Kisah Polisi Masak Daging Kurban dan Bagikan ke Warga yang Tinggal di Jalanan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Briptu Ananda Rafi. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Briptu Ananda Rafi. Foto: Dok. Istimewa

Anggota Korlantas Polri Briptu Ananda Rafi punya cara tersendiri dalam menikmati daging kurban yang diterimanya. Ia memilih memasak sendiri daging kurban itu lalu membagikannya ke masyarakat.

Keinginan berbagi itu muncul saat Rafi kerap melihat orang kurang mampu tidur di pinggir jalan dengan kondisi memprihatinkan. Ia kemudian tergerak dan memasak sendiri daging itu.

“Saya bisa saja memasak dan memakannya sendiri. Tapi saat patroli, saya sering melihat masyarakat yang tidur di jalan. Tidak jarang ketika disamperin dan ditanya, mereka belum makan. Itu yang membuat hati saya tersentuh,” kata Rafi kepada kumparan, Selasa (16/6).

Ia mengaku memahami betul bagaimana rasanya menahan lapar. Rafi mengatakan dirinya bukan berasal dari keluarga berada dan pernah merasakan sulitnya memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Briptu Ananda Rafi. Foto: Dok. Istimewa

“Saya tahu seperti apa rasanya lapar. Saya tahu rasanya ingin makan makanan enak seperti daging yang mungkin mahal dan eksklusif bagi sebagian orang saat ini,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman itulah, ia memutuskan mengolah daging kurban menjadi makanan siap santap untuk dibagikan kepada masyarakat yang masih berjuang mencari nafkah di jalan.

Menurut Rafi, berbagi bukan hanya soal memberikan makanan. Momen itu juga menjadi kesempatan untuk mendengar cerita dan keluh kesah masyarakat yang ditemuinya.

“Saya sadar tangan saya terlalu kecil untuk membantu semua orang. Tapi hal besar berawal dari hal kecil,” tuturnya.

Masak Sendiri hingga Jadi 34 Kotak Nasi

Sebelum dibagikan, Rafi menyiapkan sendiri seluruh proses memasak. Ia berbelanja berbagai bumbu pendukung ke pedagang sayur, lalu memarinasi daging kurban menggunakan lada hitam agar cita rasanya lebih meresap.

Proses memasak itu juga direkam menggunakan tripod yang biasa digunakannya membuat konten. Setelah matang, makanan kemudian dikemas menjadi 34 kotak nasi dan dibawa menggunakan box motor patroli pengawalan (patwal).

Tidak ada rute khusus dalam pembagian makanan tersebut. Saat bertugas patroli, Rafi membagikan makanan kepada siapa saja yang ditemuinya dan dinilai membutuhkan bantuan.

“Untuk distribusi makanan sendiri tidak saya targetkan. Ketemu masyarakat di jalan secara random saya bagikan. Berkeliling sambil patroli, mengedukasi masyarakat yang belum tertib di jalan, ketika menemukan masyarakat yang membutuhkan saya bagikan,” katanya.

Kisah Driver Ojol Tak Pernah Dilupakannya

Di balik rutinnya berbagi makanan, ada satu peristiwa yang hingga kini paling membekas di ingatan Rafi.

Beberapa bulan lalu, ia menemukan seorang pengemudi ojek online yang tertidur di atas sepeda motornya. Setelah dihampiri, ia mengetahui bahwa pengemudi tersebut kelelahan dan belum makan bersama istri serta anaknya.

Saat itu, orderan sedang sepi. Pengemudi tersebut bahkan kebingungan mencari uang untuk menutupi biaya sewa motor yang digunakannya bekerja.

“Cerita itu membuat saya benar-benar tidak bisa menahan air mata. Saya benar-benar tahu seperti apa rasa sakitnya lapar itu,” ujar Rafi.

Pertemuan tersebut menjadi titik awal yang semakin menguatkan niatnya untuk rutin berbagi kepada masyarakat. Baginya, langkah kecil itu merupakan salah satu bentuk kehadiran polisi di tengah masyarakat.

Aksi berbagi makanan tersebut ternyata bukan pertama kali dilakukan Rafi. Ia mengaku kegiatan serupa telah rutin dijalankan sejak Februari 2026 melalui program sedekah Jumat dan sedekah subuh.

“Berbagi ini alhamdulillah sudah rutin sejak bulan Februari. Ada sedekah Jumat dan sedekah subuh,” kata Rafi.

Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi cara sederhana untuk membantu masyarakat yang ditemuinya saat bertugas di lapangan. Selain memberikan makanan, ia juga kerap menyempatkan diri berbincang dan mendengarkan cerita mereka di jalanan.