KLHK: Hujan Besar di Kalsel Hanya Terjadi 100 Tahun Sekali

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah relawan menggunakan perahu karet membantu evakuasi warga yang terdampak banjir di Desa Kampung Melayu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (15/1). Foto:  Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah relawan menggunakan perahu karet membantu evakuasi warga yang terdampak banjir di Desa Kampung Melayu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (15/1). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan sejak Senin (11/1). Banjir dipicu oleh tingginya curah hujan di awal tahun 2021.

Berdasarkan data BMKG dari 9 sampai 13 Januari 2021, curah hujan mencapai 461 mm selama lima hari atau 8-9 kali lebih tinggi dibandingkan pada 2020.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kemudian memberikan tanggapan terkait tingginya curah hujan di Kalsel. Mereka menyebut curah hujan tinggi ini cukup langka.

"Kalau kita melakukan periode ulang hujan sebesar itu di daerah Kalsel itu ternyata terjadi hampir 100 tahun sekali. Jadi biasanya periode ulang dipakai untuk menghitung bendungan dan biasanya perhitungan bendungan biasanya menggunakan nilai yang maksimum,'" kata Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai KLHK, Saparis Soedarjanto, Selasa (19/1).

"Semakin lama periode ulang semakin besar debit hujan yang masuk," tambah dia.

Ilustrasi hujan. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Saparis menuturkan, hasil hitungan mereka, seharusnya tinggi debit air hujan dapat dicover oleh tiga aliran DAS satu di Maluka dan dua di Barito. Tetapi akibat tingginya curah hujan, air tidak bisa ditampung.

"Jadi debit banjir ini yang kita hitung itu 645,56 m3 per detik sementara kemampuan sungai dalam menampung cuma 410 itu yang di tengah laut," ucap dia.

"Kemudian di Banjar debit banjir 311 sementara kemampuan sungai cuma 47,99 terus kemudian yang Hulu Sungai Tengah itu 333 kapasitas sungai cuma 93. Artinya supply air cukup besar sungai itu sehingga tidak bisa menampung," tutur dia.

Lebih lanjut, Saparis mengatakan KLHK juga sudah melakukan beberapa langkah agar kejadian serupa tak terulang. Namun kembali lagi ke masalah awal karena tingginya curah hujan, banjir di Kalsel pada akhirnya tidak bisa dibendung.