Kisah Warga Kampung Apung: Sumur Bau Karat, Bergantung 'Air Pikul'
·waktu baca 3 menit

Warga Kampung Apung Kapuk Teko di RT 10/RW 01, Kalideres, Cengkareng, Jakarta Barat, hingga kini masih mengandalkan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, kondisi air di kawasan itu sudah tidak layak konsumsi karena keruh, berwarna kekuningan, dan berbau karat.
kumparan mendatangi Kampung Apung Kapuk Teko pada Senin (27/10). Terlihat dinding-dinding MCK warga tampak menguning akibat endapan air kotor.
Saat air sumur ditimba, tercium aroma karat yang cukup menyengat. Warga pun harus menampung air itu di ember atau bak mandi yang perlahan berubah warna menjadi cokelat kekuningan.
Ketua RT 10, Rudi (55), mengatakan air tanah di kampungnya sudah tidak bisa digunakan untuk memasak sejak pertengahan 1990-an. Ia menduga kualitas air menurun karena terkontaminasi limbah dari kawasan industri di sekitar wilayah tersebut.
“Nah, (tahun) 90 pertengahan itu udah sama sekali nggak bisa digunain buat masak. Jadi udah mungkin bahasanya terkontaminasi. Sama mungkin ada bahan-bahan kimia dari perusahaan-perusahaan di sekitar sini gitu kan,” kata Rudi saat ditemui di lokasi.
Ia menjelaskan, meski tampak bening saat baru ditimba, air tersebut akan berubah warna setelah diendapkan.
“Nanti dia kelihatan kayak ada serbuk kuning. Kayak besi gitu, iya. Kayak besi gitu kuning-kuning begitu. Di ember aja yang buat nimba itu kelihatan. Tanah air-tanahnya tuh berkarat gitu,” ujarnya.
Karena itu, warga hanya menggunakan air sumur untuk mandi dan mencuci, sementara untuk minum dan memasak, mereka harus membeli air pikul dari pedagang air keliling seharga Rp 6 ribu per pikul. Dalam seminggu, satu keluarga bisa menghabiskan sekitar 4–5 pikul atau setara 200 liter air bersih.
“Kalau untuk air minum, air masak kita harus beli air isi ulang, air gerobak. Makanya dari dulu banyak warga itu minta pengajuan PAM. Itu untuk air bersih yang bisa dikonsumsi,” sambung Rudi.
Ia mengatakan, di wilayahnya terdapat sekitar 200 kepala keluarga (KK), dengan lebih dari 100 rumah. Dari jumlah itu, sekitar 120 warga sudah ber-KTP DKI Jakarta, sementara sisanya pendatang dari luar daerah yang menetap di kampung tersebut.
“Dari PAM saya pengajuan untuk instalasi PAM. Kita minta. Nanti ya mudah-mudahan sih nanti kan Pak Pram itu ngomong. Mungkin boleh dibilang janji nanti akan masuk PAM gitu kan,” katanya.
Warga lain, Usman (53), juga membenarkan bahwa mereka sudah didata oleh pihak PAM untuk pemasangan jaringan air bersih. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut.
“Iya, tapi katanya udah diajuin. Udah diajuin, udah didata semua. Cuman ya nggak tau keputusannya ada di soal nggak ada,” kata Usman.
Saat ditanya apakah dirinya ikut dalam pendataan tersebut, Usman mengiyakan.
“Ikut semua,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh sumur di kampungnya kini sudah tak layak digunakan.
“Semua udah kayak kena cemaran lah. Soalnya zat besinya tinggi,” kata dia.
Sebelumnya, warga Kampung Apung, Kapuk Teko, Muara Angke, terutama yang berdomisili di Kalideres dan Cengkareng, mengeluhkan kualitas air yang keruh dan tidak layak konsumsi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah menerima laporan tersebut dan memerintahkan Pemkot Jakarta Barat untuk segera menyalurkan bantuan air bersih.
“Air PAM juga enggak masuk. Ketika air keluar bening, tapi 20–30 menit kemudian keruh dan tidak bisa dikonsumsi,” demikian laporan yang disampaikan kepada Pramono saat peninjauan lahan di RS Sumber Waras, Jakarta Barat, Senin (27/10).
Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto, membenarkan laporan itu.
“Segera saya koordinasi dengan PAM untuk dikirimkan air bersih. Karena memang betul untuk Cengkareng dan Kalideres, kekurangan air bersih dan akses PAM masih dalam proses. Insyaallah dalam waktu dekat nanti masuk,” ujarnya.
