Kisah Pria di Kulon Progo Iseng 2 Tahun Menata Batu & Jadi Tumpukan Mirip Candi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bangunan mirip candi karya Sunardi, warga Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bangunan mirip candi karya Sunardi, warga Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sunardi (50) tidak sedang kesurupan ajian Bandung Bondowoso. Dia tak berniat membikin candi untuk menaklukan hati pujaan hati seperti Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang.

Pria asal Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, DIY ini hanya iseng menata batu tak terpakai di lahan bekas tambang.

"Iseng-iseng saja menata (batu) biar rapi, tapi ternyata bentuknya malah kayak candi," kata Sunardi ditemui di lokasi, Sabtu (6/11).

Sunardi memang berprofesi sebagai penambang batu di dusunnya. Batu putih dia kumpulkan untuk kemudian dijual, biasanya batu jenis ini digunakan untuk pondasi bangunan. Sementara batu-batu kecil tak laku dijual.

Bangunan mirip candi karya Sunardi, warga Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

"Banyak batu yang tidak bisa dijual, batu kecil-kecil, yang kita jual yang besar. Batu jenis batu putih, batu kapur. Kadang buat pondasi tanggul juga bisa," ujarnya.

Di lokasi yang biasa disebut Gunung Dayakan itu total ada 12 bangunan mirip candi karya Sunardi. Dua buah di antaranya berukuran besar. Tinggi candi-candi ini antara 1,5 meter hingga 4 meter.

Bangunan mirip candi karya Sunardi, warga Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sejak dua tahun lalu, batu kecil yang berserakan dia tata dengan rapi. Namun, tak disangka lambat laun batu membentuk pola seperti candi. Sunardi menata batu ini sendirian, tanpa perekat seperti semen dan lain sebagainya.

"Sedikit demi sedikit. Cuma tata saja, nggak pakai semen. Saya (menata) sendirian. Ada yang bantu, ya, warga sini aja tapi cuma bantu ngumpulin batu saja," katanya.

Sunardi mengakui pasti ada orang yang berpikir dia kurang kerjaan. Namun ternyata sekarang buah karyanya mulai dilirik masyarakat. Banyak orang yang datang karena penasaran dan ingin berfoto ria.

Bangunan mirip candi karya Sunardi, warga Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

"Dari Dinas Pariwisata (Kulon Progo) sudah meninjau ke sini. Rencana akan dikelola Pokdarwis," katanya.

Rencananya hasil karya Sunardi ini akan dijadikan tempat wisata. Namun saat ini objek masih ditutup karena untuk penyempurnaan fasilitas seperti jalan.

Bangunan mirip candi karya Sunardi, warga Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

"Istilahnya belum sempurna karena tahap pembangunan sambil jalan. Tapi kalau ada yang datang foto-foto silakan tidak ada tarif," katanya.

Harapan Sunardi dan warga setempat lokasi daerahnya bisa jadi sumber ekonomi baru masyarakat. Selain itu, juga untuk mengenalkan tahu produksi Kaliwiru. Di dusun ini 90 persen warganya merupakan pengrajin tahu.

"Harapannya ekonomi masyarakat bisa jualan. Bisa mengenalkan tahu juga. Kuliner tahu juga, produk tahu bisa," ujarnya.

Bangunan mirip candi karya Sunardi, warga Dusun Kaliwiru, Desa Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sementara itu, Hiskia Dika warga Temon, Kulon Progo mengaku baru tahu ada lokasi menarik di kabupatennya. Menurutnya lokasi itu seharusnya bisa melengkapi Embung Kamijoro di bawahnya yang sering jadi tempat wisata.

"Bagus sih. Bisa jadi alternatif apalagi ini (dekat) dengan dengan Embung Kamijoro," katanya.

Di lokasi itu, pengunjung tidak hanya bisa menikmati bangunan karya Sunardi tetapi juga bisa melihat eloknya Sungai Progo yang berada di belakang bangunan. Namun memang lokasinya cukup jauh dari Kota Yogyakarta, pengunjung setidaknya membutuhkan waktu 1,5 jam menggunakan kendaraan pribadi.