Kisruh di Demokrat Jember, Ketua Digeruduk Anggota
·waktu baca 2 menit

Try Sandi Apriana, Ketua DPC Demokrat yang juga menantu Bupati Jember Hendy Siswanto, dikudeta oleh anggotanya karena dinilai menjadi penyebab kekalahan Demokrat.
29 dari 31 Ketua PAC Demokrat Jember (2 sisanya masih PJ)—beserta pengurusnya mendesak DPP Demokrat dan DPD Demokrat Jatim memecat Try.
"Try Sandi tidak amanah dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua dan tidak memberikan kontribusi apa pun kepada Demokrat," kata Sekretaris DPC Demokrat Jember, Mashudi, Minggu (18/2).
Awal Mula Kekesalan
Awal mula kekesalan para pengurus Demokrat Jember terhadap Try adalah ketika H-1 malam pencoblosan, para pengurus ini mendapat rapat persiapan Pemilu.
"Anehnya Try Sandi justru tidak muncul dalam rapat tersebut. Kami menunggu dari jam 7-9 malam. Awalnya sih saat ditelepon bilangnya on the way namun tidak muncul-muncul malah setengah jam kemudian hpnya tidak bisa dihubungi lagi," kata Mashudi.
"Kita datangi rumahnya di jalan Gajah Mada, di Pendopo Bupati karena dia kan juga menantunya Pak Hendy, ternyata enggak ada. Enggak tahu sembunyi di mana. Ditunggu hingga jam 4 pagi tetap enggak muncul, akhirnya kami membubarkan diri," lanjut Mashudi.
Dana Tidak Cair, 7.600 Orang Menolak Jadi Saksi
Persoalan lain, menurut Mashudi, adalah soal tidak transparannya penggunaan anggaran partai, terutama dana saksi dari DPP sebesar Rp 100 ribu per saksi.
"Para pengurus PAC ini meminta agar dana saksi dicairkan H-1 namun tidak dikabulkan oleh Try Sandi yang bilang dana diberikan setelah menyerahkan surat C-hasil. Ya otomatis saksi-saksi kecewa. Hasilnya di Pemilu ya mengecewakan," ujar Mashudi.
"Kita bukan minta uang pribadi Ketua DPC (Try) tapi uang saksi dari DPP yang memang sudah ditransfer ke DPC, apa susahnya toh?" kata Mashudi.
Dari persoalan ini, kata Mashudi, sebanyak 7.600 lebih saksi yang sudah disiapkan menolak untuk menjadi saksi.
"Hanya sekitar 1.119 saksi yang bekerja. Akibatnya ya pengaruh pada suara. Sebab 1 saksi kita tugaskan membawa 5 orang, dan itu gagal," kata Mashudi.
Dana Banpol pun Dipersoalkan
Persoalan keuangan lainnya, menurut Mashudi, yakni soal dana banpol dan iuran fraksi.
"Harusnya ada pertanggungjawaban yang jelas. Uang banpol dimakan sendiri, uang iuran fraksi juga dipegang Ketua DPC (Try). Kalau pemimpin bobrok seperti ini enggak dipecat, kasihan Demokrat," kata Mashudi.
"Tidak ada itu bimtek saksi misalnya, atau pendidikan partai, tapi anggarannya habis," ujar Mashudi.
Kata Try
Try tidak menjawab panjang pertanyaan wartawan soal kisruh Demokrat di wilayahnya ini.
"Ngapunten biar Pemilu ini beres dulu ya," kata Try.
