Kisah Warga Rusun Tanah Tinggi: Hidup di Bawah Bayang-Bayang Bahaya Narkoba

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Rusun Tanah Tinggi Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Rusun Tanah Tinggi Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Suasana di Rusun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, tampak lebih sibuk dari biasanya, Rabu (14/5). Sebuah tenda putih berdiri tegak di lapangan badminton untuk menyambut kedatangan pejabat negara yang meluncurkan program kesehatan unggulan.

Begitu rombongan mobil pejabat berlalu, kehidupan warga kembali seperti biasa. Dari atas jembatan penghubung antarblok, seorang nenek melontarkan komentar, “Kirain mau ada berobat gratis. Ternyata gitu doang.”

Gubernur DKI Jakarta bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meresmikan layanan kesehatan warga jakarta di Rusun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta, Rabu (13/5/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Aktivitas harian pun berlanjut. Warung-warung kembali buka, emak-emak menenteng belanjaan menapaki anak tangga menuju unit masing-masing, dan lorong-lorong sempit minim pencahayaan kembali dipadati lalu-lalang penghuni.

Mujiwa (70) dan Sari (73) adalah dua lansia yang sudah puluhan tahun tinggal di rusun ini. Mereka menjadi saksi hidup dinamika warga yang menempati enam blok, masing-masing terdiri dari dua RT.

“Di sini mah kalau ada apa-apa enggak bisa cepet. Orang [adanya] tangga doang,” ujar Mujiwa.

Ia bercerita bahwa awal mula masuk rusun karena kerap terjadi kebakaran besar di kawasan Johar Baru. Saat pemerintah membangun rusun, warga sempat menolak keras. Namun akhirnya warga mengalah.

Gubernur DKI Jakarta bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meresmikan layanan kesehatan warga jakarta di Rusun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta, Rabu (13/5/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Banyak warga kini menempati unit milik sendiri. Dulu, harga satu unit sekitar Rp 50 juta. Kini, nilai jualnya bisa mencapai Rp 120 juta. Sementara bagi penyewa seperti Lisa (56), biaya sewa tahunannya Rp 12 juta sejak ia masuk tahun 1991.

Lisa tinggal di unit seluas 4x4 meter di lantai empat bersama dua anaknya. Ruang tidur dan ruang tengah menyatu. Tembok memisahkan area itu dengan dapur dan ruangan kamar mandi yang berada di samping. Ia mencari nafkah dengan berjualan kue, dibantu anaknya yang bekerja sebagai ojek online.

Kondisi unit Lisa (56), penghuni Rusun Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, Rabu (14/5/2025). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Menurut Lisa, kehidupan di rusun memang sederhana, tapi tak sepenuhnya lepas dari aktivitas ilegal—terutama peredaran narkoba.

Senada dengan Lisa, Ari (35), warga lain yang tinggal dengan ibunya, menyebut polisi kerap melakukan penggerebekan secara diam-diam.

“Polisinya pakai baju biasa, langsung ketahuan [tertangkap pelaku kejahatan narkoba],” kata Ari.

Soal narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) DKI Jakarta menempatkan Rusun Tanah Tinggi masuk zona bahaya penyalahgunaa narkoba, bersama belasan titik lainnya.

Selain narkoba, pencurian ponsel dan motor pun kerap terjadi di Rusun Tanah Tinggi. “Pak RW-nya sampai geleng kepala,” ujar Ari, tersenyum pahit.

Meski merupakan hunian sederhana yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sebagian besar penghuninya telah memasang WiFi pribadi untuk menunjang aktivitas harian. Adapun fasilitas umum seperti tempat sampah, masjid, dan area parkir, tersedia meski terbatas.

Ada dua akses masuk ke kawasan rusun, namun hanya satu yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Kedua gerbang akan ditutup pada pukul 22.00 WIB untuk memperketat keamanan.

Suasana Rusunawa Tanah Tinggi, Rabu (14/5). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Rusun Tanah Tinggi mulai dihuni sejak era 1970-an sebagai bagian dari program permukiman vertikal pemerintah. Lokasinya dulunya dihuni oleh warga dari permukiman padat dan rawan kebakaran.

Lokasinya strategis, dekat angkutan umum, pasar, dan stasiun.

Kawasan rusun ini sering dikunjungi pejabat untuk berbagai acara, mulai kegiatan sosial, program pelayanan masyarakat, hingga kampanye politik pada musim pemilu.