Komisi X Minta BRIN Gencarkan Riset Berkelanjutan di Daerah Rawan Bencana

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Komisi X DPR RI menggelar rapat dengan pendapat (RDP) dengan Kepala BRIN Arief Satria di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen
zoom-in-whitePerbesar
Komisi X DPR RI menggelar rapat dengan pendapat (RDP) dengan Kepala BRIN Arief Satria di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Foto: YouTube/ TVR Parlemen

Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai NasDem Nilam Sari Lawira meminta agar riset kebencanaan dilakukan secara berkelanjutan, khususnya di daerah-daerah rawan bencana. Ia menilai, sebaran pusat kolaborasi riset saat ini belum sepenuhnya mencerminkan prinsip keadilan.

Permintaan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR RI bersama Kepala BRIN Arif Satria di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (27/1).

"Saya sedikit menyoroti masalah sebaran dan kebermanfaatan pusat kolaborasi riset, ini selintas sepertinya belum mencerminkan prinsip keadilan khususnya afirmasi daerah tertinggal termasuk kawasan Indonesia Timur," ujar Nilam.

Sebagai wakil rakyat dari dapil Sulawesi Tengah, Nilam berharap wilayah tersebut mendapat prioritas ke depan.

"Kalau Sulawesi ini saya lihat hanya ada dua Sulawesi yang merupakan pusat kolaborasi riset Kebetulan saya dari Dapil Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah tidak termasuk, berharap Ke depan Sulawesi Tengah bisa diprioritaskan juga untuk mendapat perhatian," katanya.

Ilustrasi Gedung BRIN. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Ia menegaskan, Sulawesi Tengah memiliki nilai strategis yang besar, baik dari sisi pangan, kelautan, maupun keanekaragaman hayati. Selain itu, daerah tersebut juga dikenal sangat rawan bencana.

"Karena daerah kami selain merupakan potensi strategis dari pangan dan kelautan serta keanekaragaman hayati juga merupakan daerah yang sangat rawan bencana sebagaimana tragedi di 2018 lalu," ujar Nilam.

Oleh karena itu, Nilam mendorong adanya riset kebencanaan yang berkesinambungan dan berorientasi kebijakan.

"Maka kami berharap ada riset riset berkelanjutan bagi daerah-daerah yang rawan bencana. Karena kita tahu Indonesia ini dikelilingi oleh ring fire ya yang hampir di semua daerah punya potensi untuk terjadi bencana baik likuifaksi longsor banjir dan lain sebagainya gempa bumi terutama," pungkasnya.

Anggota tim penyelamat Indonesia mencari korban di lokasi tanah longsor akibat hujan lebat di desa Pasir Langu, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, 27 Januari 2026. Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana