Kiswah: Kain Penutup Kakbah yang Menjadi Hadiah

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Rombongan Raja Salman di Masjid Istiqlal. (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rombongan Raja Salman di Masjid Istiqlal. (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

Usai menjalankan salat tahiyatul masjid di Masjid Istiqlal, pemimpin Kerajaan Arab Saudi Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud memberikan cinderamata kepada imam besar masjid. Raja Salman memberikan pihak Masjid Istiqlal sehelai Kiswah, kain hitam yang digunakan untuk menutup Kakbah.

Pilihan Raja Salman untuk memberikan kiswah memiliki arti besar yang erat kaitannya dengan identitas Kerajaan Arab Saudi sebagai pemelihara dua kota suci umat Islam. Alasannya tidak sesederhana bahwa Kiswah hanya ada di Arab Saudi, tapi juga makna yang melekat dalam Kiswah tersebut.

Kiswah, tirai penutup Kakbah (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Kiswah, tirai penutup Kakbah (Foto: Wikimedia Commons)

Kiswah menjadi bagian penting dalam sejarah Islam. Kain ini menjadi menutup Kakbah yang menjadi kiblat ibadah umat Islam.

Dalam buku Sejarah Kakbah yang ditulis dengan Professor Al Husni Al Khurtubi, Kiswah memiliki sejarah yang tidak bisa dipisahkan dengan perjalanan Kakbah menyintas zaman. Kisah-kisah Islam di masa lampau yang dicatat oleh Ibnu Bathuta dan Ibnu Fadhilah al-Umari pernah menyebutkan Kiswah sebagai kemuliaan.

Sehingga, kain ini memiliki citra yang berkaitan erat dengan Kakbah tersebut. Ada makna kesucian yang tersemat dalam kain setinggi 14 meter ini. Sehingga, pembuatan Kiswah oleh pemerintah Arab Saudi tidak main-main ketika mengurusi tirai yang menutupi kiblat suci umat Muslim.

Mengutip dari Arab News, rantai produksi yang dijalankan untuk membuat selembar Kiswah tidak sembarangan. Setidaknya ada 100 orang dikerahkan untuk menjalani seluruh rangkaian proses. Mulai dari produksi kain, penjahitan, bordir, dan pewarnaan.

Kakbah, kiblat umat Muslim (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Kakbah, kiblat umat Muslim (Foto: Wikimedia Commons)

Dahulu, kain Kiswah dijahit di Yaman. Kemudian penjahitan dipindah di Makkah dan dikelola oleh Pemerintah Arab Saudi.

Perayaan rutin pergantian Kiswah dilakukan saat musim haji. Setelah memiliki sentra produksi di Makkah, prosesi pergantian dilaksanakan oleh Kerajaan Arab Saudi. Pada 1924, ketika Raja Arab Saudi saat itu masuk ke Makkah, sang Raja mengutarakan janjinya untuk selalu mengurus Kiswah Kakbah.

Kiswah diganti setiap 9 Dzulhijah atau saat Hari Arafah tiap tahunnya. Perayaan pada masa Nabi Muhammad awalnya berupa arak-arakan kain dari Yaman. Kemudia nlokasi penjahitan sempat berpindah ke Mesir sejak Kesultanan Turki Utsmani bertanggung jawab menjaga Kakbah.

Kiswah baru menjadi hadiah setelah kain yang lama tidak lagi terpakai. Kain Kiswah yang lebar dipotong-potong menjadi berbagai ukuran. Kiswah menjadi hadiah yang berharga bagi siapa pun yang menerima.

Keputusan terkait siapa yang akan diberi Kiswah bergantung pada kebijakan Kerajaan Arab Saudi. Pemberian juga tidak selalu kepada wakil negara. Perwakilan PBB pernah menerima kain Kiswah dari delegasi Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1982 dan 2015.

Tujuan pemberian hadiah kain Kiswah ingin menunjukkan identitas Islam yang juga melekat pada Kerajaan Arab Saudi.