalau rusak, ya pakai mulai kita putar dari subsidi BBM yang kita kumpulkan. Enggak ada penggantian dari kantor,” kata Sarikah.

Karena mesin dipakai hampir tanpa henti—bahkan 24 jam saat ada kejadian pohon tumbang—petugas harus rajin mengasah dan memeriksa ketajamannya setiap senggang.

Cedera Jadi Hal Wajar

Meski disiplin keamanan diterapkan, kecelakaan tetap sering terjadi.

“Oh kalau kecelakaan itu udah kayak enggak terhitung,” ujar Sarikah.

Cedera ringan seperti terkena sabetan chainsaw, hingga yang berat jatuh dari pohon, pernah ia alami sendiri.

“Mungkin karena kelalaian kita dan kecerobohan. Kalau naik, mulai lelah, jangan dipaksakan. Dan juga kalau di bawah itu biasanya kena kendaraan atau tertabrak,” ujar Sarikah.

Jika ada kecelakaan, laporannya diteruskan ke Sudin dan perawatan ditanggung BPJS. Namun banyak petugas memilih penyembuhan alternatif agar cepat kembali bekerja.

“Seharusnya dirawat sebulan, kita cuma empat hari atau seminggu paling lama,” katanya.

Sebagai pekerja honorer, tak masuk kerja berarti tak dibayar.

“Kita kan jatuhnya honorer. Harian. Kalau kita enggak masuk, kita kepotong dong,” ungkap Sarikah.

Harapan: Fasilitas yang Lebih Layak

Setelah satu dekade bekerja, harapan Sarikah sederhana: peralatan yang lebih baik.

“Lebih banyak diperhatikan alat perang kita, alat kerja,” ujarnya.

Dengan mesin yang terus dipaksa bekerja dan tak ada jaminan penggantian, mereka mengandalkan alokasi bensin untuk biaya perbaikan. “Mau rusak mau bener, tergantung kita yang ngurusin. Fasilitasnya segitu.”

Meski kerasnya pekerjaan membuat tubuhnya selalu berhadapan dengan risiko, Sarikah tetap menjalaninya dengan ikhlas. Ada satu prinsip yang selalu ia pegang untuk menjaga keselamatannya: “Jangan kosong perut. Mesti fokus. Karena saat kita bekerja, ini kan luar biasa main otak dan fisik.”

Di balik rimbun pepohonan Jakarta, ada petugas-petugas seperti Sarikah yang bekerja dalam diam, memastikan teduhnya kota juga berarti aman bagi warganya.