Kisah Unik Pengemudi Ojol Selama Ikut Demo Tarif Murah di Depan Istana

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peserta aksi demo Ojek Online (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Peserta aksi demo Ojek Online (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)

Driver ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gerakan Aksi Roda Dua Indonesia (GARDA) menggelar aksi di Taman Pandang Istana. Aksi unjuk rasa ini dilakukan oleh driver ojol yang terdiri dari Grab, GO-JEK, dan Uber sebagai bentuk penolakan isi Permenhub Nomor 108 Tahun 2017 dan menuntut supaya pemerintah melegalkan ojek online sebagai transportasi resmi.

Ada dua tuntutan yang disampaikan. Yang pertama soal kenaikan tarif per kilometer serta pengakuan legal eksistensi peranan dan fungsi ojek online sebagai bagian dari sistem transportasi nasional.

Namun, ada saja kisah menarik dari para driver ojol yang mengikuti aksi unjuk rasa. Berikut kumparan (kumparan.com) rangkum kisah mereka.

1. Kisah Ismi yang ikut demo tarif murah di depan Istana

Ismi Nurhadyah, Driver Ojek Online (Foto: Soejono Eben Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ismi Nurhadyah, Driver Ojek Online (Foto: Soejono Eben Saragih/kumparan)

Aksi unjuk rasa ini tidak hanya diikuti oleh pengemudi laki-laki. Ada juga pengemudi perempuan yang ikut turun ke jalan dan berunjuk rasa bersama dengan yang lainnya, salah satunya Ismi Nurhidayah.

Gadis berusia 19 tahun ini bercerita awal mula bergabung dan menjadi pengemudi ojek online. Seperti kebanyakan pengemudi lainnya, Ismi memilih untuk menjadi pengemudi ojek online sebagai pekerjaan sampingan selain kuliah dan menjaga mini market.

"Saya punya satu adik. Ayah juga kerjanya tidak tetap. Jadi saya inisiatif saja kemarin untuk sembari kuliah, sembari kerja, dan juga bantu orang tua," kata Ismi kepada kumparan.

Ismi Nurhadyah, Driver Ojek Online (Foto: Soejono Eben Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ismi Nurhadyah, Driver Ojek Online (Foto: Soejono Eben Saragih/kumparan)

Ismi bekerja dari pukul 08.00-19.00 WIB dan dapat membawa uang kurang lebih Rp 200 ribu. Banyak cerita yang ia dapat selama bekerja sebagai pengemudi ojek online, mulai dari kecelakaan saat sedang membawa penumpang hingga penumpang laki-laki yang menawarkan diri untuk mengemudi.

Selama aksi unjuk rasa berlangsung, banyak pengemudi lainnya yang mengajak foto bersama Ismi. "Tadi banyak, Mas, mau minta foto. Dulu juga penumpang minta foto. Ya wajah ini kan anugerah, mas. Kita enggak perlu risihlah, harus tetap humble," ujarnya.

Ismi berharap pemerintah segera menghapus tarif rendah, bonus tarif, dan memberikan perlindungan hukum kepada para driver ojek online.

"Aku setuju banget ya. Waktu aku pernah dapat promo dulu enggak dibayar, itu rasanya ya Mas enggak enaklah. Maunya dihapuslah promo itu karena saya dapat uang bantu keluarga hanya dari ngojek Mas," harap Ismi.

2. Kisah Dias yang Berdemo Sambil Jualan Kacang

Driver ojol yang jualan kacang saat berdemo. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Driver ojol yang jualan kacang saat berdemo. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)

Jika Ismi mendapatkan perhatian karena parasnya yang cantik, lain halnya dengan Dias (33), pengemudi ojek online asal Daan Mogot. Sembari menyuarakan tuntutan kepada pemerintah, aksi unjuk rasa dimanfaatkan oleh Dias untuk berjualan kacang.

Tas berbentuk kotak besar di gendong di punggungnya. Di belakang tas itu terdapat tulisan “Bertindak atau Tertindas”. Tangan kanannya membawa beberapa bungkus kacang. Sambil berjalan di antara massa aksi ojek online dia berteriak “Kacang... Kacang...”.

"Saya memang driver khusus Go Send. Jadi ini tas memang sengaja dibawa. Kalau ini kacang dititipin emak. Kata emak 'daripada nyopet lo tong di Monas, mending ini nih jualin kacang',” cerita Dias kepada kumparan.

Menurutnya tulisan yang ada di tasnya adalah bentuk aspirasinya dalam aksi kali ini. Ia juga mengatakan kehadirannya sebagai bentuk solidaritas sesama pengemudi ojek online.

Meskipun hari ini dia dan rekan-rekannya mogok menerima order, ia tidak khawatir penghasilannya akan berkurang. Menurutnya, hal ini bentuk dari solidaritas sesama pengemudi ojek online.

“Ya, enggak apa-apa, enggak narik sehari. Rezeki kan sudah diatur. Ini bentuk solidaritas juga. Kalau yang lain mau tetap narik ya enggak apa-apa sarannya sih buka atribut aja,” ujarnya.

Ia berharap setelah aksi ini akan ada penyesuaian tarif untuk setiap barang atau tumpangan ojek yang dibawa.

“Ya tarifnya disesuaikan, coba bayangkan kirim barang dari Monas sampai Depok di situ harganya cuma Rp 12.000,” ujarnya.

3. Kisah Iwang, Pengemudi Ojek Online Berhelm Boneka

Iwang si Ojol “Boneka”. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Iwang si Ojol “Boneka”. (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)

Penampilan unik ditunjukkan Iwang (20), pengemudi ojek online asal Daan Mogot saat mengikuti unjuk rasa bersama dengan rekan-rekannya. Iwang mengenakan helm berbentuk kepala boneka berwarna merah muda yang begitu nyentrik.

“Ini emang helm yang sering saya pakai kalau narik,” ujarnya kepada kumparan.

Karena helmnya yang begitu unik, banyak pelanggan yang suka minta foto bersamanya. Namun Iwang menolak jika hanya foto sendiri.

“Iya kata pelanggan luculah, pada minta foto. Tapi saya enggak mau kalau sendirian, maunya berdua. Apalagi kalau pelanggannya cakep, ya kan,” ujar Iwang sambil tertawa.

4. Kisah Budi Santoso, pengemudi ojek online yang tak masalah pulang tanpa uang asal tuntutan terpenuhi

Driver Ojek Online mulai berdatangan ke Monas (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Driver Ojek Online mulai berdatangan ke Monas (Foto: Fachrul Irwinsyah/kumparan)

Mengikuti aksi unjuk rasa berarti harus rela untuk kehilangan pendapatan hari itu. Namun Budi Santoso (35) tidak masalah dengan hal tersebut.

Budi mengatakan tidak masalah jika sehari tanpa mengambil pesanan yang berarti tidak membawa pulang uang. Budi sudah mengakali pemasukkannya untuk hari ini dengan hasil 'tarikan' kemarin malam.

“Uangnya langsung kasih istri,” ujar Budi kepada kumparan.

Budi yakin dengan begitu istrinya tidak akan marah meski seharian harus ikut demo. “Jadi istri tahu dan tidak masalah hari ini ikut aksi,” ujar Budi yang datang bersama 30 rekannya.