Kisah Priyo, Penjual Kaset Pita Terakhir yang Bertahan di Pasar Beringharjo

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Priyo Sanyoto, satu-satunya penjual kaset pita di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (16/12/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Priyo Sanyoto, satu-satunya penjual kaset pita di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (16/12/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Di gang sisi utara Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, tampak seorang pria berkumis duduk di kursi besi. Di sampingnya berjajar kaset-kaset pita, tertata rapi di rak kayu dan meja. Dia adalah Priyo Sanyoto (68 tahun).

Di tengah hiruk pikuk gang selebar dua meter, Priyo sabar menanti pembeli. Meski terkadang tak ada satu kaset pun yang terjual dalam sehari, Priyo tetap menikmati pekerjaan yang dijalaninya sejak 1988.

"Kadang sehari ya blong (nggak ada yang beli)," kata Priyo, Selasa (16/12).

Walau terkadang hari tak mujur dan diliputi sepi pembeli, Priyo tetap menyambut baik setiap orang yang datang. Termasuk siapa pun yang sekadar mengajaknya ngobrol.

"Silakan difoto. Bebas boleh foto semua. Iya tinggal saya sendiri (penjual kaset di Beringharjo)," katanya.

"Ini (kaset) masih baru, tapi saya jualnya (harga) bekas," kata Priyo sembari menunjukkan kaset Light Classics Vol. 3 oleh Waldo de los Rios.

Priyo Sanyoto, satu-satunya penjual kaset pita di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (16/12/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Priyo mengeklaim semua kaset yang dia jual asli. Ini pula yang membuatnya masih bertahan. Lapaknya jadi tujuan para kolektor kaset dan pecinta musik jadul.

"Asli. Kolektor itu baru lihat sudah tahu ini asli," bebernya.

Ini berbeda dengan keping VCD yang dia jual. Ada beberapa yang diakuinya bajakan.

Dimulai 1988

Priyo mulai jualan kaset tahun 1988. Lokasinya di depan Mirota Batik tepatnya di bawah Gauk atau sirine penanda waktu di kawasan Malioboro.

Di tahun 2012 dia pindah di Beringharjo karena tak diperkenankan lagi lokasi itu buat berjualan.

"Tahun 2012 pindah ke sini," katanya.

Di depan Mirota Batik dahulu ada 20-an orang yang berjualan kaset. Seiring perubahan zaman, mereka beralih berjualan menyesuaikan pasar. Jualan kaset tak lagi laku.

"Sekarang tinggal saya sendiri. Yang lain alih profesi, ada yang jual kaus. Banyaknya jual kaus," katanya.

Priyo mengatakan masa kejayaannya di tahun 90-an sampai 2000-an. Kaset mulai tergeser semenjak kehadiran ponsel. Masyarakat banyak mengandalkan MP3 untuk mendengarkan musik.

"Kalah sama MP3," katanya.

Priyo Sanyoto, satu-satunya penjual kaset pita di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (16/12/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Kuliahkan 3 Anaknya

Di masa jaya, dari berjualan kaset ini Priyo bisa menyekolahkan tiga anaknya sampai perguruan tinggi.

"Anak saya tiga kuliah semua. Dari kaset," kata Priyo.

Namun, zaman keemasan kaset sekarang sudah pudar.

"Tidak bisa buat cari duit kaya zaman dulu. Untuk makan sendiri aja kurang," bebernya.

Priyo bilang berjualan kaset sekarang ini menurutnya hanya mengisi kekosongan di masa tua. "Buat hiburan," tuturnya.

Priyo Sanyoto, satu-satunya penjual kaset pita di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (16/12/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Diburu Kolektor Nusantara Hingga Malaysia

Salah satu yang membuat Priyo masih bertahan adalah kolektor yang masih kerap memborong kaset di kiosnya. Meski diakui ada tantangan tersendiri.

"Yang cari biasanya kolektor. Lagunya yang dicari yang angel-angel (susah-susah)," cerita Priyo.

Saat ini tak ada lagu-lagu baru dalam bentuk kaset yang dijual. Adanya lagu-lagu lawas. Beberapa kolektor memburu album dari band-band rock.

Kolektor dan pecinta musik ini datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan ada dari Malaysia. Mereka tahu dari mulut ke mulut atau kawannya yang pernah ke lapak Priyo.

"Kalimantan itu mesti. Kalau kota itu Bandung, Jakarta, Tangerang. Dari timur banyak Surabaya, Malang. Tapi golekane, yang dicari yang susah-susah," jelasnya.

Priyo Sanyoto, satu-satunya penjual kaset pita di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (16/12/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Untuk memenuhi permintaan kolektor, Priyo juga memburu atau hunting kaset-kaset sampai ke Pasar Kliwon hingga Klithikan. Di sana masih ada beberapa penjual kaset pita bekas. Ini diperlukan agar jumlah koleksi kaset Priyo tetap terjaga.

"Kaya Beatles itu carinya ya juga susah. Kalau campursari masih gampang nyari. Tapi kalau rock-rock agak susah," katanya.

Beberapa langganannya juga menitip ke Priyo untuk dicarikan album dari band tertentu.

"Ada (pelanggan) yang tiga tahun sekali ke sini atau lima tahun sekali ke sini," katanya.

Priyo bercerita saking tak umumnya request dari pelanggan, dia pernah kebingungan sendiri. Padahal ternyata dia memiliki album yang dimaksud.

Sementara musik-musik rock yang umum dicari pelanggannya seperti Beatles, Rollingstone, Muse, Queen. Untuk harga, Priyo menjual Rp 20-25 ribu. Bagi yang benar-benar langka Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Oleh kolektor kaset kerap dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi.

"Barangnya ini rutin saya bersihkan. Siap putar," kata Priyo mengunci perbincangan.