Konflik Fahri Hamzah dan Sohibul Iman yang Tak Kunjung Berakhir

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah (Foto: Fitra Andrianto/kumparan)

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah melaporkan Presiden PKS Sohibul Iman ke Polda Metro Jaya pada Kamis (8/3). Ia melaporkan Sohibul atas dugaan pencemaran nama baik.

Fahri menilai Sohibul telah merusak reputasinya serta PKS dengan menggiring isu tidak benar lewat media. Ia tidak terima dituduh pembohon dan pembangkan, apalagi pengadilan telah memenangkan gugatan perdata atas pemecatan dirinya dari PKS.

Antara Fahri dan PKS memang memiliki sejarah konflik yang cukup banyak. Fahri yang dulunya merupakan kader PKS dipecat oleh Sohibul pada 4 April 2016. Tidak terima dipecat, Fahri kemudian menggugat Sohibul ke PN Jaksel.

Meski dipecat oleh PKS, posisi Fahri sebagai Wakil Ketua DPR dipertahankan oleh pimpinan DPR yang lain. Alasannya karena proses gugatan di pengadilan masih berjalan, dan benar saja, gugatan itu dimenangkan oleh Fahri.

Kini, Sohibul lagi-lagi mengungkit kembali persoalan kursi pimpinan DPR. Menanggapi hal itu, Fahri menyebut Sohibul telah membawa PKS ke jalan yang salah. Salah satunya terkait keputusan pengusungan calon kepala daerah di sejumlah wilayah.

Presiden PKS, Muhammad Sohibul Iman (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Presiden PKS, Muhammad Sohibul Iman (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan)

"Sekarang PKS telah kehilangan basis lamanya di Jawa Barat dari gubernur kehilangan Deddy Mizwar, Sumut gubernur tidak punya calon kader, dari Maluku Utara pecah, dan lain-lain. Ini akan berakibat buruk bagi pemilu legislatif yang akan datang," kata Fahri.

"Maka untuk keselamatan PKS, Sohibul Iman, mundurlah," tegas Fahri.

Setelah beragam episode adu mulut, Fahri pun berniat membawa persoalan itu ke ranah hukum.

"Insyaallah saya lagi siapkan berkas-berkasnya karena menurut saya pelanggaran UU yang dilakukan oleh pimpinan PKS ini sudah agak fatal. Jadi, saya akan terpaksa menggunakan kembali media pengadilan untuk tuntutan pidana. Kalau kemarin kan tuntutan perdata, kalau sekarang ini tuntutan pidana. Cukup bukti buat saya menyeretlah," ujarnya.

Fahri mengaku, pelaporan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah kader PKS yang tak sejalan dengan sikap kepemimpinan Sohibul. Namun, kata Fahri, sebagian kader PKS juga ada yang berupaya agar seteru antara dirinya dengan Sohibul bisa diselesaikan secara internal kepartaian.

“Oh iya kalau dukungan luar biasa. Karena kader-kader merasa terkunci karena Sohibul Iman sendiri sebagai presiden partai sudah enggak berani juga ke wilayah-wilayah dia ketemu kader,” ungkap Fahri.

Fahri menambahkan, bahwa pelaporan terhadap Sohibul Iman bukan atas kekecewaan dirinya tidak masuk dalam daftar caleg PKS. Bahkan, Fahri tak peduli perihal pencalonan legislatif di 2019 mendatang.

“Saya ingin memperbaiki partai. Sayang partai ini. Pemilu sudah 15 bulan lagi. Partainya masih kayak gini, stagnan. Saya enggak peduli itu (caleg), itu konsekuensilah dan penguasanya mereka,” tuturnya.

Fahri mengaku kecewa karena sebagai pendiri partai ia kini tak lagi menjadi bagian dari PKS.

“PKS ini kan partainya partai bagus. Orang menilai, reputasi kita bangun dari awal saya sendiri ya. Saya kalau bukan kader PKS, mungkin enggak kebayang. Saya sendiri bisa punya reputasi seperti ini, saya susun batu bata dan pondasi-pondasinya bertahap sampai sudah setingkat ini,” terangnya.

Meski bersitegang dengan Sohibul, Fahri menyebut enggan untuk pindah ke partai lain. Padahal, kata Fahri, banyak partai lain yang memintanya untuk bergabung.

"Saya enggak mau pindah partai. Saya hampir ditawari semua teman-teman kita. Tapi saya enggak mau tunjukkan itu sebagai jalan keluar. Namanya selfish," ungkapnya.

Alasan Fahri tak ingin berpindah ke partai lain, karena ia tak ingin disebut lari dari kenyataan hanya karena telah dipecat. Sehingga, ia ingin menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu.

“Saya mau hadapi sampai masalah clear. Ini juga bisa jadi pelajaran untuk pimpinan dan kader kalau ada masalah ya jangan dihindari. Itulah kultur politik. Jadi politis jangan dikit-dikit lari dari kenyataan. Saya sudah hadapi secara baik perdataan, tapi enggak mau diterima. Ya udah ayo sekarang pidana,” imbuhnya.

Ia juga enggan pindah partai karena tidak akan menyelesaikan masalah. Karenanya, kata Fahri, ia akan tetap berupaya untuk bisa bersama dengan PKS. Apalagi ia telah menjadi politikus PKS selama 25 tahun.

“Jadi saya enggak mau pindah partai, karena itu tidak menyelesaikan masalah. Kan kader perlu melihat masa depannya seperti apa. Kalau orang seperti saya aja dibabat mudah dalam waktu singkat, gimana orang mau masuk PKS,” kata dia.

Pengambilan nomer urut PKS (Foto: Garin Gustavian/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pengambilan nomer urut PKS (Foto: Garin Gustavian/kumparan)

Fahri pun resmi melaporkan Sohibul ke Polda Metro Jaya. Ia melaporkan Sohibul dengan sejumlah pasal yang terkait satu sama lainnya, yaitu KUHP dan UU ITE.

“Pada tahapan awal saya laporkan beberapa pasal Undang Undang KUHP dan juga tentutang dilengkapi dengan dokumen-dokumen. Juga bisa masuk UU ITE. Saya membawa berkasnya, laporannya serta alat bukti lainnya berupa CD, USB, dan lain-lain serta dokumen yang dicetak,” ujar Fahri sebelum masuk ke SPKT, Kamis (8/3).

Selain itu Fahri juga telah menyiapkan saksi dan ahli untuk melengkapi berkas laporannya.

“Kita juga menyiapkan saksi dan ahli untuk menjadi pihak yang di BAP sehingga kemudian laporan saya ini menjadi lengkap. Bahwa telah terjadi tindak pidana yang dilakukan oleh Sohibul Imam,” ujarnya.

Meski berkukuh melaporkan Sohibul, Fahri menegaskan ia bersedia mencabut laporannya jika Sohibul mundur sebagai Presiden PKS. Menurutnya banyak kader lain yang mumpuni untuk memimpin partai, salah satunya adalah Jazuli Juwani.

“Kalau dia mau mundur, bagi partai itu bagus sekali, saya akan cabut laporan saya. Tapi kalau tidak, dia harus hadapi ini, karena kalau menurut saya lebih cepat lebih baik. Supaya dalam pemilu PKS tidak menghadapi beban seperti ini lagi,” papar Fahri.

“Banyaklah (yang lebih baik), ini kan partai kader. Dari 40 anggota DPR itu ada Pak Jazuli yang menurut saya jago memimpin partai,” tutupnya.

Akankah konflik antara Fahri dan Sohibul akan memasuki babak akhir?