Kisruh Dualisme Kepengurusan, Bandung Zoo Tutup Sementara dan Dijaga Polisi
·waktu baca 2 menit

Kebun binatang Bandung atau Bandung Zoo, di Jalan Taman Sari, ditutup untuk sementara akibat adanya keributan antara manajemen lama dan baru pada Rabu (2/7) malam.
Dari pantauan kumparan di lokasi, Kamis (3/7), terlihat beberapa mobil dari Polrestabes Bandung yang berjaga di depan pintu masuk. Sementara itu, beberapa pengunjung yang sudah datang ke lokasi merasa kekecewaan saat diberi tahu ada info penutupan.
Humas Bandung Zoo dari Yayasan Margasatwa Taman Sari (YMT), Sulhan Syafi’i yang merupakan manajemen lama mengatakan, penutupan dilakukan untuk menghindari para pengunjung dari ketidaknyamanan karena banyaknya petugas keamanan yang tengah berjaga.
“Kita hari ini tutup tanggal 3 Juli 2025 karena ada beberapa hal, misalnya sekarang di dalamnya terlalu banyak sekuriti jadi nanti pengunjung akan tidak nyaman terus di dalam juga ada yang tidak beres yaitu kita serikat pekerja mengambil alih keuangan Bandung Zoo,” tutur Sulhan Syafi'i saat ditemui di lokasi.
Sulhan menuturkan, perselisihan terjadi saat manajemen lama Bandung Zoo ingin mengambil alih keuangan, kemudian tiba-tiba datang seorang dari manajemen baru yang mengaku bahwa dirinya adalah pemilik sah. Akhirnya, terjadi dorong-dorongan antara karyawan dan petugas keamanan.
Akibat dualisme kepengurusan ini, Sulhan mengakui, terdapat tujuh hewan yang mati karena adanya perbedaan dalam perawatan.
“Ada tujuh (satwa mati) , sejak mereka masuk karena dualisme ini, jadi perbedaan arah manajemen ini membuat di handapnya kacau,” ungkapnya.
Sementara itu, Humas Bandung Zoo manajemen baru Ully Rangkuti mengaku tidak mendapatkan informasi atas penutupan kebun binatang. Ia juga enggan berkomentar atas keributan dualisme kepengurusan.
“Sejujurnya kami, manajemen yang sekarang mengelola ini tidak tahu menahu tentang penutupan, baru tahu tadi pagi dari media sosial Bandung Zoo itu kemudian kami apa ya, kami belum minta keterangan dari manajemen yang lama karena ini lakukannya oleh manajemen lama, kami tidak punya akses sama sekali ke media sosial dan website sejak awal,” ucapnya di lokasi yang sama.
Disinggung soal adanya tujuh satwa yang mati, Ully mengatakan kematian satwa bukan karena salah kelalaian, melainkan faktor usia dan cuaca, serta sebab lainnya.
“Memang ada, kami sudah sampaikan ya sebelumnya mungkin ya. Ada satwa-satwa yang mati, itu penyebabnya sebagian besar karena usia dan cuaca. Ada juga memang ada sebab lain, tapi itu sudah kami menyampaikan ke BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Sudah diperiksa juga oleh BKSDA. Sudah ada BAP-nya,” terang dia.
