Kogabwilhan soal Investigasi Komnas HAM: Jika Anggota TNI Terlibat, Kami Tindak

2 November 2020 16:07 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi anggota TNI AD Foto: ANTARA FOTO/Rahmad
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anggota TNI AD Foto: ANTARA FOTO/Rahmad
ADVERTISEMENT
Komnas HAM telah merilis hasil investigasi peristiwa penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, pada 19 September 2020. Hasil investigasi menyebut penembak Pendeta Yeremia diduga Wakil Danramil Hitadipa, Alpius.
ADVERTISEMENT
Kepala Penerangan (Kapen) Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Czi IGN Suriastawa, menghormati hasil investigasi tersebut.
Ia menyebut kini penegak hukum tengah mengusut kasus penembakan tersebut berdasarkan hasil TGPF Intan Jaya bentukan Menko Polhukam Mahfud MD. Sehingga ia meminta seluruh pihak menunggu hasilnya.
Adapun berdasarkan temuan TGPF, penembak Pendeta Yeremia diduga oknum aparat dan kemungkinan pihak ketiga.
"Sah-sah saja bilang terduga karena belum ada bukti kuat. Saat ini sedang dilakukan pendalaman (hasil) TGPF terhadap masalah ini. Sehingga sebaiknya kita tunggu hasil nyatanya," ujar Suriastawa kepada wartawan, Senin (2/11).
Ilustrasi penembakan. Foto: Shutterstock
Suriastawa menyatakan, jika hasil penyelidikan penegak hukum memang menunjukkan keterlibatan oknum anggota TNI termasuk Alpius, pihaknya tak segan menindak tegas pelaku.
ADVERTISEMENT
"Kalau memang terbukti ada oknum aparat terlibat, maka TNI akan menindak tegas terhadap oknum aparat tersebut sesuai hukum yang berlaku," tegas Suriastawa.
Sebelumnya, Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, mengatakan Pendeta Yeremia bukan hanya tewas karena luka tembak, tetapi juga menerima tindak kekerasan berupa luka jeratan. Ia menyebut Pendeta Yeremia ditembak dari jarak sekitar 1 meter.
Gedung Komnas HAM Foto: Kelik Wahyu/kumparan
"Pdt. Yeremia Zanambani mengalami penyiksaan dan/atau tindakan kekerasan lainnya berupa tembakan ditujukan ke lengan kiri korban dari jarak kurang dari 1 (satu) meter/jarak pendek pada saat posisi korban berlutut," kata Anam.
"Korban juga mengalami tindakan kekerasan lain berupa jeratan, baik menggunakan tangan ataupun alat (tali, dll) untuk memaksa korban berlutut yang dibuktikan dengan jejak abu tungku yang terlihat pada lutut kanan korban," tutupnya.
ADVERTISEMENT
Anam menduga kekerasan terhadap Pendeta Yeremia sudah direncanakan jauh hari. Anam menyebut Pendeta Yeremia sudah dijadikan target oleh pelaku yang ingin menggali keterangan terkait keberadaan senjata yang dirampas dari TPNPB/OPM maupun keberadaan anggota TPNPB/OPM lainnya.