KLH Ungkap Kronologi Penemuan Cesium di Sejumlah Produk Cengkeh Indonesia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono dalam konferensi pers di Plaza Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono dalam konferensi pers di Plaza Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono membeberkan kronologi lengkap penemuan dan penanganan cengkeh asal Indonesia yang terkontaminasi radioaktif Cesium 137

Ia menyebut kasus ini berawal dari temuan otoritas Amerika Serikat pada akhir September dan kini tengah dalam tahap akhir pemusnahan oleh pemerintah Indonesia.

"Jadi mungkin mau saya jelaskan secara kronologis aja pada awal ya, tahun ini kan bermula pada tanggal 28 September yang lalu ya. Waktu itu ditemukan kandungan CS 137 ini di produk cengkeh. Ini yang ada, yang dari Indonesia, ini ditemukan oleh FDA dari Amerika," ujar Diaz dalam konferensi pers di Menara Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/11).

28 September : Temuan Cengkeh Terkontaminasi

Kasus bermula saat Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menemukan kandungan Cs-137 pada produk cengkeh yang diimpor oleh PT Natural Java Spice (NJS) dari Surabaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar cesium mencapai 732,43 Bq per kilogram, di bawah ambang batas aman yang ditetapkan FDA yakni 1.200 Bq/kg. Namun, FDA tetap memutuskan untuk mengembalikan produk tersebut ke Indonesia.

1-3 Oktober: Inspeksi Awal

Menindaklanjuti temuan itu, Satgas Penanganan Cs-137 dari pemerintah Indonesia langsung melakukan inspeksi ke pabrik PT NJS di Surabaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan kontaminasi Cs-137 di fasilitas tersebut. Tim kemudian melanjutkan verifikasi ke sejumlah perkebunan pemasok cengkeh di Pati (Jawa Tengah), Lampung Selatan, dan Pesawaran (Lampung).

"Nah sebenarnya ini seharusnya masih di bawah batas intervensi, batas aman ya yang ditetapkan FDA itu sendiri, itu adalah 1.200 Bq per kilogram. Jadi seharusnya masih di bawah, tapi dia langsung masih aja kembalikan ke Indonesia," kata Diaz.

8-11 Oktober: Verifikasi Lapangan

Hasil investigasi lapangan di ketiga daerah itu menyimpulkan tidak ada indikasi kontaminasi radiasi di lokasi-lokasi perkebunan.

"Perkebunan di ketiga kabupaten ini dinyatakan BAPETEN sudah clean and clear," kata Diaz.

Pekerja menjemur cengkih di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawaesi Selatan, Kamis (3/9/2020). Foto: Arnas Padda/Antara Foto

Dias menjelaskan, Tim Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) juga mengambil sampel bunga cengkeh, kakao, dan tanah dari delapan titik untuk dianalisis di laboratorium.

"Dari 8 titik di kebun cengkeh ini di Lampung Selatan dan Pesawaran untuk kemudian dianalisis, untuk kemudian dianalisis di laboratorium green," ujarnya.

25 Oktober: Temuan Paparan Radiasi

Lebih lanjut, Diaz menjelaskan paparan radiasi Cs 137 justru ditemukan di pemakaman umum Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, dengan tingkat radiasi 1,05–1,3 mikrosievert per jam, melebihi ambang batas alamiah 0,5 mikrosievert per jam.

Pemerintah kemudian melakukan langkah sementasi di area tersebut, yang menurunkan kadar radiasi menjadi 0,11-0,18 mikrosievert per jam, sehingga dinyatakan aman.

"Jadi atas pertimbangan dari BAPETEN dan BRIN, tim kemudian melakukan penyemenan, jadi disemen di titik ini, dan hasilnya radiasinya turun dari 1,05 sampai 1,30 ke 0,11 sampai 0,18, jadi turun setelah disemen," terang dia.

1 November: Cengkeh Tiba di Tanjung Perak

Lalu, Diaz menuturkan, kontainer berisi 21,6 ton cengkeh hasil pengembalian dari Amerika tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dari jumlah itu, 13,5 ton di antaranya terindikasi terkontaminasi Cs 137 dengan paparan 0,02–0,12 mikrosievert per jam, masih di bawah batas aman BAPETEN.

"Dan setelah diperiksa, ada 13,5 ton di antaranya suspect terkontaminasi CS 137 dengan paparan 0,02 sampai 0,12 mikroseviat. Walaupun sebenarnya radiasi ini masih di bawah ambang batas yang ditetapkan BAPETEN," ucap Diaz.

4 November: PT NJS Melimpahkan Cengkeh

Diaz menuturkan, PT NJS menyatakan kesediaan untuk melimbahkan 13,6 ton cengkeh terpapar radiasi tersebut untuk dimusnahkan. Pemerintah melakukan dekontaminasi kontainer menggunakan metode kering (dry method) dan memindahkan seluruh cengkeh ke gudang PT NJS di Benowo, Surabaya.

Diaz menegaskan, langkah terakhir yang kini disiapkan adalah pemusnahan seluruh cengkeh yang terkontaminasi.

"KLH bersama BRIN dan BAPETEN akan memulai proses pemusnahan cengkeh yang terkontaminasi Cs-137 sebesar 13,6 ton ini," ujarnya.