Kondisi Gunung Agung Terkini: Tinggi Kepulan Abu Capai 3.000 Meter

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konpres PNPB penanganan Gunung Agung. (Foto: Paulina Herasmaranindar/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Konpres PNPB penanganan Gunung Agung. (Foto: Paulina Herasmaranindar/kumparan)

Gunung Agung di Karangasem, Bali, meletus pada Selasa (21/11) sekitar pukul 17.00 WITA. Berdasar pantauan terkini pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kepulan abu masih tampak membumbung tinggi dari puncak gunung.

"Kepulan abu tebal menerus mencapai ketinggian 2.000 sampai dengan 3.400 meter dari puncak," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di kantornya Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Senin (27/11).

"Asap kawah terlihat berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 2.500 sampai dengan 3.000 meter di atas puncak kawah," lanjut Sutopo.

Erupsi Gunung Agung Bali pada Senin (27/11) (Foto: REUTERS/Johannes P. Christo)
zoom-in-whitePerbesar
Erupsi Gunung Agung Bali pada Senin (27/11) (Foto: REUTERS/Johannes P. Christo)

Selain itu Sutopo menjelaskan, tingkat erupsi Gunung Agung saat ini dinyatakan meningkat dari fase freatik ke magmatik. Hal ini ditandai dengan kemunculan sinar berwarna kuning kemerahan di puncak gunung pada Sabtu (25/11) sekitar pukul 21.00 WITA.

"Terlihat ada cahaya seperti api, sinarnya terpantul yang membuat seperti api. Sinar yang memancar itu berasal dari kawah, merupakan lava yang terus membanjiri kawah yang terpantul sehingga terlihat sinar kuning kemerahan atau glow," paparnya.

Berdasar data tersebut, kata Sutopo, BMKG dan Pusat Vulkanologi dan Migitasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Agung. Sutopo mengimbau masyarakat dan wisatawan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya.

"Status Gunung Agung yang semula September lalu Siaga III menjadi Siaga IV mulai hari ini," ujarnya.

video youtube embed

"Yaitu 8 kilometer dari kawah gunung dan perluasan ke sektoral arah utara, timur laut, tenggara, selatan dan barat daya sejauh 10 kilometer. Zona bahaya sifatnya dinamis dan terus kita evaluasi, zona dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data hasil pengamatan Gunung Agung yang paling aktual," imbuh Sutopo.