Kontroversi Calon Dubes Malaysia di RI: Bermulut Kasar hingga Dugaan Korupsi

Calon Duta Besar baru Malaysia untuk Indonesia, Tajuddin Abdul Rahman, adalah seorang pria yang memiliki catatan sejarah kontroversi panjang dalam karier politiknya. Dia dikenal sebagai sosok gegabah yang kerap berkata kasar di muka publik.
Ditunjuknya Tajuddin oleh Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakoob sebagai wakil Malaysia di Jakarta pada Rabu (18/5/2022) menuai beragam kritik. Bahkan, sebuah petisi yang dirilis tak lama setelah pengumuman itu, berhasil menggalang lebih dari 21 ribu tanda tangan sejauh ini.
"Tajuddin sama sekali tidak pantas memegang posisi ini dan mewakili Malaysia, apalagi posisi apa pun di pemerintahan. Dia hanyalah sebuah tong kosong," tulis salah satu penandatangan petisi, Yuen Kheong Shem seperti dikutip dari SCMP.
Banyak warga dan politisi Malaysia menilai anggota parlemen itu tak pantas untuk menyandang gelar diplomat karena wataknya yang kasar dan angkuh.
Berikut telah kumparan rangkum momen-momen Tajuddin menuai kontroversi sepanjang perjalanan karirnya:
'Pria Enam Juta Dolar'
Pada 1995, Tajuddin dipecat oleh Dewan Tertinggi di Partai Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO) akibat keterlibatannya dalam politik uang. Dia dituduh telah membayar suap sebesar RM 6 juta (Rp 20 miliar) untuk mendapatkan jabatan sebagai kepala divisi Pasir Salak.
Dia juga terlibat dalam dugaan korupsi pemberian konsesi RM1,3 miliar (RP 4 triliun) selama 23 tahun kepada perusahaannya untuk membangun kampus Universitas Teknologi Mara (UiTM) Tapah, demikian dikutip dari Malaymail.
Namun, pencopotan jabatannya tak berlangsung lama. Tiga tahun kemudian, dia terpilih kembali untuk menjadi bagian partai UMNO tanpa syarat. Pada 2000, Tajuddin terpilih sebagai wakil kepala UMNO untuk Pasir Salak.
Kendati demikian, reputasinya terus menghantui Tajuddin. Dia meraih julukan 'pria enam juta dolar' berkat kasus suap tersebut.
Pada 2008, Tajuddin mengancam akan menuntut anggota Partai Keadilan Rakyat (PKR) Azmin Ali yang memanggilnya dengan julukkan itu.
Tajuddin vs. Kulasegaran
Beberapa bulan kemudian, dia mencaci maki anggota parlemen M. Kulasegaran yang mewakili Teluk Intan. Sebab, Kulasegaran mengatakan bahwa Tajuddin dibenci oleh orang India di Pasir Salak.
Membalas pernyataan itu, Tajuddin menyebut Kulasegaran sebagai bajingan di hadapan parlemen. Dia lalu menantang Kulasegaran untuk menyelesaikan masalah ini di luar gedung DPR.
"Bagaimana kamu tahu itu, bajingan? Tunjukan buktinya," teriaknya kepada Kulasegaran.
Masalah antara Tajuddin dan Kulasegaran tidak berakhir di situ. Pada April 2010, Kulasegaran mengaku dia diancam akan diserang oleh Tajuddin. Kulasegaran mengatakan, Tajuddin mengancam akan memukulinya.
"Dia mengeklaim bahwa saya telah menodai namanya dan saya diperingatkan bahwa bila saya tidak berhenti, dia akan mengirim orang ke daerah pemilihan saya dan memukuli saya," kata Kulasegaran kepada DPR.
"Saya bingung dengan tindakannya, dan saya berharap DPR akan melakukan penyelidikan," sambung dia.
Keduanya lantas dipanggil oleh Ketua Dewan Rakyat saat itu, Tan Sri Pandikar Amin Mulia, untuk menjelaskan dugaan ancaman.
Amin kemudian memberikan peringatan keras kepada Tajuddin untuk tidak melecehkan Kulasegaran.
Akan Tampar Warga China-Malaysia
Pada 2015, Tajuddin mengancam akan menampar warga China-Malaysia bila mereka membawa komplain dan keluhannya ke luar negeri. Dia saat itu menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian dan Industri Berbasis Agro Malaysia.
Menghadapi kritik, Tajuddin beralasan bahwa pernyataan tersebut hanyalah lelucon. Dia juga sempat mengeklaim media salah mengutip pernyataannya. Tajuddin menegaskan, pernyataan semacam itu tidak cocok untuk politisi veteran sepertinya.
"Bagaimana saya bisa menggunakan kata lempang (tampar) dan sebagainya? Itu bahasa anak sekolah. Reporter ini, saya tidak mengerti dia. Itu adalah interpretasinya," ungkap Tajuddin.
"Saya bukan anak muda. Bagaimana saya bisa menggunakan kata seperti itu! Jika saya mengatakan sesuatu, itu harus sesuai dengan status saya sebagai politisi veteran. Bagaimana saya bisa menggunakan kata-kata bodoh seperti itu!" serunya.
Bela Hidup Mewah PM Najib
Tajuddin kembali menimbulkan kontroversi pada 2016 ketika dia membela gaya hidup mewah perdana menteri saat itu, Najib Razak, dan istrinya, Rosmah Mansor.
Dia mengatakan, sangat normal bagi seseorang membeli tas mahal bagi orang yang tersayang.
"(Hanya) satu atau dua tas, mengapa tidak? Dia seorang wanita, saya tahu gadis-gadis suka tas. Saya diberitahu bahwa salah satu cara untuk mengambil hati seorang gadis adalah dengan membelikan tas," ungkapnya.
Pernyataan Tajuddin merupakan tanggapan atas artikel dari Wall Street Journal dan Sarawak Report. Artikel tersebut mengeklaim Najib dan keluarganya menghabiskan USD 15 juta (Rp 219 miliar) untuk berlibur, berbelanja, dan mengoleksi perhiasan.
"Cara mereka berlibur biasa saja," katanya.
Penghinaan Terhadap Anggota Parlemen
Di tahun itu juga, Tajuddin menghadapi kritik setelah dia mengatakan bahwa satu-satunya wanita yang memiliki 'kok' ada di Seputeh. Pernyataan ini merujuk pada anggota parlemen Seputeh, Teresa Kok.
Tajuddin seolah-olah menyamakan nama belakang Teresa dengan kata 'cock' yang merupakan alat kelamin pria dalam bahasa Inggris.
"Seputeh, kenapa? Satu-satunya wanita dengan 'kok' adalah di parlemen Seputeh," ujar Tajuddin sambil tertawa seperti dikutip dari Malaysiakini.
Tajuddin kembali menghina anggota parlemen pada 2020. Perdebatan sengit muncul di Dewan Rakyat setelah Tajuddin menyebut anggota parlemen Muar Syed Saddiq Abdul Rahman sebagai 'budak' yang berarti 'anak' dalam bahasa Melayu.
"Duduk, duduk dulu, Nak. Duduk, belajar lebih banyak, banyak lagi yang perlu dipelajari. Buang-buang waktumu, waktuku," katanya sebelum tertawa terbahak-bahak.
Buat Lelucon soal Kecelakaan
Setahun kemudian, Tajuddin dikecam publik setelah membuat lelucon di tengah konferensi pers kecelakaan LRT di KLCC. Kecelakaan pada Mei 2021 tersebut mencederai puluhan orang. Tiga di antaranya harus menjalani perawatan intensif.
Tajuddin saat itu menjabat sebagai ketua Prasarana Malaysia. Dia lantas dikritik akibat tidak hadir di lokasi kecelakaan. Tajuddin baru muncul di muka publik saat konferensi pers yang berujung kacau.
Dia menggambarkan insiden tersebut sebagai dua kereta yang berciuman dengan satu sama lain sambil tertawa.
Menyusul komentar tersebut, warga Malaysia lantas membuat petisi menuntut Tajuddin untuk mundur dari jabatannya. Petisi tersebut pada akhirnya ditandatangani oleh 139.600 orang.
Pria berusia 74 tahun itu kemudian dicopot dari jabatannya oleh Kementerian Keuangan dua hari usai konferensi pers.
Penulis: Airin Sukono.
