Kisah Tukang Bentor Berjibaku di Jalanan di Medan: Demi Biayai Kuliah Anak
ยทwaktu baca 3 menit

Ihsan masih bertahan di bawah terik matahari yang menyengat Kota Medan siang itu. Pria berusia 64 tahun ini masih bertahan menunggu penumpang di dekat becak motornya (bentor) yang mulai usang dimakan zaman.
Hari ini sepi penumpang. Ihsan bahkan ngaku sempat tertidur pulas sebab tak ada satu pun penumpang yang datang menggunakan jasanya.
Bentornya, yang jadi sumber rezeki, kondisinya sudah kurang terawat. Penutup atapnya sudah robek.
Ihsan biasa memulai harinya sejak pukul 09.00 WIB. Dari rumahnya di Patumbak dia langsung menuju sekitaran Medan Mal. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa sampai di lokasinya mangkal di Jalan Sutomo, Kota Medan.
Penghasilan yang diperoleh juga tidak selalu ada dan kadang tidak cukup untuk membeli kebutuhan yang lain. Asal buat makanan anak dan istrinya terpenuhi, bagi Ihsan sudahlah cukup.
"Sepi, kalau dipukul ratanya Rp 70.000 per hari, kadang dapat kadang nggak," kata Ihsan saat berbincang dengan kumparan, Selasa (18/8).
Menurutnya penghasilannya sepi karena saat ini banyak penumpang yang lebih memilih untuk naik ojek online.
"Namanya tukang becak, penghasilannya minim, dibandingkan dengan yang lain," ujar Ihsan.
"Udah jelas ngaruh kali (transportasi online), ini juga ada bajaj online," sambungnya.
Meski begitu, Ihsan tetap semangat mencari rezeki "Jalani aja lah," ujarnya.
Kuliahkan Anak dari Bentor
Hal yang sama dikisahkan oleh Risman, tukang bentor paruh baya berumur 65 tahun, yang tinggal di Pasar V Padang Bulan, Medan Selayang, Kota Medan.
Risman sudah menggeluti pekerjaan ini selama 40 tahun. Pria 4 anak sejak pukul 07.00 WIB pagi sudah bersiap mengejar rezeki.
"Setelah salat Subuh, sarapan baru berangkat dan sampai di sini jam 7," kata Risman saat berbincang dengan kumparan di Jalan KH Zainul Arifin, Medan, Selasa (19/8).
Sehari-hari dia bisa bisa membawa pulang uang Rp 30 hingga Rp 25 ribu. Kalau sedang ramai penumpang dia bisa mengantongi Rp 100 ribu.
"Semalam Rp 30 ribu, sekarang ini Rp 25 ribu, sarapan tadi Rp 10 ribu, jadi ini 15 ribu lagi nggak tahu jam berapa lagi dapat penumpang. Kalau nggak dapat, jam 5 pulang," katanya.
Meski penghasilan sehari-hari tak menentu, Risman tetap bersyukur. Sebab bentor ini bisa mengantarkan anak-anak mengenyam pendidikan. Bahkan anak bungsunya kini bisa duduk di bangku kuliah.
"Anak ada 4, 3 sudah berumah tangga. Jadi 1 lagi sedang kuliah biaya sendiri," ucapnya.
Tantangan bagi Risman saat ini adalah mulai banyak penumpang yang memilih menggunakan transportasi online. Penumpangnya kini sebagain besar orang tua yang tidak mau ribet pesan layanan online.
"Kalau sekarang udah ada online-online jadinya (pelanggan) ibu-ibu yang nggak bisa aplikasi. Anak-anak muda mungkin udah gengsi naik becak. Mau kerja apalagi sudah tua," katanya sambil tertawa.
Meski mulai ditinggalkan penumpang, Risman dan Ihsan tetap semangat menjemput rezeki di tengah kepulan debu jalanan Kota Medan.
