Kongres ASEAN Dorong Percepatan Pembangunan PLTSa di Indonesia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana ASEAN Solid Waste Management Congress 2025 di Jakarta, Kamis (25/9/2025). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Suasana ASEAN Solid Waste Management Congress 2025 di Jakarta, Kamis (25/9/2025). Foto: Dok. Istimewa

Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam pengelolaan sampah. Hal ini mencuat dalam ASEAN Solid Waste Management Congress 2025 yang digelar Kamis (25/9) di Jakarta dengan tema “Accelerate PLTSa Construction Indonesia”.

Forum ini mempertemukan pejabat pemerintah, pelaku usaha, investor, dan mitra internasional untuk membahas strategi percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau Waste-to-Energy (WtE).

Dalam sesi pembukaan, Rofi Alhanif dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan menyampaikan sejak 2019 hingga 2024, tingkat pengurangan sampah nasional hanya bergerak tipis dari 46,4% menjadi 40,2%. Padahal, angka ini seharusnya menurun jauh lebih signifikan.

“Banyak jenis sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi, tetapi karena tercampur dan tidak dikelola dengan baik, potensi tersebut hilang,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah menilai perlu terobosan teknologi dalam pengelolaan sampah. Trois Dilisusendi dari Kementerian ESDM menambahkan, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) menjadi salah satu kunci untuk menjawab persoalan tersebut, sekaligus mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) dalam menurunkan emisi karbon, serta merupakan bagian penting dari agenda transisi energi nasional.

PLTSa di Indonesia: dari 12 ke 33 Kota

Petugas melakukan pengawasan mesin pengolahan sampah menjadi energi listrik saat dilakukan uji coba pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Putri Cempo di Solo, Jawa Tengah, Selasa (28/6/2022). Foto: Mohammad Ayudha/ANTARA FOTO

Sejauh ini, proyek PLTSa di Indonesia masih menghadapi tantangan, mulai dari ketersediaan lahan, kepastian tarif listrik, hingga skema pembiayaan. Namun, peluang investasi di sektor ini semakin terbuka.

Junius Hutabarat, Co-Founder PT Ikonik Sinergi Persada, mengatakan: “Waste is both a challenge and opportunity for us, and it's a good timing for investors”.

Pemerintah awalnya menetapkan 12 kota percepatan pembangunan PLTSa melalui Perpres Nomor 35 Tahun 2018 dan saat ini pemerintah telah mengidentifikasi sekitar 33 kota yang memerlukan percepatan pembangunan PLTSa. Langkah ini menegaskan bahwa kebutuhan solusi Waste-to-Energy di Indonesia semakin mendesak dan berskala nasional.

Peran Teknologi dan Kolaborasi Swasta

Di sisi swasta, SUS Environment melalui presentasi Executive Vice President SUS International sekaligus Chief Representative Indonesia, Stephen Yee, memperkenalkan teknologi pengolahan sampah termal yang mencakup waste bunker, incineration system, heat utilization, dan FABA treatment.

SUS juga menekankan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam sistemnya. AI ini dikembangkan untuk memberi rekomendasi yang cepat dan akurat, mendukung operator serta pemerintah daerah dalam mengambil keputusan.

“AI bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan untuk memperkuat kapasitas kita dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah,” jelas Stephen.

Teknologi ini dinilai dapat membantu menekan biaya operasional sekaligus mempercepat kontribusi Indonesia terhadap pengurangan emisi karbon.

Kolaborasi Regional

Kongres ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya isu nasional, melainkan juga isu kawasan. Melalui forum ASEAN, diharapkan terbangun kolaborasi lebih erat dalam pertukaran teknologi, pembiayaan, dan best practices pembangunan PLTSa, sehingga transformasi pengelolaan sampah di Indonesia dapat berjalan lebih cepat, terukur, dan berkelanjutan.