Kisah SD Negeri Purwosari Sleman Sulap 600 Galon Bekas Jadi Kebun Sayur

Ratusan galon bekas berjajar di sudut SD Negeri Purwosari, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman. Namun, benda yang biasanya berakhir sebagai limbah itu kini berubah menjadi pot untuk menanam aneka sayuran.
Ada cabai, tomat, terong, bayam, kangkung, kacang panjang hingga stroberi. Tanaman-tanaman tersebut dirawat langsung oleh para siswa.
Dari limbah dan lahan yang terbatas, sekolah ini mengenalkan kepada siswa bahwa pertanian dan ketahanan pangan dapat dilakukan di mana saja. Edukasi tersebut tidak hanya mencakup pertanian, tetapi juga perikanan dan peternakan.
Tak ada yang terbuang di SD Negeri Purwosari. Selain galon bekas yang dimanfaatkan sebagai pot, daun kering digunakan sebagai media tanam. Sementara sisa makanan dan limbah organik diolah menjadi pupuk.
“Tadi ini panen tomat sama timun,” kata Ilyas, siswa kelas 3 SD Negeri Purwosari, Kamis (1/10).
Ilyas mengaku senang bisa menanam di sekolah. Terlebih, beberapa tanaman yang dirawat bersama teman-temannya sudah dapat dipanen dan dimasak untuk dinikmati para siswa.
“Senang,” ujarnya.
Berawal dari Keresahan Kepala Sekolah
Kepala SD Negeri Purwosari, Zaenuri (42), mengatakan program tersebut dicetuskan pada Juli 2026. Program itu diberi nama Edukasi Ketahanan Pangan.
“Di SD Purwosari itu kita memang punya program edukasi, namanya Edukasi Ketahanan Pangan. Ini kita memberikan pendidikan tentang pertanian kepada anak-anak. Ini pendidikannya terpadu, jadi terintegrasi tidak hanya pertanian saja, tapi juga kita integrasikan dengan perikanan, kemudian juga peternakan juga,” kata Zaenuri.
Ide tersebut berawal dari persoalan limbah yang dihasilkan sekolah. Selain limbah organik dan nonorganik, sekolah juga menghasilkan limbah dari sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG).
SD Negeri Purwosari memiliki enam kelas. Setiap kelas rata-rata menghasilkan satu galon bekas setiap tiga bulan.
“Makanya dalam beberapa bulan itu terkumpul banyak ratusan galon. Kemudian kita kesulitan juga untuk membuang sampah organik. Maka kemudian tercetus terkait dengan edukasi ketahanan pangan ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Zaenuri melihat para siswa yang mayoritas tinggal di lingkungan perkotaan semakin jauh dari aktivitas pertanian. Ia juga resah karena tidak banyak anak yang bercita-cita menjadi petani.
Keresahan tersebut kemudian dibahas dalam rapat bersama paguyuban siswa dan guru. Hasilnya, pada tahun pelajaran 2026/2027, sekolah mulai menerapkan program Edukasi Ketahanan Pangan sebagai bagian dari diversifikasi kurikulum.
Program tersebut masuk dalam kegiatan kokurikuler dan pembiasaan siswa. Tujuannya bukan sekadar mengenalkan pertanian, perikanan, dan peternakan, tetapi juga melatih keterampilan serta perilaku siswa.
“Karena selama ini kan banyak pendidikan itu berbasis kelas, ya. Anak-anak hanya belajar tentang pengetahuan, tapi minim di keterampilan dan perilaku. Maka kemudian ini menjadi sumber belajar juga, termasuk nanti pembelajaran lintas disiplin ilmu,” katanya.
600 Galon Jadi Pot Tanaman
Kini sekitar 600 galon bekas telah dimanfaatkan sebagai wadah tanaman. Jenis tanaman disesuaikan dengan musim, mulai dari tomat, terong, cabai, kangkung, kacang panjang hingga tanaman lainnya.
Ke depan, sekolah juga berencana menanam padi sebagai bagian dari pembelajaran.
Menurut Zaenuri, keberagaman tanaman tersebut sengaja dibuat untuk memperluas pengalaman siswa dalam mengenal pertanian.
Program itu juga akan diintegrasikan dengan peternakan unggas dan perikanan lele. Sekolah ingin membangun sistem terpadu agar limbah dari satu sektor dapat dimanfaatkan untuk sektor lainnya.
“Tapi juga ini terintegrasi dengan peternakan ya. Kita ada peternakan unggas, kemudian ada perikanan lele yang nanti kita buat sebuah sistem terpadu. Jadi nanti sistem pertanian, perikanan, peternakan ini tidak ada zat terbuang. Semuanya berputar, dimanfaatkan secara siklus,” ujarnya.
Kolam lele juga dibuat dengan memanfaatkan galon bekas yang ditempatkan di salah satu sudut sekolah. Pengembangan sektor perikanan tersebut rencananya dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta.
Modal Nol Rupiah, Sudah Bisa Panen
Karena sebagian besar memanfaatkan barang bekas dan limbah yang tersedia di sekolah, program tersebut tidak membutuhkan modal khusus. Para orang tua siswa bahkan ikut menyumbangkan galon bekas untuk digunakan sebagai wadah tanaman.
Tanaman yang dirawat para siswa pun mulai menghasilkan. Beberapa jenis sayuran sudah dapat dipanen dalam waktu sekitar satu setengah bulan setelah ditanam.
Hasil panen kemudian dimanfaatkan kembali untuk kegiatan siswa, salah satunya cooking class.
“Biasanya digunakan para siswa, satu, untuk cooking class. Jadi setiap kelas itu nanti memprogramkan mereka tanam apa, lah nanti hasil panennya itu dimasak sesuai dengan tanaman yang ada,” kata Zaenuri.
Hasil panen juga dimanfaatkan sebagai hadiah dalam berbagai kegiatan sekolah. Misalnya, sayuran hasil tanaman siswa diberikan sebagai hadiah dalam kegiatan olahraga, peringatan Maulid Nabi, hingga peringatan HUT Kemerdekaan RI.
“Yang kedua, juga kita gunakan untuk hadiah, ya, karena ada event-event di sekolah itu misalkan ada event Haornas kemarin, kemudian Maulid Nabi, kemudian hari 17-an peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia itu untuk hadiahnya kita berupa sayuran yang hasil dari anak-anak untuk mengenalkan itu,” ujarnya.
Ke depan, sekolah berencana mengembangkan aspek kewirausahaan. Para siswa akan diajarkan membuat produk dan memasarkannya secara daring dengan pendampingan guru TIK.
Sekolah juga berencana menambah jenis tanaman dan mengembangkan teknologi pertanian. Salah satunya dengan membangun greenhouse agar kegiatan bercocok tanam dapat berlangsung tanpa terlalu dipengaruhi kondisi cuaca.
“Termasuk nanti insyaallah akan kita kembangkan teknologi pertanian. Kita akan buat apa namanya, rumah greenhouse, ya, yang nanti kita gunakan untuk penanaman itu sehingga nanti cuaca tidak bermasalah,” katanya.
Antusiasme Menular hingga ke Rumah
Pada awalnya, program ketahanan pangan tersebut belum terlalu menarik perhatian siswa. Namun, setelah berjalan, antusiasme mereka meningkat. Dukungan kemudian datang dari orang tua hingga masyarakat sekitar.
“Termasuk orang tuanya, bahkan masyarakat sekitar itu sangat mendukung sekali kegiatan ini. Dan berharap kegiatan ini bisa terus berkembang. Bahkan dari Dinas Pendidikan pun menginginkan bahwa kegiatan-kegiatan ini nanti bisa tidak hanya berkembang di SD kita, tapi nanti juga berkembang di sekolah-sekolah lain,” ujar Zaenuri.
Kebiasaan bercocok tanam juga mulai dibawa siswa ke rumah. Sekolah memberikan bibit kepada siswa untuk ditanam di lingkungan rumah masing-masing dengan pendampingan orang tua.
“Alhamdulillah ini ya untuk edukasi ini tidak hanya kita laksanakan di sekolah saja, tapi juga di rumah. Jadi pembelajaran itu juga ada penanaman di rumah. Jadi kita berikan bibit-bibit yang ada di sekolah walaupun itu bibit itu juga ditanam oleh anak, nah ini kita tugaskan di rumah nanti dipandu oleh orang tua melakukan penanaman yang nanti prosesnya itu dipantau oleh guru,” katanya.
Untuk menjaga antusiasme siswa, sekolah juga menyiapkan penghargaan pada akhir semester. Penilaian antara lain diberikan untuk tanaman terfavorit, tanaman tersubur, hingga tanaman dengan hasil paling lebat.
“Dan nanti ada kejuaraan-kejuaraan misalkan untuk tanaman terfavorit, tanaman tersubur, paling lebat, dan lain-lain, nanti yang di akhir semester akan ada reward untuk siswa-siswa yang memperoleh penghargaan tersebut,” pungkasnya.
