Kisah Pondok Pengayom Satwa Merawat yang Tak Bertuan: Semua Hewan Makhluk Tuhan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah Kucing untuk menyimpan kucing yang diserahkan warga di Pondok Pengayom Satwa, Ragunan, Jakarta Selatan pada Kamis (28/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah Kucing untuk menyimpan kucing yang diserahkan warga di Pondok Pengayom Satwa, Ragunan, Jakarta Selatan pada Kamis (28/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Pondok Pengayom Satwa di Ragunan, Jakarta Selatan, jadi penampungan hewan peliharaan yang tak lagi bertuan. Puluhan anjing dan kucing dirawat secara swadaya oleh para pengurusnya.

Admin Pondok Pengayom Satwa, Sari, memiliki alasan tersendiri untuk merawat hewan-hewan yang tak beruntung itu.

“Kan semua hewan makhluk Tuhan juga,” ujar Sari saat ditemui, Kamis (28/5).

Sari menjelaskan, hewan-hewan itu dirawat oleh tangan petugas dengan hangat. Katanya, sebagian hewan di pelataran itu dibuang oleh pemiliknya secara diam-diam ke area pondok.

“Pembuangan dari orang pada buang ke sini. Nih, yang terlantar gini, main buang-buang aja gitu. Kasihan,” kata Sari sambil memberikan pangan dengan melantunkan doa dari mulutnya.

Meski demikian, pondok yang telah berdiri sejak 1987 ini utamanya memelihara hewan-hewan yang diserahkan secara langsung oleh pemiliknya. Ada sekitar 40 ekor anjing dan 25 ekor kucing yang dipelihara melalui prosedur tersebut.

“Kalau yang permanen kan dia udah diserahkan di sini. Jadi dia (pemiliknya) memang udah enggak bisa merawat. Salah satunya nih contoh, kadang pemiliknya udah sepuh, udah tua, atau memang udah enggak ada biaya, terus pindah rumah gitu,” ucap Sari.

Anjing yang berada di dalam kandang di Pondok Pengayom Satwa, Ragunan, Jakarta Selatan pada Kamis (28/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Anjing-anjing berada di kandang yang berderet di area tengah pondok. Mereka tampak menggonggong dan mengayunkan ekornya ketika dihampiri.

Sementara itu, kucing berada di rumah khusus di dekat area pemakaman hewan. Mereka rutin diberikan makan dengan dua jenis pangan, yakni pangan kering dan basah.

“Ini makanan kering untuk selingan. Kadang kucing enggak mau makanan basah, ada yang mau makanan kering,” sebut Sari.

Kata Sari, hewan-hewan itu telah menjalani vaksin sebelum diserahkan. Penyerahan itupun bukan tanpa biaya. Untuk kucing dikenakan biaya Rp 1,5 juta, sementara untuk anjing lokal sebesar Rp 1,8 juta dan anjing ras/campuran sebesar Rp 2 juta.

Selain penyerahan hewan, Pondok Pengayom Satwa juga terbuka untuk warga yang ingin adopsi.

Untuk adopsi, satu ekor anjing lokal dikenakan biaya Rp 500 ribu dan anjing ras/campuran Rp 1 juta. Lalu, harga kucing lokal Rp 100 ribu dan kucing ras/campuran Rp 200 ribu.

Calon majikan nantinya harus mengisi formulir adopsi. Lalu, hewan tersebut dilakukan pengecekan kesehatan, sebelum adopter menandatangani kontrak dengan pondok.

“Lalu bicara dengan dokternya. Gitu kan semua yang bisa memutuskan dokter di sini. Terkait kesehatan-kesehatan. Kan harus dicek semuanya ya,” tutur Sari.

Potret pemakaman hewan Taman Makam di Pondok Pengayom Satwa, Ragunan, Jakarta Selatan pada Kamis (28/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparan

Pondok ini juga membuka jasa penitipan hewan dengan harga berkisar Rp 90 ribu hingga Rp 130 ribu, tergantung bobot hewan. Penitipan ini sering terjadi bila pemilik hewan sedang pergi dalam kurun waktu yang lama.

“Paling lama kan 1 bulan, paling cepat 2 minggu. Tergantung pemilik mau nitipin berapa hari,” jelas Sari.

Pondok ini juga dilengkapi dengan klinik hewan untuk memberikan perawatan dan pengobatan, serta terbuka untuk publik. Selain itu, terdapat juga pemakaman hewan maupun kremasi untuk hewan peliharaan yang telah mati.

Total, terdapat 9 pekerja di pondok ini dan merawat hewan secara swadaya. Sebagian besar di antaranya merupakan lansia dengan loyalitas tinggi karena telah bekerja puluhan tahun.

Selama ini, operasional perawatan hewan ini bersandar pada pasien maupun donasi. Pangan hewan, perawatan, hingga upah pekerja berasal dari sumber dana tersebut.

“Kalau di bawah pemerintah, enggak. Jadi kita tuh berdiri sendiri. Kami kan operasionalnya mencari sendiri,” pungkas Sari.