Komnas PA Ungkap Tren Bullying Anak Meningkat: Ada Faktor Gim, Kita Edukasi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi pers Komnas Perlindungan Anak memperingati Hari Anak Nasional di Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi pers Komnas Perlindungan Anak memperingati Hari Anak Nasional di Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026). Foto: Joakhim Tharob/kumparan

Komnas Perlindungan Anak (PA) menyebut kasus perundungan atau bullying terhadap anak usia sekolah menunjukkan tren peningkatan pada 2026. Komnas PA menilai paparan gim menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian.

Ketua Komnas PA DKI Jakarta Cornelia Agatha mengatakan kasus kekerasan terhadap anak, termasuk bullying, masih banyak terjadi di lingkungan sekolah maupun sekitar tempat tinggal.

"Seperti kita ketahui sekarang ini banyak sekali kasus-kasus kekerasan pada anak khususnya bullying di sekolah, di lingkungan sekitar," ujar Cornelia dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Minggu (9/8).

Wakil Ketua Umum Komnas PA Lia Latifah mengatakan pihaknya melihat tren bullying semakin meningkat. Menurut dia, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah paparan gim yang dikonsumsi anak.

"Jadi kami melihat di Komnas Perlindungan Anak itu tren bullying itu semakin hari semakin meningkat karena memang ada satu faktor yang sampai hari ini tidak terselesaikan. Lewat games," tambah Lia.

Sejumlah anak memanfaatkan waktu ngabuburit dengan bermain PlayStation (PS) di sebuah rental permainan di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, pada Minggu (22/2/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Menurut Lia, penggunaan gim secara berlebihan dapat memengaruhi perilaku anak.

"Games yang tidak pernah bisa dihentikan. Games itu yang membuat anak-anak akhirnya mempunyai perilaku yang memengaruhi perilaku anak-anak hari ini," lanjutnya.

Ia menilai sejumlah gim juga memuat kata-kata kasar, makian, perkelahian, hingga adegan kekerasan yang dapat ditiru anak.

"Tanpa sadar lewat games yang mereka mainkan itu ada kata-kata kasar, ada makian, terus kemudian juga ada perkelahian, bahkan di sana anak-anak juga diajarkan pembunuhan," terangnya.

Ilustrasi anak main games. Foto: Shutter Stock

Edukasi dan Pemantauan Jadi Langkah Preventif

Untuk mencegah dampak negatif terhadap anak, Komnas PA mendorong penguatan edukasi dan sosialisasi kepada anak, orang tua, serta guru di lingkungan sekolah.

"Bagaimana cara pencegahannya? Nah tadi lewat kegiatan preventif, edukasi," jawab Lia.

Ia mengatakan edukasi kepada anak perlu diikuti penguatan pola pengasuhan bagi orang tua dan guru agar penggunaan media sosial dan teknologi tidak berdampak negatif terhadap kehidupan anak.

"Edukasi di tingkatan anak-anak, parenting di tingkatan orang tua dan guru agar ketika hari ini ada yang namanya media sosial, kecanggihan elektronik itu bagaimana caranya tidak memengaruhi kehidupan anak-anak kita," ucapnya.

Lia menambahkan, orang tua dan guru perlu memantau konten yang dikonsumsi anak melalui media sosial maupun platform digital lainnya.

"Jadi media sosial yang mereka miliki, konten-konten yang mereka miliki itu harus dalam pemantauan orang tua dan guru," ujarnya.