Kondisi COVID-19 DKI: Kasus Konfirmasi, Kematian, hingga BOR ICU Menurun

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Monumen Nasional (Monas) yang ditutup antisipasi virus corona atau COVID-19 di Jakarta, Sabtu (14/3).  Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Monumen Nasional (Monas) yang ditutup antisipasi virus corona atau COVID-19 di Jakarta, Sabtu (14/3). Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Penerapan PPKM di Jawa dan Bali, khususnya DKI Jakarta, telah berlangsung sekitar sebulan terakhir. Situasi COVID-19 mulai menunjukkan perubahan yang cukup signifikan ke arah yang membaik.

Kondisi yang terbilang membaik ini bisa dilihat dari sejumlah data. Mulai dari kasus konfirmasi, kasus kematian, jumlah pemakaman, positivity rate, jumlah testing, keterisian tempat tidur (BOR) isolasi, dan juga BOR ICU.

Kasus Konfirmasi

Seorang pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan gejala ringan tidur di ruang isolasi di Rumah Sakit Darurat Pangkalan Marinir Jakarta, Sabtu (10/7/2021). Foto: M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO

Secara keseluruhan, kasus konfirmasi harian mulai meningkat sekitar awal Juni lalu. Kasus pertama kali menyentuh angka 1000-an pada 5 Juni sebanyak 1.317 kasus. Kasus terus meningkat hingga mencapai sekitar 10 kalinya yakni 13.112 pada 9 Juli.

Menuju pertengahan Juli, puncak kasus harian mulai terlihat. Pada 12 Juli, kasus mencapai rekor tertinggi sepanjang pandemi di Jakarta, yaitu 14.169 kasus dilaporkan. Sejak itu, kasus terus mengalami penurunan hingga Agustus. Bahkan, 2 Agustus merupakan hari di mana kasus tercatat terendah yakni 1.410. Angka ini tak jauh berbeda pada awal Juni saat kasus mulai meningkat.

embed from external kumparan

Kasus Kematian

Warga berziarah di dekat pusara keluarganya di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (15/7/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Pada saat kasus harian mulai meningkat pada awal Juni, kasus kematian yang dilaporkan mulai terlihat meningkat pada pertengahan Juni. Pada 17 Juni, tercatat sebanyak 50 kasus kematian terjadi. Padahal di awal Juni, kasus kematian masih berada di kisaran belasan kasus per hari.

Kasus kemudian terus meningkat hingga pertama kali menyentuh angka 100 pada 5 Juli, tepatnya 120 kasus. Sejak saat itu, kasus kematian harian yang dilaporkan terus meningkat walau beberapa kali sempat turun. Pada 20 Juli, kasus kematian mencapai puncaknya. Sebanyak 268 kasus terlapor.

Pada awal Agustus ini, kasus mulai terlihat menurun. Terkini, 6 Agustus, ada 53 kasus kematian yang dilaporkan. Angka ini juga tak jauh berbeda pada saat kasus kematian mulai terlihat meningkat pada awal Juli.

embed from external kumparan

Pemakaman dengan Protap COVID-19

Petugas memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta. Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Kasus kematian yang dilaporkan dalam satu hari seringkali tak bisa sama dengan jumlah pemakaman dengan protap COVID-19 di hari yang sama. Sebab, bisa jadi kasus kematian yang dilaporkan belum tentu dimakamkan di hari yang sama pula.

Bila dilihat secara data, pemakaman tertinggi justru terjadi pada 10 Juli sebanyak 407 pemakaman. Pada hari yang sama, kasus kematian yang tercatat hanya sebanyak 90 kasus. Namun, selama 3 hari berturut-turut sebelumnya, kasus kematian yang tercatat selalu di atas 100-an.

Mari kembali melihat jumlah pemakaman di awal Juni ketika kasus mulai meningkat. Saat itu, pemakaman yang dilakukan ada di kisaran 20-an setiap harinya. Jumlah pemakaman terus meningkat sampai menuju puncak di Juli.

Kini, jumlah pemakaman dengan protap COVID-19 terus menurun. Ini beriringan dengan kasus kematian dan juga kasus konfirmasi yang juga mulai berangsur menurun. Terakhir pada 5 Agustus, sebanyak 88 pemakaman tercatat. Angka ini masih jauh dari awal Juni.

embed from external kumparan

Positivity Rate

Seorang tenaga kesehatan berjalan di antara pasien positif COVID-19 yang baru tiba di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC), Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Rabu (5/5/2021). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Angka positivity rate Jakarta mulai menyentuh di atas ambang batas WHO yakni 5 persen pada akhir Mei. Angka tersebut terus meningkat hingga 16 Juni yang mencapai 25%.

Tak sampai sebulan, positivity rate mencapai puncaknya pada 7 Juli yaitu 46,3%. Hampir 2 kali meningkat dalam kurun waktu 3 minggu.

Setelah itu, angka terus terlihat menurun. Pada awal Agustus, angka mulai menunjukkan kesamaan dengan angka di awal lonjakan. Pada 1 Agustus positivity rate mencapai 12,4%.

embed from external kumparan

Angka Testing

Karyawan kumparan melakukan Swab Test Antigen di kantor kumparan, Jalan Jati Murni, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2020). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Seluruh angka kasus konfirmasi maupun positivity rate sangat dipengaruhi oleh jumlah testing yang dilakukan pada hari itu. Dari grafis ini, terlihat jumlah orang yang dites mulai meningkat di Mei lalu.

Sebelumnya tes per hari hanya berkisar di 4 ribu sampai 10 ribu. Sementara pada 21 Mei, ada 14.265 tes yang dilakukan. Angka ini terus stabil setiap harinya walau sempat menurun khususnya di akhir pekan.

Jumlah testing baru benar-benar terlihat meningkat pada minggu keempat Juni. Pada 23 Juni, tercatat pertama kali menyentuh testing di atas 20 ribu yaitu sebanyak 20.460. Sejak saat itu, testing terus meningkat. Puncak jumlah testing tercatat pada 13 Juli sebanyak 42.901.

Setelah itu, testing terus menurun hingga menyentuh angka 30 ribuan, lalu kembali ke 20 ribuan. Awal Agustus ini, terlihat jumlah testing yang dilakukan telah kembali di angka belasan ribu. Namun beberapa hari terakhir kembali meningkat. Pada 5 Agustus, testing yang dilaporkan sebanyak 20.068.

embed from external kumparan

Keterisian Tempat Tidur (BOR) Isolasi

Persiapan ruang isolasi pasien COVID-19 di Gelanggang Olahraga (GOR) Matraman, Jakarta, Rabu (14/7). Foto: Galih Pradipta/Antara Foto

Dari seluruh grafis situasi COVID-19 yang dilaporkan, hanya data BOR yang menunjukkan adanya perubahan data yang lebih stabil. Jika dilihat, BOR isolasi sebenarnya tidak pernah benar-benar turun hingga mencapai belasan persen saja. BOR sebelum Lebaran relatif berada di kisaran 20 sampai 30-an persen.

Namun peningkatan terlihat sejak akhir Mei. Pada 1 Juni, BOR mencapai 34,83 persen. Hanya dalam 10 hari, BOR pada 10 Juni tercatat bertambah 2 kali yakni 63,43%. Angka ini terus meningkat tanpa adanya penurunan.

Alarm penuh mulai dilaporkan setelah BOR menyentuh angka di atas 80% pada 16 Juni. BOR terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada 29 Juni yaitu 93,97%.

Selama hampir sebulan, BOR cenderung stabil di sekitar 90%. Penurunan baru terlihat di minggu ketiga Juli dan terus terjadi hingga saat ini. Terakhir pada 1 Agustus, BOR berada di angka 55,68%.

embed from external kumparan

Keterisian Tempat Tidur (BOR) ICU

Petugas medis memeriksa kesiapan alat di ruang ICU Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3). Foto: ANTARA FOTO/Kompas/Heru Sri Kumoro

Grafis BOR ICU ini memiliki pola yang hampir sama dengan BOR isolasi. Sepanjang Mei, BOR yang dilaporkan cenderung stabil di kisaran 30-an persen. Kemudian terus meningkat pada 4 Juni yaitu 40,36%. Semenjak saat itu, BOR terus meningkat tanpa adanya penurunan yang cukup berarti.

Dalam kurun waktu sekitar 2 minggu, BOR ICU meningkat tajam hingga 2 kali. Pada 19 Juni, tercatat BOR telah mencapai 80,99%. BOR mulai menyentuh di atas 90% pada saat awal Juli hingga puncaknya yaitu 94,94% pada 14 Juli.

BOR kemudian terlihat menurun. Pada 1 Agustus, tercatat BOR ICU sudah turun hingga ke angka 78,72%.

embed from external kumparan