Komnas HAM Kutuk Keras Rusuh Wamena

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konfenresi Pers Komnas HAM terkait wamena. Foto: Abyan Faisal/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konfenresi Pers Komnas HAM terkait wamena. Foto: Abyan Faisal/kumparan

Komnas HAM mengecam kekerasan yang terjadi di Wamena, Jayawijaya, Papua. Apalagi peristiwa kekerasan itu juga menimbulkan kepanikan di sejumlah daerah di sekitar Wamena.

"Komnas HAM selain mengutuk keras peristiwa tersebut, kami juga menyampaikan belasungkawa kami selaku lembaga negara atas peristiwa yang terjadi di Wamena," ujar Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (30/9).

Menurut data Komnas HAM, korban tewas hingga Minggu (29/9) berjumlah 31 jiwa. Banyak warga yang mengungsi dan meninggalkan Wamena atau eksodus.

"Pengungsi dalam catatan kami ada 5.000 pengungsi di Polres Wamena, 2.700 di Kodim Wamena dan ada sekitar 500 orang di Bandara Wamena, setelah itu ada ribuan lagi yang eksodus," sebut Taufan.

Taufan mengimbau kepada seluruh elemen negara untuk tidak menyebarkan berita yang simpang siur terkait kerusuhan yang terjadi di sana.

"Kami mendorong semua pihak baik di tingkat lokal maupun nasional untuk menghindari penyampaian berita bohong, alih-alih menyelesaikan masalah justru semakin memperkeruh situasi," tuturnya.

Komnas HAM juga berharap terjadinya dialog yang komprehensif mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Menurutnya, ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusuhan yang berlanjut.

"Kami selalu mendorong bahkan bersedia memfasilitasi semua pihak untuk duduk berdialog dalam rangka mencari solusi perdamaian di Papua," imbuhnya.

Prajurit TNI melakukan patroli keamanan di Wamena, Papua, Senin (30/9/2019). Foto: ANTARA FOTO/Iwan Adisaputra

Kerusuhan pecah di Wamena pada Senin (23/9). Kerusuhan itu terjadi karena kesalahpahaman dari ujaran seorang guru PGRI di Wamena.

Banyak pihak yang menganggap bahwa guru yang bernama Riris Panggabean tersebut mengucapkan kera. Padahal Riris mengaku dia menyebut keras, bukan kera.

Kerusuhan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, namun juga banyak bangunan rusak dan terbakar seperti kantor pemerintahan, pusat perdagangan dan rumah warga.