Kondisi Keluarga Raya yang Meninggal karena Cacingan: Hidup Dalam Kemiskinan
·waktu baca 3 menit

Kisah pilu kematian Raya (4 tahun), bocah asal Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Sukabumi, turut membuka fakta kondisi keluarganya yang hidup dalam keterbatasan.
Kepala Dusun Tiga Lemahduhur, Arief Rahman Hakim, menyebut keluarga Raya berada di bawah garis kemiskinan dan kedua orang tuanya memiliki keterbelakangan mental.
“Orang tuanya ya memiliki sedikit keterbelakangan mental gitu ya,” kata Arief saat diwawancarai di Kantor Desa Cianaga, Sukabumi, Rabu (20/8).
“(Keluarga Raya) di bawah garis kemiskinan, kebanyakan warga seperti biasanya masih di bawah garis kemiskinan dan bukan hanya keluarganya (Raya) saja, sih masih banyak juga yang lainnya dalam garis kemiskinan di desa,” ujarnya
Ia menyebut, orang tua Raya memiliki keterbatasan dalam berinteraksi dengan orang luar.
“Dulu misalkan ketika musim vaksin, ketika mau divaksin dia lari kabur ke gunung. Terus jarang berinteraksi dengan orang luar selain dengan keluarganya sendiri,” jelasnya.
Arief menambahkan, ayah Raya, Udin, sehari-hari bekerja serabutan sebagai buruh harian lepas, sementara ibunya hanya mengurus rumah tangga.
“Kalau ayahnya Pak Udin itu sehari-harinya dia jadi buruh harian lepas. Ketika ada orang yang butuhkan dia ngerjain. Dari hasil pekerjaan apa aja dia kerjain," ucapnya.
Arief juga menjelaskan rumah warga di Dusun Tiga kebanyakan sangat sederhana, bahkan masih ada yang berupa rumah panggung.
Dari total sekitar 350 kepala keluarga dengan lebih dari seribu jiwa, separuh di antaranya masih hidup di bawah garis kemiskinan.
“Kondisi warga secara umum ya, mereka kebanyakan kan berprofesi sebagai petani. Ada juga menjadi buruh harian lepas atau buruh-buruh di luar desa. Keberadaannya secara umum sama halnya warga kebanyakan di desa lain. Termasuk dari rumahnya dan kondisi ekonominya, ya kebanyakan desa-desa yang lain sama aja,” ujarnya.
Raya Meninggal karena Cacingan Akut
Raya meninggal dunia akibat cacingan akut. Tubuhnya dipenuhi cacing gelang yang sudah menyebar ke usus, paru-paru, hingga otak.
Raya tinggal bersama orang tuanya, Udin (32) dan Endah (38), di rumah bilik panggung sederhana. Bagian bawah rumah dijadikan kandang ayam penuh kotoran, yang diduga menjadi sumber penularan.
Orang tuanya disebut mengalami gangguan mental dan tidak memiliki dokumen kependudukan, sehingga keluarga ini tidak tercatat sebagai penerima BPJS.
Raya ditemukan dalam kondisi kritis oleh pegiat sosial Iin pada 13 Juli 2025 dan dibawa ke RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi. Dari tubuhnya sempat keluar cacing hidup sepanjang 15 cm lewat hidung, serta ratusan ekor cacing lain dari anus dan kemaluan dengan total berat sekitar 1 kilogram. Setelah dirawat 9 hari di PICU, Raya meninggal dunia pada 22 Juli 2025.
Kasus ini menuai sorotan. Pihak rumah sakit menyebut cacingan Raya tidak wajar karena jumlah dan ukuran cacing yang besar. Sementara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku prihatin dan menilai desa lalai, hingga menjatuhkan sanksi dengan menunda bantuan untuk Desa Cianaga.
