Komisi II Minta MA Tinjau Ulang Putusan PN soal Cluster Digusur meski Ber-SHM

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rapat dengar pendapat (RDP) warga Tambun, Bekasi dengan Komisi II DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (11/2/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rapat dengar pendapat (RDP) warga Tambun, Bekasi dengan Komisi II DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (11/2/2025). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Warga yang menjadi korban penggusuran di Setia Mekar, Tambun Selatan, Bekasi, mengadukan ke Komisi II DPR RI pada Selasa (11/2). Mereka merasa dirugikan sebab mereka memiliki sertifikat hak milik (SHM) atas tanah mereka.

Komisi II setelah mendengar keluhan warga, akan berkoordinasi dengan Komisi III untuk melakukan peninjauan ulang putusan Pengadilan Negeri ke Mahkamah Agung.

“Komisi II DPR RI akan berkoordinasi dengan Komisi III meminta kepada Mahkamah Agung untuk melakukan peninjauan kembali putusan Pengadilan Negeri khususnya Pengadilan Negeri Bekasi, Pengadilan Negeri Jakarta Timur, dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengenai penggusuran tanah yang tidak sesuai prosedur,” kata Wakil Ketua Komisi II Aria Bima di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (11/2).

Edi, memegang SHM tanahnya di tanah dan rumah yang sudah digusur oleh PN Cikarang kelas II, di Setiamekar, Tambun Selatan, Bekasi pada Rabu (5/2/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Selain itu, Bima meminta kepada Kementerian ATR/BPN untuk menindaklanjuti persoalan tersebut secara transparan.

“Komisi II DPR RI meminta kepada Kementerian ATR/BPN RI untuk menindaklanjuti setiap persoalan sengketa pertanahan secara transparan dengan mengedepankan kepastian hukum serta asas keadilan bagi seluruh pihak,” ucapnya.

Beberapa warga cluster Tambun protes karena merasa memiliki SHM yang resmi terdaftar di BPN.

video youtube embed

Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, telah merespons polemik tersebut. Ia meminta masyarakat jangan cemas melihat sengketa tanah di Setia Mekar.

Menurutnya, kejadian di Tambun Selatan itu hanyalah sebuah ‘case’. Warga yang memiliki SHM memiliki kekuatan hukum atas tanahnya.

“Kalau orang sudah punya SHM itu, sekali lagi orang sudah punya SHM itu kuat,” ujar Nusron dalam Program Info A1 kumparan, dikutip pada Sabtu (8/2).

Kata dia, untuk kasus di Tambun Selatan tidak akan terjadi bila sebelum eksekusi PN Cikarang terlebih dahulu meminta pengukuran tanah kepada BPN.

Bengkel milik Edi, warga Setiamekar, Tambun Selatan, Bekasi yang digusur meski memiliki SHM saat disambangi pada Selasa (4/2/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan