Kisah Petani Sodiyah dan 'Emas Ireng' untuk Menjemput Baitullah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sodiyah Syukur di Bandara Madinah. Foto: Dok. MCH 2026
zoom-in-whitePerbesar
Sodiyah Syukur di Bandara Madinah. Foto: Dok. MCH 2026

Dari atas kursi roda, senyumnya semerbak dari kejauhan. Sodiyah Syukur (86 tahun), meski tak lagi muda, semangatnya tak kalah dengan jemaah yang jauh lebih muda dari usianya.

Jemaah haji asal Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, itu tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, Rabu (6/5) pukul 09.30 waktu Arab Saudi. Ia datang bersama rombongan embarkasi Yogyakarta, didampingi putri keempatnya yang menggantikan sosok suaminya.

Di balik tubuh renta itu, tersimpan kisah panjang tentang kesabaran, kehilangan, dan pengorbanan. Bagi Sodiyah, perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar ibadah, melainkan puncak dari perjuangan hidup yang ia rajut selama puluhan tahun sebagai petani desa.

“Sehari-hari ibu bertani. Dari situlah beliau menabung sedikit demi sedikit,” tutur sang putri dengan suara lirih.

Namun tabungan itu tak selalu cukup. Demi memenuhi panggilan berhaji, Sodiyah mengambil keputusan besar yakni menjual 'emas ireng', yang merupakan istilah Jawa dari tanah atau pekarangan.

Bagi masyarakat desa, tanah adalah simpanan paling berharga. Ia bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga simbol kerja keras dan ketahanan hidup.

Ilustrasi desa di Indonesia. Foto: Dok. Kemenparekraf

Dari tanah itu Sodiyah berupaya bercocok tanam, menyambung hidup, sekaligus menabung mimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci.

“Emasnya orang desa itu ya tanah, bukan perhiasan,” tambah sang putri.

Keputusan menjual pekarangan bukan perkara ringan. Tanah yang dilepas Sodiyah adalah hasil jerih payahnya sendiri—keringat yang menetes di bawah terik matahari, musim demi musim.

Namun bagi Sodiyah, panggilan haji jauh lebih bernilai daripada apa pun yang ia miliki di dunia saat ini.

Sang suami, yang semula terdaftar untuk berhaji bersamanya, telah lebih dulu wafat di sela masa tunggu yang mencapai 14 tahun.

Penantian panjang itu akhirnya harus ia tuntaskan sendiri, meski tanpa pendamping hidup yang dulu berbagi mimpi yang sama. Kini Sodiyah dan putrinya sudah sampai di Madinah dan siap untuk beribadah.