Konsep Kampung Sedekah di Ciracas: Dari, Untuk, dan Kembali ke Warga

Kampung Sedekah adalah salah satu program dari Yayasan Sedekah Ngider Indonesia. Pencetusnya tidak lain adalah pimpinan yayasan tersebut, yakni Taufik Ary.
Kampung Sedekah, kata Taufik, berawal dari keinginannya untuk bertaubat dan salah satu caranya adalah dengan bersedekah.
“Saya jujur merasa dulu banyak sekali dosa, saya berpikir bagaimana caranya menghapus dosa tersebut, ternyata dari ilmu agama sedekah adalah salah satu cara menghapus dosa kita,” ujar Taufik kepada kumparan di Kampung Baru, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (13/9).
“Lalu, kalau kita bisa mengajak semakin banyak orang bersedekah, kita akan mendapat imbalan pahala tanpa dikurangi sedikit pun, motivasi itu yang bikin semangat membangun perkampungan sedekah,” ujar Taufik.
Taufik pun mulai mengajak warga RW 09 dan RW 10 di Kampung Baru, Ciracas untuk bersedekah. Masing-masing warga diberikan sebuah kencleng secara gratis untuk tempat menyisihkan sebagian rezeki mereka.
“Ada sekitar 1.000 kencleng yang kita bagikan ke 1.000 keluarga di sini,” ujar Taufik.
Kencleng itu kemudian dikumpulkan setiap satu bulan sekali. Taufik merekrut satu warga di setiap RT untuk membantunya mengumpulkan kencleng-kencleng tersebut.
Biasanya relawan merupakan ibu-ibu setempat. Namun tidak sembarang orang yang bisa menjadi relawan, ada syarat yang harus dipenuhi.
“Dia harus dipercaya oleh warga di tempatnya, punya surat rekomendasi dari warga, menyerahkan KTP, dan dokumen lainnya,” kata Taufik.
Setelah dikumpulkan, sedekah dari warga akan dihitung oleh Yayasan Sedekah Ngider Indonesia. Yayasan ini juga yang akan mengelola serta menyalurkan sedekah sesuai kebutuhan.
“Jadi konsep kampung sedekah sendiri adalah dari masyarakat, untuk masyarakat, dan kembali ke masyarakat. Uang-uang sedekah yang terkumpul ke masyarakat itu akan kita kembalikan ke masyarakat secara utuh,” kata Taufik.
“Kita akan kembalikan dengan program-program yang disesuaikan dengan kebutuhan kampung tersebut,” ujar Taufik.
Program yang sudah dijalankan pun beragam. Mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan dana kesehatan, wirausaha, pendidikan, santunan, pembangunan infrastruktur kampung, hingga pembangunan masjid.
Setiap 6 bulan sekali, Yayasan Sedekah Ngider Indonesia akan membuat laporan yang akan disampaikan langsung kepada warga Kampung Sedekah. Laporan ini juga bisa diakses langsung lewat website yayasan.
“Kita semua terdata ya, artinya setiap program selalu kita buatkan laporan, setiap 6 bulan kita buat laporan, nanti setiap masyarakat itu mendapat buletin itu bentuk laporan kita, saldo dapat sekian dan kita buat apa saja,” jelas Taufik.
Dalam sebulan, Taufik mengatakan warga bisa mengumpulkan sedekah sejumlah Rp 10-12 juta. “Jadi per tahun kira-kira bisa Rp 100 juta sampai 120 juta,” kata Taufik.
Taufik bercerita, pada awalnya cukup sulit mengajak warga untuk bersedekah. Dia dan kawan-kawan Yayasan Sedekah Indonesia bahkan sempat dituduh ISIS hingga teroris.
“Tapi setelah kami beri penjelasan dan mereka merasakan dampaknya, akhirnya mereka menikmati program kampung sedekah ini,” kata Taufik.
Hingga saat ini Taufik mengatakan sudah ada 5 kampung di Indonesia yang menjalankan program Kampung Sedekah. Yakni di Kampung Baru di Ciracas, Palu, Ciledug, dan Depok.
Kampung-kampung lainnya pun dipersilahkan apabila tertarik untuk mengikuti program ini.
“Kalau mengajukan kampung sedekah mudah saja, hanya cukup mengisi formulir secara online, dan surat pernyataan lingkungan setempat,” kata Taufik.
