Kisah Warga Lampung Patungan Bangunan Sekolah: Atap Nipah, Dinding Kayu

Anak-anak Desa Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung, selama ini mengalami kesulitan untuk bersekolah. Bangunan sekolah yang tersedia jauh dari kata layak seperti bangunan sekolah pada umumnya.
Akses pendidikan yang sulit dijangkau membuat sebagian anak terpaksa belajar di rumah warga yang dipinjamkan. Kondisi tersebut mendorong para orang tua dan warga desa sepakat untuk patungan mendirikan sekolah tingkat dasar.
Warga yang mayoritas bekerja sebagai petani secara sukarela mengumpulkan uang demi mewujudkan berdirinya sekolah di kampung mereka. Dari hasil patungan tersebut, warga membeli sebidang lahan kecil untuk pembangunan sekolah.
Tepat pada tahun 2000, berdirilah sekolah yang dibangun melalui swadaya masyarakat. Saat itu, kondisi bangunan masih jauh dari kata layak karena hanya menggunakan material sederhana.
"Dulu tanahnya dibeli dari warga, kami patungan. Harganya waktu itu sekitar Rp1.500.000. Setelah itu dibuatkan surat, lalu dihibahkan kepada pemerintah," kata Tokoh Masyarakat Batu Nyangka, Junaidi, Senin (13/7).
"Bangunannya dulu beratap nipah, tiangnya dari kayu bulat hasil gotong royong masyarakat," ungkapnya.
Saat pertama kali dibuka, jumlah murid yang belajar hanya sekitar enam orang.
"Dulu ada enam anak," ujar Junaidi.
Seiring berjalannya waktu, warga kemudian mengganti atap sekolah dengan seng. Hal itu dilakukan karena saat siang hari para murid kepanasan di dalam kelas akibat bangunan tersebut belum memiliki plafon atau asbes.
Gaji Guru dari Orang Tua
Selain membangun sekolah, warga juga berupaya menghadirkan tenaga pengajar secara mandiri. Pada awal berdiri, guru didatangkan dari luar wilayah dan gajinya dibayar melalui iuran masyarakat.
"Dulu gurunya dari Gunungsari, ada dua orang. Kami yang membayar gajinya. Waktu itu sekitar Rp 100 ribu per bulan," katanya.
Guru pertama yang pernah mengajar di sekolah tersebut, Hayani, mengaku mulai mengajar di Batu Nyangka pada 2006.
Saat itu, kondisi sekolah masih sangat sederhana. Bangunan sekolah masih berdinding papan dengan atap dari daun kirai.
"Dulu miris sekali. Sekolahnya masih berdinding papan, atapnya juga masih daun," ujar Hayani.
Jumlah Murid
Hayani mengatakan, jumlah murid saat itu sudah mencapai sekitar 20 hingga 25 orang. Meski fasilitas masih sangat terbatas, semangat belajar anak-anak tetap tinggi.
"Masih ada buku-buku zaman dulu, walaupun sudah sobek-sobek," ucapnya.
Hayani kembali mengajar setelah diminta menggantikan guru sebelumnya. Ia mengaku senang bisa kembali mengajar dan melihat semangat anak-anak untuk belajar.
"Senang sekali. Jadi semangat kami tumbuh lagi, anak-anak juga ikut semangat belajar," katanya.
Namun, menurut Hayani, masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi agar proses belajar mengajar berjalan lebih maksimal. Salah satunya adalah ketersediaan buku pelajaran dan akses internet.
"Yang paling dibutuhkan itu buku dan internet. Di sini susah mendapatkan sinyal, padahal internet penting untuk menambah wawasan anak-anak," jelasnya.
Selain itu, ia berharap sekolah tersebut memiliki fasilitas pendukung, seperti proyektor dan tambahan koleksi buku pelajaran.
"Kalau bisa ada proyektor juga. Buku-buku masih kurang. Kemarin saya membawa satu kardus buku, tetapi tetap belum cukup," ujarnya.
Ke depan, Hayani berharap SDN 1 Tanjung Raja Kelas Jauh dapat terus berkembang dan memiliki guru yang menetap, sehingga anak-anak tidak perlu lagi pergi ke sekolah induk untuk menyelesaikan pendidikannya.
Harapan Warga
Selain fasilitas pendidikan, warga Batu Nyangka juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap pembangunan infrastruktur, khususnya akses jalan dan jaringan listrik.
Hayani mengatakan, kondisi jalan menjadi kendala utama bagi anak-anak, terutama saat musim hujan karena jalan menjadi licin dan sulit dilalui.
"Kalau hujan, jalannya licin. Kadang anak-anak tidak berangkat sekolah karena takut," ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah segera menghadirkan jaringan listrik di wilayah tersebut.
"Sejak saya masuk ke sini pada 2005 sampai sekarang masih gelap," ungkapnya.
Warga berharap perjuangan panjang masyarakat Batu Nyangka dalam menghadirkan pendidikan terus mendapat dukungan, sehingga anak-anak di wilayah tersebut memiliki kesempatan belajar yang lebih baik.
