Kongres Nasional Kompeten Sukses Digelar, Sasar Penciptaan Lapangan Kerja
·waktu baca 4 menit

Sesuai visi Indonesia emas 2045, Pembangunan SDM menjadi prioritas utama di antara lima arahan strategis dalam pembangunan nasional kepemimpinan Presiden Jokowi. Menuju visi tersebut, Indonesia dihadapkan dengan tantangan ketenagakerjaan.
Tantangan itu seperti besarnya penduduk yang bekerja di sektor informal, belum maksimalnya perlindungan ketenagakerjaan, serta tenaga kerja yang masih didominasi pekerja dengan keterampilan rendah.
Disrupsi pandemi dan perkembangan teknologi menjadi faktor yang menambahkan tuntutan untuk akselerasi peningkatan kompetensi SDM Indonesia.
Hal ini yang mendorong Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) melaksanakan Kongres Nasional Indonesia Kompeten II pada 28-29 Oktober 2021 dengan mengangkat tema “Akselerasi SDM Kompeten dalam Penciptaan Lapangan Kerja dan Kewirausahaan menuju Indonesia Maju”.
Sukses menghadirkan 3.000 peserta, GNIK menghadirkan 10 talkshow yang ditujukan untuk membahas secara holistik terkait ketenagakerjaan, melibatkan Staf Kepresidenan, Kemenko Perekonomian, Kemnaker, Kemendikbudristek, KemenPANRB, dan Kementerian BUMN.
Kongres ini dilaksanakan demi mensinergikan suatu gerakan nasional untuk memastikan keterampilan dan kompetensi SDM Indonesia di semua sektor Industri termasuk mewujudkan link-and-match pendidikan, pemerintah, tenaga kerja dan industri untuk meningkatkan penciptaan lapangan kerja dan kewirausahaan di Indonesia.
Sebagai salah satu bentuk nyata sumbangan GNIK, Kongres Nasional Indonesia Kompeten II meluncurkan buku yang berjudul “Bersiap Melompat Jauh”. Berisikan hasil pemikiran Top HR Leaders mengenai tantangan SDM masa depan; profil SDM yang dibutuhkan; serta cara mempersiapkan SDM, perusahaan, dan pemimpin masa depan.
Bekerja sama dengan Kompas Gramedia, 5.035 cetakan buku ini akan dipersembahkan kepada pemerintah dan juga akan disumbangkan kepada praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, serta calon tenaga kerja masa depan.
Kongres dua hari ini dibuka dengan pidato kunci Menko PMK, Muhadjir Effendy. Ia menyampaikan apresiasinya atas pemilihan tema KNIK II yang tepat dengan perspektif pembangunan manusia Indonesia dan kebudayaan.
“Tema (KNIK II) ini sangat tepat dengan perspektif kemenko PMK, siklus pembangunan manusia Indonesia dalam etape mengkompatibilitaskan jumlah dan kualifikasi tenaga kerja dengan ketersediaan lapangan kerja.” puji Muhadjir.
Hadir pula sebagai panelis dalam sesi talkshow “Akselerasi Talenta SDM menuju Indonesia Maju”, Kepala Staf Presiden, Moeldoko. Dalam sambutannya, ia juga mengutarakan pembangunan SDM Unggul membutuhkan pendekatan holistik.
“Dibutuhkan pendekatan holistik dan jangka panjang mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga penciptaan lapangan kerja.” ungkap Moeldoko.
Pentingnya kolaborasi semua pemangku kepentingan baik pemerintah pusat maupun daerah juga disampaikan Gibran Rakabuming Raka selaku Wali Kota Solo.
Sejalan dengan pentingnya pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pihak, Kongres Nasional Indonesia Kompeten II turut menghadirkan pihak pemerintah daerah, praktisi di perusahaan swasta dan publik, BUMN, serta start-up sebagai narasumber untuk mensinergikan upaya pembangunan SDM Indonesia.
Membahas upaya menjembatani isu link-and-match dunia pendidikan dan dunia industri salah satu upaya pembangunan SDM di Indonesia yang dilakukan Kemendikbudristek menurut Dirjen Diktiristek, Prof Nizam, adalah dengan program Kampus Merdeka.
Pemagangan bersertifikasi juga merupakan salah satu program dalam kerangka besar untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang disampaikan oleh Sekjen Kemnaker, Anwar Sanusi.
Sejalan dengan upaya tersebut, Direktur Bina Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi dan Pemagangan Kemnaker, M. Ali, menyampaikan upaya yang dilakukan melalui pemagangan, pelatihan mentor, serta pelatihan dalam Lembaga Pelatihan Kerja atau Balai Latihan Kerja.
Selain menjembatani dunia pendidikan dan dunia industri, sertifikasi juga menjadi penting sebagai acuan kelayakan kerja SDM sesuai pernyataan Ketua BNSP, Kunjung Masehat.
“Ijazah tidak menjamin orang untuk dapat pekerjaan, maka saat ini yang diperlukan adalah bagaimana kompetensi menjadi acuan untuk keberkerjaan. Sehingga ketika perusahan melakukan rekrutmen kepada para tenaga kerja, fokuskan tidak hanya ijazah tetapi terdapat sertifikasi.” ungkap Kunjung.
Strategi peningkatan SDM Indonesia tersebut perlu diiringi dengan transformasi tenaga kerja. Aparatur Negara dan BUMN telah melakukan transformasi dalam pengelolaannya seperti pembangunan arsitektur Human Capital, seperti yang disampaikan Deputi SDM Aparatur KemenpanRB, Alex Denni.
Sementara itu, Deputi SDM dan TI Kementerian BUMN, Tedi Bharata, memastikan BUMN harus merangkul swasta dan juga UMKM dalam penyerapan tenaga kerja.
Selain narasumber-narasumber tersebut, perspektif ini juga semakin dilengkapi dari Avanti Fontana selaku Koordinator Gugus Tugas Managemen Talenta Nasional Kantor Staf Presiden, Asep Sukmayadi selaku Kepala Pusat Prestasi Nasional.
Kemudian, Danny Ardianto selaku Head of Government Affairs and Public Policy Google Indonesia, M. Aditya Warman selaku Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, dan banyak lagi pembicara kompeten lainnya.
GNIK sebagai sebuah gerakan akan terus memperkokoh kompetensi praktisi manajemen SDM, namun akan bergerak beyond HR sehingga mulai 2021 sudah masuk ke kalangan mahasiswa.
Dengan program pengembangan talenta masa depan yang berisikan program pemagangan mahasiswa di industri dan studi independen bersertifikat yang sudah dimulai pada November 2021.
Lalu pada awal 2022 sudah memulai program intervensi ke kampus-kampus untuk mulai memoles para mahasiswa dalam turut mempercepat kontribusinya di dunia usaha dan industri.
