Kisah Polisi Bawa Bilqis dari Jambi: Kalau Anak itu Tak Pulang, Kami Tak Pulang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bilqis, anak perempuan berusia 4 tahun yang hilang sepekan, telah kembali ke orang tuanya di Kota Makassar, Minggu (9/11/2025). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Bilqis, anak perempuan berusia 4 tahun yang hilang sepekan, telah kembali ke orang tuanya di Kota Makassar, Minggu (9/11/2025). Foto: Dok. Istimewa

Setelah sepekan menghilang, Bilqis (4), bocah asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya ditemukan selamat pada Sabtu (8/11) malam.

Anak perempuan itu ditemukan aparat di kawasan pedalaman hutan, tepatnya di pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) di Provinsi Jambi. Penemuan tersebut mengakhiri pencarian panjang terhadap Bilqis. Ia kini kembali ke pangkuan orang tuanya.

Bilqis sebelumnya dinyatakan hilang pada Minggu pagi (2/11). Saat itu, ia ikut kedua orang tuanya berolahraga di Taman Pakui Sayang, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar.

Suasana taman pagi itu ramai. Warga silih berganti datang untuk berlari, senam, atau bermain tenis lapangan—seperti ayah Bilqis, Dwi Nur Nurmas alias Dimas (34).

Bilqis terlihat ceria bermain di playground yang berada di samping lapangan tenis. Sesekali, ayahnya memanggil. Bilqis menjawab, “Iya, Bapak.” Tiga kali dipanggil, tiga kali pula ia menjawab. Namun, pada panggilan keempat, suara Bilqis tak terdengar lagi.

“Saya pantau ji, biasa saya panggil, bilang Bilqis, dia jawab ‘iye, Bapak’. Tapi saat game ketiga, saya panggil sudah tidak dijawab,” kata Dwi kepada wartawan.

Dimas panik. Ia langsung mencari anaknya dan menanyai satu per satu pengunjung, tapi tak ada yang tahu keberadaan Bilqis. Hingga sore hari, Dimas memutuskan melapor ke Polsek Panakkukang.

Polisi Telusuri Jejak Bilqis

Konpers kasus penculikan Bilqis di Polretabes Makassar, Senin (10/11/2025). Foto: kumparan

Begitu menerima laporan, polisi langsung bergerak. Mereka memeriksa kamera CCTV di sekitar lokasi. Dari rekaman, terlihat Bilqis dibawa seorang perempuan misterius bersama dua anak lainnya.

Awalnya, perempuan itu dikira kerabat keluarga Bilqis. Namun setelah ditelusuri, ternyata bukan. Polisi pun yakin Bilqis diculik.

“Kami awalnya telusuri CCTV dekat lokasi dan betul menemukan seorang ibu-ibu membawa anak keluar dari Taman Pakui,” kata Kasubnit Jatanras Polrestabes Makassar, Ipda Adi Gaffar, Senin (10/11).

Identitas perempuan misterius itu terungkap: Sri Yuliana alias Ana. Ia sebelumnya tinggal di Jalan Kelapa 3, lalu pindah ke Jalan Abdullah Dg Sirua.

“Awalnya kami temukan anaknya yang sekolah di Maccini. Dari situ dikembangkan hingga perempuan itu kami tangkap Rabu (5/11) pagi,” ujar Adi.

Dari pengakuan Ana, ia menjual Bilqis kepada seseorang yang tidak dikenalnya seharga Rp 3 juta. Ia menyebut pembelinya berasal dari Jawa, dan dari penyelidikan awal diketahui pelaku berada di Kota Solo.

“Kami berempat langsung terbang ke Jogja untuk berangkat ke Solo,” ujarnya.

Namun, saat pelaku pembeli Bilqis ditangkap pada Kamis (6/11) dini hari, Bilqis sudah tidak bersamanya. Ternyata, Bilqis telah dijual lagi ke pelaku lain di Provinsi Jambi.

“Dengan segala upaya, kami langsung berangkat ke Jambi, lalu ke daerah Kerinci. Perjalanan sekitar 12 jam dari Kota Jambi naik mobil,” ungkap Adi.

Di Jambi, polisi berkoordinasi dengan jajaran Reskrim setempat. Posisi tersangka dilacak hingga ke Kabupaten Merangin. “Kami sempat razia di jalan sambil identifikasi tersangka, tapi belum ditemukan,” katanya.

Akhirnya, pada Jumat (7/11) siang, dua pelaku lain berhasil ditangkap. Dari keduanya, diketahui Bilqis telah diserahkan kepada komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di pedalaman Jambi.

“Jadi kami langsung masuk ke daerah SAD itu,” ujar Adi.

Negosiasi Alot di Pedalaman

Polisi menujukkan tersangka kasus penculikan Bilqis di Polretabes Makassar, Senin (10/11/2025). Foto: kumparan

Upaya menemukan Bilqis di kawasan Suku Anak Dalam tidak mudah. Polisi harus berkoordinasi dengan Dinas Sosial Merangin dan Polres setempat.

Petugas kemudian menemui kepala suku, yang disebut Tumenggung, untuk berkomunikasi. Namun, proses negosiasi berlangsung alot. “Sangat alot, karena mereka bertahan,” kata Adi.

Selama dua hari dua malam, polisi terus bernegosiasi. Mereka menjelaskan bahwa Bilqis adalah korban penculikan, bukan bagian dari suku tersebut.

“Mulai dari malam tembus pagi, malam lagi komunikasi. Kami memohon dengan hati nurani, karena kalau anak itu tidak pulang, kami juga tidak akan pulang,” ucap Adi.

Akhirnya, usaha itu membuahkan hasil. Warga suku melepas Bilqis meski dengan berat hati. Bahkan, mereka sempat menangis saat Bilqis hendak dibawa pergi.

“Mereka menangis karena sudah terjalin hubungan emosional. Bilqis sempat meronta karena menganggap Tumenggung itu bapaknya, saking dekatnya,” kata Adi.

Setelah Bilqis diserahkan, polisi langsung membawa pulang bocah itu ke Makassar, menuntaskan drama pencarian yang sempat menegangkan hingga ke pedalaman Jambi.