Kondisi Terkini 3 Korban Penyerangan Polsek Ciracas

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KSAD Jenderal Andika Perkasa dan Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono saat menjenguk korban kerusuhan Polsek Ciracas. Foto: Dok. Polri
zoom-in-whitePerbesar
KSAD Jenderal Andika Perkasa dan Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono saat menjenguk korban kerusuhan Polsek Ciracas. Foto: Dok. Polri

Penyerangan Polsek Ciracas mencatatkan beberapa korban luka akibat penganiayaan dari para oknum TNI. Setidaknya, ada 3 korban yang mengalami luka berat, yakni 1 orang sipil dan 2 anggota Polri.

Para korban ini mendapat perawatan di RSPAD, setelah sempat dirawat di RS Polri. Pada update hari ini, 1 pasien dinyatakan pulih dan 2 pasien telah membaik.

"Seperti saya laporkan ada 3 pasien, 1 pasien sudah dipulangkan, yakni tuan Husni Maulana, tetapi kegiatan kontrol masih dilakukan di RSPAD," kata Kepala RSPAD, Letnan Jenderal TNI Dwi Hasto dalam konferensi pers perkembangan kasus Ciracas, di Mapuspomad, Rabu (16/9).

KSAD Jenderal Andika Perkasa dan Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono saat menjenguk korban kerusuhan Polsek Ciracas. Foto: Dok. Polri

Husni merupakan sopir dari stasiun televisi ANTV, yang diserang oknum TNI saat peristiwa penyerangan polsek Ciracas dan sekitarnya pada 28 Agustus lalu.

Sementara itu, 2 anggota polisi yang masih dirawat yakni Bripda D dan Bripka T, menunjukkan perkembangan yang signifikan setelah melewati beberapa kali operasi.

"Untuk Bripka D, hari ini kondisi sadar masih di CICU, kemudian termodinamiknya stabil, saturasi 99/100 persen, artinya stabil kualitas pernapansan bagus, pendalaman CT Scan tidak ada masalah," kata Dwi.

instagram embed

Selanjutnya, RSPAD masih akan melakukan perawatan untuk memperbaiki kualitas paru-parunya. Gumpalan darah yang ada di saluran pernapasannya perlahan juga mulai terserap dan hilang.

Sementara untuk Bripka T, RSPAD masih belum bisa mengangkat gotri yang tertanam di pipinya. Karena, Bripka T baru saja merampungkan operasi mata yang membuatnya harus berada dalam kondisi telungkup minimal 3 minggu lamanya.

kumparan post embed

"Sudah direncanakan pengambilan gotri di rongga maksila yang kami jadwalkan tanggal 25, karena setelah operasi mata pasien ini harus tengkurap terus, dan dibutuhkan 3 minggu sehingga ideal untuk pengambilan gotri pada tanggal 25 September. Secara umum kondisi pasien berada dalam kesadaran penuh dan stabil," kata Dwi.