Kolong Tol Slipi Jakarta Tak Lagi Kumuh: Jadi Ruang Hidup Warga dan Komunitas
·waktu baca 5 menit

Kolong tol di kawasan Slipi, Jakarta Barat, dulunya hanyalah lahan kosong yang terabaikan. Tanahnya merah, tidak rata, dan berantakan. “Kumuh, tempatnya kumuh. Enggak sebersih ini, nggak serapi ini,” kenang Herawati (53), warga asli Slipi, kepada kumparan, Sabtu (25/10).
Ia ingat, sebelum ada skatepark, area itu hanya menjadi tempat kosong tanpa jalan setapak. “Dulu enggak ada yang pakai. Kosong aja, dibiarin begitu aja. Di pinggirnya dulu pasar sayuran.”
Perubahan, kata Herawati, datang perlahan ketika pemerintah mulai menata kawasan itu di masa Gubernur Pramono. “Dirapihin begini, jadi lebih bagus. Ada permainannya. Buat ngobrol-ngobrol, juga ngadem-ngadem enak,” kata Herawati.
Pekerjaan penataan dilakukan bertahap, mulai dari pembuatan tembok, jalan setapak, hingga penanaman pohon-pohon. Kini, kolong tol yang dulu suram berubah menjadi taman terbuka dengan fasilitas olahraga dan area bermain anak.
Herawati kerap datang bersama suami atau cucunya. Kadang hanya duduk sambil makan, kadang mencoba alat olahraga yang tersedia di area taman. “Yang kayak sepeda itu biasanya. Tapi semuanya saya cobain,” katanya sumringah.
Ia menyebut banyak tetangganya juga berolahraga di sana. “Anak-anak bawa sepeda, orang tua juga ikut pakai alat olahraga. Aman, karena di dalam sini aja, enggak di jalanan.”
Herawati melihat taman ini jadi tempat warga dan komunitas berbaur dengan baik. “Hubungannya baik-baik aja,” ujarnya.
Minta Pengunjung Sama-sama Jaga Taman
Namun, ia menyoroti satu hal kecil yang masih sering mengganggu suasana. “Kadang ada yang ngerokok, padahal ini taman, banyak anak kecil. Asapnya ganggu, puntungnya juga dibuang sembarangan.”
Ia berharap pengunjung bisa lebih sadar diri, apalagi sudah ada tulisan larangan merokok. “Cuma mereka nggak baca aja,” ujarnya.
Datang dari Ciledug
Taman itu kini juga menarik banyak komunitas olahraga, terutama penggemar BMX, skateboard, rollerskate, dan scooter. Salah satunya Adek (34), warga Ciledug yang rutin datang berlatih BMX ke FO Slipi Skatepark. “Kalau pengin dan sempat sih, seminggu pernah bisa hampir tujuh kali ke sini,” ujarnya.
Ia menempuh perjalanan jauh karena di daerahnya tidak ada area BMX. “Kalau untuk BMX park, yang dekat dari rumah ya cuma ini aja,” katanya. Bagi Adek, BMX bukan sekadar hobi, tapi bentuk olahraga kreatif. “BMX itu sepeda buat olahraga dengan trik-trik. Kita bikin kreasi gimana bagusnya.”
Ia datang bukan hanya untuk latihan, tapi juga bersilaturahmi dengan teman-teman komunitas meski berolahraga secara individu. “Kalau ada acara gini, aku niatin datang. Kan bisa silaturahmi sama mereka-mereka,” kata Adek yang hari itu membawa dua anaknya yang berusia 4 dan 1 tahun ikut bermain sepeda.
Adek melihat taman kolong Slipi tak hanya menjadi tempat memproduksi keringat, tapi juga ruang edukasi bagi anak-anak. “Aku kenalin semuanya ke anakku, ‘Ini rem, ini rel, ini spin,’” ucapnya sambil menunjukkan sepeda BMX-nya.
Ia menyebut taman itu sudah sangat memadai. “Sudah bintang lima, sih. Ada toilet, air, listrik, musala, semuanya ada. Parkir juga ada. Lengkap,” katanya.
Kendati puas dengan fasilitasnya, Adek mengeluhkan hal yang sama dengan Herawati. Ia menyoroti pengunjung yang masih kerap merokok di area tersebut.
Ia berharap kesadaran moral pengunjung ikut tumbuh. “Yang penting kesadaran dari kitanya aja. Udah ada fasilitas kayak gini, artinya kita sama-sama saling mengerti,” katanya.
Dengarkan Masukan Komunitas
Menurut Arie (47), staf administrasi dari Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Pusat yang ikut mengawasi area taman, kolong tol Slipi mulai ditata sejak 2019, lalu direvitalisasi besar pada 2023.
“Dulu itu cuma kolong, pohon-pohon aja, tanah. Belum ada jalan setapak. Tapi karena ada permintaan komunitas, kita ubah lagi. Tahun 2023 direvitalisasi, jadinya seperti sekarang,” jelas Arie.
Ia menyebut taman ini memang didesain dengan mempertimbangkan kebutuhan komunitas. “Ada masukan dari komunitas, kita jadikan seperti yang mereka ingin. Jadi ini memang permintaan mereka,” katanya. Kini area tersebut menjadi salah satu ruang terbuka hijau yang ramai di Jakarta.
Menurut Arie, kegiatan di taman itu cukup beragam. “Biasanya komunitas skateboard, BMX, sama inline skate. Mereka bebas main di sini,” katanya.
Untuk acara, komunitas biasanya mengajukan izin ke Sudin jika bersifat non-komersial. “Kalau sudah yang komersial dan ada sponsor, harus lewat PTSP kelurahan Petamburan. Tapi kalau kayak sekarang, ini non-komersial. Sponsor cuma bantu musik dan konsumsi,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan fasilitas yang tersedia di area tersebut. “Ada outdoor fitness, batu refleksi, amfiteater buat pertemuan, kursi-kursi, musala, dan toilet. Biasanya juga dipakai buat foto buku tahunan sekolah atau kegiatan kecil, asal non-komersial,” katanya.
Pengamanan 24 Jam
Keamanan dan kebersihan taman, kata Arie, dijaga ketat. “Di sini pengamanan 24 jam, tiga sif per hari, dua orang per sif. Selain itu ada tiga petugas perawat taman yang bertugas bersih-bersih dan merawat tanaman,” ujar Arie.
Menurutnya, taman skate Slipi bisa menampung hingga 50 pengunjung di hari biasa dan lebih ramai lagi saat ada acara komunitas. “Bisa sampai subuh pemainnya,” katanya.
Kini, di bawah kolong tol yang dulu sepi dan kotor, roda sepeda BMX berputar bersama tawa anak-anak. Warga bersantai di kursi amfiteater, sementara komunitas menyalurkan energi di lintasan beton. Kolong tol Slipi bukan lagi ruang mati di bawah jalan layang. Ia telah berubah menjadi ruang hidup bagi warga kota.
