Kisah Rasulullah 'Mudik' dari Madinah ke Makkah
·waktu baca 3 menit

Mudik sudah menjadi tradisi turun temurun di Indonesia. Perayaan Hari Raya Idul Fitri pun menjadi momen masyarakat pulang ke kampung halaman masing-masing.
Di Indonesia, tradisi mudik tercatat sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit pada tahun 1200-an. Namun aktivitas itu hanya dilakukan oleh beberapa pejabat yang berkuasa di luar pusat kerajaan Majapahit.
Di suatu waktu, mereka kembali mengunjungi pusat kerajaan untuk menghadap raja, sekaligus jadi momen mereka mengunjungi kembali kampung halaman. Itu pun tak ada hubungannya dengan Idul Fitri.
Baru pada era Mataram Islam berkuasa pada 1500-an, momen pulang kampung dilakukan saat Lebaran tiba. Biasanya itu juga dilakukan oleh para pejabat kerajaan.
Nah, aktivitas pulang ke kampung halaman ini juga pernah dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah melakukan 'mudik' pada bulan Ramadhan di tahun ke-8 Hijriah.
Dari Madinah ke Makkah
Setelah sekian lama 'merantau' di Madinah, Rasulullah bersama 10 ribu anggota pasukannya kembali ke Makkah pada 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah atau bertepatan pada 8 Juni 630 Masehi. Meski begitu, niat 'mudik' zaman Rasulullah bukan sekadar mengunjungi keluarga ataupun silaturahmi.
Dikutip dari nu.or.id, Rasulullah melakukan 'mudik' dengan tujuan membebaskan dan menguasai kembali Makkah dari kaum musyrik Quraisy. Saat itu, Ka'bah dihalalkan untuk direbut kembali dari kekuasaan kaum musyrik.
Sebelumnya, Rasulullah hijrah ke Madinah — 450 km dari Makkah — lantaran adanya perlawanan besar dari kaum Quraisy. Kekejaman yang membabi buta memaksa Rasulullah untuk meninggalkan Makkah. Saat itu, kaum Quraisy berniat membunuh Rasulullah dengan tujuan agar dakwah yang dilakukan terhenti. Rasulullah pun meninggalkan Makkah selama 8 tahun lamanya.
Saat berada di Madinah, tingkat kerinduan dan kecintaan Rasulullah terhadap Makkah begitu menggebu. Ini dibuktikan lewat salah satu hadis sahih HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah.
Demi Allah, aku tahu bahwa kamu adalah tanah yang paling dicintai Allah, sekiranya orang-orang tidak mengusir saya, niscaya saya tidak akan pergi”.
[HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah]
Dalam buku 'Pengantin Ramadhan' (2015), disebutkan bahwa Rasulullah 'mudik' ke Makkah selama 19 hari. Dengan demikian Rasulullah dan para sahabatnya merayakan Idul Fitri ke-6 di kampung halaman. Perintah puasa di bulan Ramadhan sendiri diwajibkan mulai abad ke-2 Hijiriah.
Pesan untuk Memaafkan
Kembalinya Rasulullah bersama ribuan umat muslim untuk menduduki kembali Makkah dikenal dengan peristiwa besar yang disebut Fathul Makkah. Namun, perjalanan kembali ke tanah Makkah yang juga menjadi misi pembebasan itu terjadi tanpa pertumpahan darah.
Hal ini terjadi lantaran pimpinan kaum Quraisy, Abu Sofyan, pada saat itu tidak melakukan perlawanan apa-apa. Ia mengaku salah di hadapan Rasulullah. Bersama dengan iring-iringan takbir, rombongan Rasulullah bersama umat muslim ke kota Makkah berjalan dengan aman dan damai.
Ketika 'mudik' tersebut, Rasulullah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin. Rasulullah memaafkan semua musuh-musuh yang dulu menentang dakwah Islam.
Rasulullah juga menghancurkan semua patung berhala di area Ka’bah yang menjadi sesembahan warga Makkah. Total, ada 360 berhala yang dimusnahkan Rasulullah dan para sahabatnya. Termasuk tiga berhala yang paling terkenal dan paling besar; Hubal, al-Latta, dan al-Uzza.
