kumparan
16 November 2017 7:50

Klarifikasi Ananda Sukarlan soal Aksi Walkout saat Pidato Anies

Anies Baswedan di acara Kanisius (Foto: Instagram Anies Baswedan)
Alumnus Kolese Kanisius Ananda Sukarlan memberikan klarifikasinya terkait aksi walkout saat acara peringatan 90 tahun Kolese Kanisius, Sabtu (11/11) lalu, yang dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Klarifikasi itu disampaikan Ananda melalui dua buah video di akun Instagramnya pada Selasa (14/11).
ADVERTISEMENT
Aksi walkout Ananda ketika Anies berpidato mengundang perhatian publik sebab aksi itu diikuti oleh ratusan alumni dan tamu undangan lain yang hadir. Namun, Ananda mengaku, aksi tersebut merupakan inisiatifnya sendiri tanpa mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama.
"Walkout itu adalah murni inisiatif saya, jadi saya enggak memprovokasi siapa-siapa. Saya walkout dengan sangat sopan karena saya tahu bahwa itu saya pasti akan mengganggu. Jadi saya berusaha, ya bayangin aja kalau anda misalnya lagi ada di bioskop terus pengen keluar mau ke toilet, kan gimana, kan enggak mau mengganggu orang lain," ujarnya.
Loading Instagram...
Loading Instagram...
Ia juga memberikan klarifikasi terkait pidato yang disampaikannya ketika Anies sudah undur diri dari acara tersebut. Ananda menekankan, pidato itu ditujukan untuk panitia penyelenggara acara tersebut, bukan pihak yang lain mana pun.
ADVERTISEMENT
"Pidato saya itu benar-benar 100 persen mengritik panitia penyelenggara acara tersebut, bukan mengritik siapa-siapa lagi. Dan pada saat saya pidato, pada saat itu Gubernur Jakarta sudah tidak ada di tempat," kata pianis dan komponis itu.
Sebelumnya, dalam keterangan tertulis Senin (13/11) lalu, Ananda mengatakan bahwa panitia acara telah mengundang seseorang yang bertentangan dengan nilai-nilai Kanisius. Tidak cukup jelas siapa orang yang dimaksud Ananda, namun banyak yang menduga bahwa yang dimaksud Ananda adalah Anies Baswedan.
Aksi walkout dan pidato Ananda kemudian mengundang pro dan kontra. Beberapa pihak menyayangkan aksi Ananda tersebut, di antaranya budayawan Eros Djarot, rohaniawan Katolik dan budayawan Franz Magnis-Suseno, dan Perhimpunan Alumni Kolese Kanisius Jakarta (PAKKJ).
"Apa yang terjadi kemudian--bukan salah Panitia!--menurut saya memalukan dan sangat saya sesalkan. Yaitu, begitu Gubernur bicara, sebagian besar hadirin, mengikuti Bapak Ananda Sukarlan, meninggalkan ruang. Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walkout dapat dibenarkan,” jelas Franz Magnis-Suseno.
ADVERTISEMENT
“Tetapi walkout kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik," tambahnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan