Komdigi: 65 Persen Pengguna Seluler Kena SMS Scam Minimal Seminggu Sekali

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dirjen Ekosistem Digital Kemkomdigi, Edwin Hidayat Abdullah di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat pada Jumat (14/11).  Foto: Abid Raihan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dirjen Ekosistem Digital Kemkomdigi, Edwin Hidayat Abdullah di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat pada Jumat (14/11). Foto: Abid Raihan/kumparan

Dirjen Ekosistem Digital Kemkomdigi, Edwin Hidayat Abdullah, membeberkan data soal tingginya paparan masyarakat terhadap modus scam. Katanya, sebesar 65 persen pengguna seluler mendapatkan SMS hingga telepon penipuan minimal satu minggu sekali pada tahun 2024.

“Di 2024 itu mengatakan bahwa 65 persen pengguna seluler itu menerima SMS, telepon, atau pesan scam itu satu minggu sekali minimum,” jelas Edwin di Kantor Kemkomdigi, Jakarta, pada Jumat (14/11).

Kerugian yang muncul dari SMS hingga telepon penipuan pun relatif besar. Edwin menyebut, kerugian bisa mencapai Rp 7 triliun.

“Yang kena ada yang report, dan ada yang tidak report. Tapi so far tahun ini aja, yang sudah me-report terjadinya loss dan scam ini sampai Oktober itu Rp 7 triliun. Bayangkan Rp 7 triliun,” ucap Edwin.

Dari total kerugian itu, menurut Edwin, hanya sekitar 5,4 persen yang bisa dikembalikan.

“Banyak sekali. Total kerugian Rp 7 triliun dan Rp 367,5 miliar. Yang berhasil dikembalikan itu cuma Rp 367 (miliar),” papar Edwin.

“Jadi kalau duit kita sudah kena scam, probability untuk kembalinya itu berhasil selama ini cuma 5,4 persen,” tambahnya.

Menurut Edwin, data ini sudah masuk dalam kategori mengkhawatirkan. Edwin menjelaskan salah satu langkah penting adalah meningkatkan tanggung jawab operator.

Ilustrasi scam. Foto: Carles Mateo Aguila/Shutterstock

“Yang pertama mungkin yang bisnis responsibility daripada operator seluler itu harus kita ajak lah mereka supaya be more responsible terhadap bisnis yang mereka jalankan. Mereka harus protect customer mereka. Caranya bagaimana? Dalam waktu dekat nanti akan Ibu Menteri sendiri yang akan mengumumkan mereka diminta untuk membangun infrastruktur ataupun anti-scam technology-nya mereka,” jelas Edwin.

“Jadi untuk melindunginya jangan sampai spam call yang menggunakan masking, nomor-nomor yang di-masking. Sekarang ada trennya nih masking. Jadi pakai nomor dalam negeri pakai teknologi SIP trunking keluar masuk lagi dengan nomor yang ter cover melalui MSS. Nah, ini yang mereka diminta untuk develop ini,” tambahnya.

Komdigi pun, kata Edwin, tengah menyiapkan kebijakan baru untuk para operator seluler untuk mencegah penipuan melalui SMS dan telepon terjadi lagi.

“Nah, dari sisi policynya bagaimana? Policy kan Komdigi. Nah, dua hal yang kita review. Yang kita review adalah bagaimana proses masking itu, nomor-nomor itu bisa terjadi dan hal apa yang kita bisa lakukan supaya itu tidak bisa terjadi lagi di kemudian hari atau memperkecil ruang itu,” ucap Edwin.

Salah satu langkah kebijakan Komdigi adalah merancang aturan pembuatan nomor baru menggunakan face recognition, sehingga para penipu tidak bisa lagi membuat nomor-nomor baru untuk melancarkan aksinya.

“Makanya dalam waktu dekat, saya pernah waktu itu mengenai registrasi dengan face recognition,” ucap Edwin.

Kebijakan itu, kata Edwin, tengah dipersiapkan. “Kerja sama dengan Dukcapil, apakah akan segera dijalankan. Insyaallah, iya. Sekarang kita dalam proses konsultasi publik,” jelas Edwin.

Ia menilai aturan tersebut dapat meningkatkan akurasi identitas pengguna.

“Bisa dilihat di website kami. Dengan itu kita lebih membuat pemilik handphone ini nomor itu lebih bertanggung jawab. Kalau dulu minjemin KTP, kartu keluarga kan gampang saja,” ucap Edwin.

“Tapi kalau dengan minjemin muka kan lain. Orangnya harus datang. Tapi insya Allah nggak ada orang Indonesia yang seperti itu tambahnya.

Edwin menegaskan bahwa operator harus memperkuat perlindungan bagi pengguna.

“Nah ini kita membuat, karena saya bilang sama Opsel, sama tiga operator kita. Ultimately kita harus memperkuat business responsibility, protect our customer. Nah itu yang paling penting karena dia menyangga business cellular ini,” tandasnya.