Kisah 'Perang Bayu' di Atas Catwalk Karnaval BEC, Berkah bagi Seniman Lokal

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 membawa berkah bagi para seniman lokal. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 membawa berkah bagi para seniman lokal. Foto: kumparan

Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 tidak sekadar menjadi panggung unjuk budaya tahunan. Lebih dari itu, festival ini menjelma menjadi motor penggerak ekonomi yang menghidupkan ekosistem seni dan usaha mikro di Bumi Blambangan.

Menjelang BEC, kesibukan intens mulai terlihat di bengkel-bengkel kerja para kreator lokal.

Tahun ini, BEC mengusung tema historis yang kuat, yakni "Perang Bayu: The Great War of Blambangan". Tema kepahlawanan ini sukses memicu lonjakan pesanan kostum karnaval dan memutar roda ekonomi dengan nilai yang cukup besar. Untuk satu kostum utuh, biayanya berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta.

Sejumlah desainer kawakan Banyuwangi pun mulai berpacu dengan waktu. Bubu Ramadhan, misalnya, saat ini tengah merampungkan 11 kostum. Sementara itu, Rony Sanjaya, desainer asal Desa Aliyan, dipercaya menggarap empat kostum megah, dan Heru Saputra dari Desa Bomo fokus menyelesaikan tiga kostum.

Bagi mereka, BEC merupakan ruang pembuktian eksistensi yang selalu menghadirkan tantangan baru setiap tahunnya.

"BEC merupakan wadah kreativitas bagi para seniman untuk menuangkan kreasinya karena setiap tahun tema yang diusung selalu berbeda," kata Bubu Ramadhan, Rabu (17/6/2026).

"Di samping menjadi kebanggaan seni, momentum ini jelas menjadi ladang penghasilan yang sangat menjanjikan bagi kami," imbuhnya.

Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 membawa berkah bagi para seniman lokal. Foto: kumparan

Hal senada diungkapkan Rony Sanjaya. Baginya, ada kepuasan tersendiri ketika karya yang dirancang selama berbulan-bulan akhirnya melenggang di hadapan wisatawan domestik hingga mancanegara.

"BEC adalah waktu bagi seniman untuk 'pamer'. Di sinilah tempat kami menunjukkan kualitas, detail, dan orisinalitas karya terbaik Banyuwangi kepada dunia," ujar Rony.

Efek Domino Ekonomi di Balik Layar

Menariknya, kemegahan sepotong kostum BEC bukanlah hasil kerja tunggal. Ada rantai ekonomi penunjang yang melibatkan banyak tangan di balik layar. Para desainer mengandalkan keahlian para pengrajin ukir lokal untuk menggarap bagian-bagian rumit seperti mahkota, sayap, dan ornamen detail lainnya.

Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 membawa berkah bagi para seniman lokal. Foto: kumparan

Sutik, seorang pengrajin ukiran dari Kampung Melayu, menjadi salah satu yang memanen berkah dari ekosistem kreatif tersebut.

"Di sini kami biasa mengerjakan sayap dan mahkota kostum. Selain menjadi tambahan penghasilan, lewat pembuatan kostum ini saya juga merasa bangga karena bisa ikut berkontribusi untuk Banyuwangi," tutur Sutik.

Kolaborasi apik antara estetika desain modern dan keahlian ukir tradisional ini bakal segera tersaji kepada publik. Seluruh kemegahan visual dari tema "Perang Bayu" dijadwalkan menghentak area penyelenggaraan BEC pada 17–19 Juli 2026 mendatang.