Kisah Widyaskara Buka Jalan Teman Disabilitas Jual Karya ke Pasar Digital

Keterbatasan mobilitas tak menyurutkan semangat penyandang disabilitas di Yogyakarta untuk mengembangkan kemandirian ekonomi.
Salah satunya adalah Widyaskara Wibowo (57) yang selama beberapa tahun ini mengembangkan digital marketing. Dia membantu sesama disabilitas untuk memasarkan dan menjual produknya secara daring.
"Ada makanan, ada kerajinan, ada macam-macam. Yang pasti semua dibuat oleh teman-teman disabilitas," kata Widyaskara ditemui saat pelatihan membatik di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Rabu (16/9).
Produknya di antaranya makanan emping, kerak nasi, hingga jajanan pasar. Lalu ada pula kerajinan boneka rajut hingga keset.
"Produksi teman-teman disabilitas semua. Produknya ada yang dari Bantul ada juga yang dari Seyegan, Sleman," katanya.
Digital marketing ini Widyaskara geluti sejak 2023 setelah mendapat pelatihan.
Dia juga berupaya agar produk para disabilitas ini bisa dijual di Sunmor UGM dan Sultan Agung.
Peluang Dunia Digital
Widyaskara mengatakan dunia digital adalah salah satu peluang bagi penyandang disabilitas.
"Peluangnya sangat besar. Peluangnya sangat besar. Kenapa? Karena kita bisa mengangkat nama kita dengan jangkauan yang jauh lebih luas," katanya.
"Kita tidak perlu artinya mungkin harus sewa stan, harus sewa apa, tapi kita secara online bisa memperkenalkan produk kita," bebernya.
Pola kerja ini juga memudahkan karena penjual tidak perlu bermobilitas keluar rumah.
"Makanya saya membuat Difakreasi Mandiri artinya juga itu saya membantu teman-teman untuk bisa memasarkan produk-produk mereka. Karena terus terang teman-teman juga banyak yang memiliki keterbatasan dalam dunia digital marketing," katanya.
Selama ini, Widyaskara selalu aktif mengikuti sejumlah pelatihan, termasuk membatik seperti saat ini. Harapannya, ini jadi peluang bisnis yang baru.
"Saya dan beberapa teman sudah sepakat kita akan berkumpul di satu sekretariat. Kita akan melakukan kegiatan membatik bersama di sana dan nanti kita akan pasarkan secara online," katanya.
Seriusi Membatik
Nuryati (49), peserta pelatihan lainnya, mengatakan selama ini dia bekerja sebagai penjahit di rumah. Melalui pelatihan membatik ini, dia berharap memiliki skill baru.
"Baru kali ini nih (latihan membatik). Seru tapi cuma masih kurang konsen," kata Nuryati.
Nuryati berencana akan serius dalam membatik. "Insyaallah. Tadi kan udah dapet alat, jadi nanti di rumah bisa buat belajar lagi," ujarnya.
