Kisruh Fahri Hamzah dan Sohibul Iman yang Tak Berujung

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)

Permasalahan antara Fahri Hamzah dan Presiden PKS Sohibul Iman terkait kursi pimpinan DPR terus berlanjut. Kedua politikus tersebut terus terlibat perang urat syaraf.

Hal tersebut bermula saat Presiden PKS Sohibul Iman kembali mengungkit soal kursi pimpinan DPR. Ia menganggap kursi pimpinan DPR yang kini diduduki Fahri merupakan jatah PKS.

“Ya itu namanya hak kita, ya kita sampaikan dong,” kata Sohibul usai menggelar pertemuan dengan pengurus Gerindra dan PAN di kediaman Prabowo Subianto, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (1/3).

Fahri telah dipecat dari PKS pada 2016. Saat itu, Fahri dianggap telah melangar banyak aturan partai serta terlalu membela Ketua DPR saat itu, Setya Novanto yang terkena kasus "Papa Minta Saham", atau dugaan upaya minta-minta jatah terkait proyek Freeport.

Meski diterpa berbagai tudingan dari PKS, Fahri berhasil bertahan sebagai anggota dan Wakil Ketua DPR. Hal itu terjadi setelah ia menggugat keputusan PKS di pengadilan dan memenangkannya.

Mendengar Sohibul mengungkit kembali persoalan kursi pimpinan DPR itu, Fahri tidak tinggal diam. Justru, ia menyerang balik Sohibul, yang dinilainya telah membawa PKS ke jalan yang salah. Pelanggaran terbesar PKS di mata Fahri terkait keputusan pengusungan calon kepala daerah di sejumlah wilayah.

"Sekarang PKS telah kehilangan basis lamanya di Jawa Barat dari gubernur kehilangan Deddy Mizwar, Sumut gubernur tidak punya calon kader, dari Maluku Utara pecah, dan lain-lain. Ini akan berakibat buruk bagi pemilu legislatif yang akan datang," kata Fahri.

"Maka untuk keselamatan PKS, Sohibul Iman, mundurlah," tambah Fahri.

Namun, perang kata-kata di antara dua orang tersebut tidak hanya terkait masalah kursi pimpinan DPR. Belum lama ini, Fahri dan Sohibul juga saling kritik terkait dugaan dukungan PKS kepada Presiden Joko Widodo di masa mendatang.

Hal tersebut terungkap saat Fahri mengomentari sebuah video berisi pidato Sohibul. "Menurut Harian Terbit, 17 orang yang sudah ngantre menjadi calon Wakil Presiden Jokowi, dan kalau kita kemudian masuk menjadi Wakil Presiden Pak Jokowi, kita berarti di urutan yang ke-18," kata Sohibul pada pidato itu.

"Tapi antum jangan pesimis, siapa tahu Pak Jokowi melihat, PKS potensial paling atas," tambah Sohibul.

Melihat video tersebut, Fahri gatal untuk ikut mengomentari. Komentarnya ia muat pada akun Twitternya.

"Saya pagi-pagi berisitigfar kepada Allah, malu mendengar pidato presiden partai yang saya banggakan seperti ini. Nampak sekali pandangannya matrialistis. Politik tidak dilihat dengan Bashirah, mata batin yang tenang dan berwibawa. Astagfirullah," tulis Fahri.

Presiden PKS, Sohibul Iman (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Presiden PKS, Sohibul Iman (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Kepada kumparan, Sohibul langsung mengklarifikasi. Ia menilai pidato yang dikomentari Fahri tak utuh.

"Saya tidak tahu apakah dia (Fahri) tahu atau tidak (video Sohibul dipotong), tapi seorang Wakil Pimpinan DPR tidak patut teledor seperti itu, sangat gegabah kasih komentar dan share sesuatu yang nyinyir," kata Sohibul.

Namun, momen kemarahan Fahri kepada Sohibul mencapai puncaknya saat Presiden PKS itu mengungkit kursi pimpinan DPR. Fahri berniat membawa persoalan itu ke ranah hukum.

"Insyaallah, saya lagi siapkan berkas-berkasnya karena menuntut saya pelanggaran UU yang dilakukan oleh pimpinan PKS ini sudah agak fatal. Jadi, saya akan terpaksa menggunakan kembali media pengadilan untuk tuntutan pidana. Kalau kemarin kan tuntutan perdata, kalau sekarang ini tuntutan pidana. Cukup bukti buat saya menyeretlah," kata Fahri.

Dengan babak baru perseteruan ini, pertentangan Sohibul dan Fahri belum berakhir.