Korban Jiwa di Gaza dan Tepi Barat Capai 12.012 Orang, 32 Ribu Lainnya Terluka

19 November 2023 6:49 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sejumlah instalasi yang menampilkan simbolis mayat anak-anak Gaza diletakkan di alun-alun Palestina di Kota Teheran, Iran, pada Senin (13/11/2023). Foto: WANA via REUTERS
ADVERTISEMENT
Agresi militer Israel hingga Sabtu (18/11) telah menewaskan setidaknya 12.012 orang rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Sementara itu, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina, lebih dari 32.300 orang lainnya terluka.
ADVERTISEMENT
Dari jumlah itu, 11.800 korban tewas berada di Jalur Gaza. Sedangkan korban luka di Jalur Gaza mendapat 29.500 orang dan 2.800 sisanya berada di Tepi Barat.
Selain itu masih ada ribuan korban lainnya yang saat ini masih hilang dan kemungkinan terjebak di bawah reruntuhan dalam keadaan terluka atau meninggal dunia.
Dilansir media Palestina, Wafa, Kementerian Kesehatan Palestina mengungkapkan kondisi ini dipersulit dengan gangguan telekomunikasi yang parah selama sepekan terakhir di Jalur Gaza. Layanan medis dan telekomunikasi di Jalur Gaza telah runtuh oleh serangan militer Israel.
Para pria memeriksa jenazah orang-orang yang tewas dalam pemboman yang menghantam sebuah sekolah yang menampung warga Palestina yang terlantar, saat mereka terbaring di halaman rumah sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada 10 November 2023. Foto: AFP
Saat ini, dari 35 rumah sakit yang beroperasi di seluruh Gaza hanya tinggal sembilan saja yang beroperasi. Sedangkan klinik kesehatan primer yang awalnya berjumlah 72 klinik, kini tinggal 20 saja.
ADVERTISEMENT
Seluruh rumah sakit dan klinik tersebut harus tutup dan berhenti beroperasi karena rusak akibat serangan udara Israel atau kekurangan bahan bakar. Sementara fasilitas medis yang tersisa saat ini sudah mencapai kapasitas maksimal.
Di wilayah utara, dari 24 rumah sakit, hanya tinggal satu saja rumah sakit yang masih berfungsi, yaitu Rumah Sakit Baptis Al-Ahli. Rumah sakit ini pun sedang menghadapi kesulitan akibat kapasitas yang sudah penuh dan bahan bakar serta obat-obatan yang terbatas.
Rumah Sakit Indonesia yang dibangun 100% dari dana sumbangan masyarakat Indonesia saat ini pun sudah tutup karena kehabisan bahan bakar.