Kisah Porter Stasiun Tugu Yogya saat PPKM, Pilih Tidur di Stasiun untuk Berhemat
ยทwaktu baca 4 menit

Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB. Namun, Suratman (52) masih tak beranjak dari tempat duduknya. Hari ini, belum satu pun penumpang kereta di Stasiun Tugu Yogyakarta yang menggunakan jasanya sebagai porter.
Suratman dan rekan-rekan proter lainnya tetap tabah, meski terkadang harus pasrah di tengah keadaan yang makin tak jelas arah. Pandemi COVID-19 telah memberi dampak terhadap pekerjaannya.
Suratman adalah warga Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Sejak 1980, saban hari hidupnya di stasiun. Karirnya diawali sebagai petugas kebersihan hingga sekarang menjadi porter atau pramuantar.
"Saya sudah dari 1980 masuk stasiun sini. Sebelumnya nyapu-nyapu di sini, setelah itu saya dikasih kesempatan menjadi porter," kata bapak dua anak ini ditemui di Stasiun Tugu, Yogyakarta, Jumat (20/8).
"Pokoke sengsara karo sengsara (pokoknya sengsara dan sengsara)," ucapnya saat ditanya soal PPKM Level 4 yang diterapkan di Kota Gudeg ini.
Jika hidup adalah perkara bersiasat, maka Suratman paham betul. Dia harus bersiasat agar dapur tetap mengebul, agar kebutuhan anaknya di Wonosari juga tercukupi.
"Istri saya di Wonosari, kalau saya pulang biaya Rp 35 ribu sekali jalan. Kalau kaya gini saya lebih baik enggak pulang, tidur di stasiun di sini," ungkapnya.
Dia menjelaskan sebelum PPKM seperti ini, ia biasanya setiap hari pulang-pergi Wonosari-Stasiun Tugu.
"Dulu nglaju. Kan ini satu haru satu malam. Ini masuk besok 10 siang libur lagi. Untuk menghemat. Kedua perjalanan sana ke sini kan sayang jadi untuk makan sehari-hari. Terkumpul saya kirim sana (rumah)," ujarnya.
Untuk sementara waktu, taktik itu berhasil. Dia masih bisa mentransfer uang untuk keluarga di rumah. Meski konsekuensinya dia harus tidur berbalut udara dingin.
"Kalau ada uang ya saya transfer, anak minta pulsa saya kirimin. Saya (punya) putra dua, sudah nikah satu," ujarnya.
Suratman bercerita, hari ini ada dua mobil yang datang mengantar penumpang kereta. Tapi dia dan rekan-rekannya harus gigit jari. Si penumpang tak membawa banyak barang sehingga tak memerlukan jasanya.
"Belum dapat. Karena tidak ada barang," ujarnya.
Tarif angkut para porter ini sebesar Rp 20 ribu. Namun tak jarang penumpang memberikan lebih. Di hari sebelum pandemi, tiap porter bisa mengantongi penghasilan di atas Rp 100 ribu.
Namun, kini untuk mendapat Rp 60 ribu saja, mereka harus menunggu lebih lama. Kadang juga hingga larut malam.
"Sehari saya kan sering masuk jadi enggak pulang jadi dapat 2 kali 3 kali angkut. Jadi sehari sekitar Rp 60-an ribu," ujarnya.
Suratman menjelaskan sebenarnya jumlah penumpang sudah lumayan banyak sebelum kebijakan PPKM. Namun karena Juni ada lonjakan kasus corona, kebijakan pengetatan ini mau tak mau harus diambil pemerintah.
"Yang penting tlaten (ulet), sabar. Pasti dapat walaupun satu hari satu malam (menunggu)," jelasnya optimistis.
Suratman bersyukur mendapat sejumlah bantuan dari pemerintah juga pihak lain. Namun, bukan itu yang dia harapkan untuk jangka panjang. Dia ingin ekonomi Yogyakarta sebagai kota pariwisata kembali menggeliat.
Dia sadar nasib kurang baik saat ini tidak hanya menimpa dirinya, tetapi juga para pekerja informal lain. Seperti tukang becak, andong, dan lain sebagainya.
"Paling diharapkan kembali normal. Perputaran uang kan dari itu tadi. Hotel pada tutup juga kasihan. Tukang becak juga terdampak," ujarnya.
Sementara itu, Suroso (45), warga asal Sleman adalah rekan Suratman sesama porter. Dia sudah 7 tahun bekerja di sini. Kondisi pandemi ini menurut Suroso memaksa rekan-rekan lainnya mencari pekerjaan lain.
"Kita porter ada 100 dibagi 2 shift. Satu shift 50 orang. Sekarang paling yang berangkat 15. Lain cari kerja di luar ada di proyek (pembangunan), asal dapat penghasilan," kata Suroso.
Saat ini, operasional kereta belum banyak yang jalan. Jika dulu satu hari satu malam setidaknya ada 30 perjalanan kereta, kini menyusut hanya sekitar 8 perjalanan.
"Kereta belum banyak yang jalan. Ada aturan usia 12 tahun ke bawah kan belum boleh naik. Yang boleh 12 tahun ke atas dengan syarat sudah vaksin dan rapid antigen. Sepi. Satu rangkaian paling penumpang 100-an," ujarnya.
Lantaran mayoritas penumpang adalah pekerja, maka mereka tidak membawa banyak barang seperti wisatawan. Ketika penumpang tak membawa banyak barang otomatis jasa porter terabaikan.
"Kalau sekarang tidak bisa diprediksi (pendapatan sehari-hari). Yang pengaruh dari Jakarta, Bandung itu bawaannya banyak," ujarnya.
Suratman, Suroso, dan rekan porter lainnya tetap mengenakan blangkon, tak lupa masker dua lapis. Berjajar rapi menanti penumpang yang membutuhkan jasanya. Sembari berharap pandemi segera berlalu, dan kehidupan yang jauh lebih baik bisa direngkuh.
