Kondisi 5 Korban Selamat Insiden Perahu Mahasiswa KKN UGM Terbalik di Maluku
ยทwaktu baca 3 menit

Insiden perahu terbalik menewaskan 2 mahasiswa KKN-PPM UGM di perairan Debut, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, Selasa (1/7). Sementara 5 mahasiswa lainnya berhasil selamat.
Lalu bagaimana kondisi 5 mahasiswa yang selamat ini?
UGM menyatakan mereka mengalami luka-luka. Ada juga yang sesak napas.
"Beberapa mahasiswa lainnya mengalami luka dan sesak napas akibat dari tenggelam dan saat ini masih dalam penanganan medis," kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM Arie Sujito, di kampus UGM, Sleman, Rabu (2/7).
Arie menjelaskan identitas mereka, yaitu Muhammad Arva Sagraha yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Karel Sadsuitubun dan Afifudin Baliya dirawat di Rumah Sakit Hati Kudus Langgur.
Sementara kondisi mahasiswa lainnya sudah mulai membaik, yakni Daeren Sakti Hermanu, Pratista Halimawan, dan Ridwan Rahardian Wijaya.
Sedangkan dua korban meninggal dunia, yakni Bagus Adi Prayogo dan Septian Eka Rahmadi.
Ambil Pasir untuk Bangun TPS
Longboat atau perahu yang terbalik ini membawa 12 orang terdiri dari 7 mahasiswa UGM dan 5 warga sekitar.
Rombongan sedang mengangkut pasir dari Pulau Wearhu menuju Desa Debut. Pasir akan digunakan mahasiswa untuk membangun tempat pengolahan sampah (TPS) yang jadi program mereka.
"Jadi adik-adik ini punya program untuk tempat sampah, jadi pembangunan tempat sampah dan juga dalam rangka lingkungan, mereka membuat salah satu program itu untuk pembangunan lingkungan berkelanjutan," kata Sekretaris Direktorat pengabdian kepada Masyarajat UGM, Djarot Heru Santoso.
"Di samping itu mereka juga merencanakan pasir ini digunakan untuk terumbu karang buatan yang nantinya untuk lingkungan berkelanjutan di situ," bebernya.
Loangboat yang dipakai ini biasa digunakan warga sekitar untuk mencari pasir di pulau lain dengan jarak 15-20 menit. Kemarin rombongan dua kali melakukan perjalanan.
"Satu trip pertama itu lancar, nggak ada masalah. Kemudian yang trip kedua ini di longboat itu ada 16 karung pasir. 16 karung pasir beserta 12 orang di dalamnya 5 penduduk setempat, 7 mahasiswa kita. Semuanya berjalan lancar dan itu dalam ukuran yang sangat wajar di sana. Tidak ada hal keberatan, misalnya beban berat pun tidak ada," kata Djarot.
Badai Kencang, Ombak Tinggi
Perahu berjalan untuk pulang. Sekitar 300 meter dari bibir pantai tiba-tiba badai kencang datang.
"Awalnya dari pagi tidak ada masalah badai. Badai itu hampir 2,5 meter ombak. Kemudian kapal terbalik. Ketika kapal terbalik, 12 orang ini berusaha berenang mencapai bibir pantai yang 300 meter itu. Hanya kebetulan karena mungkin ada yang panik, ada 2 mahasiswa kita yang agak ketinggalan," jelasnya.
Korban Septian sempat mencapai bibir pantai tetapi karena minum air laut yang cukup banyak napasnya berkurang. Seketika Septian dilarikan ke rumah sakit tetapi dia meninggal dalam perjalanan.
"Langsung dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan meninggal," katanya.
Sementara Bagus yang sempat hilang ditemukan meninggal dunia pada malam harinya.
