Korban Kebakaran Sade Harap Hunian Segera Dibangun, Alat Tenun-Dagangan Ludes

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara memperlihatkan kondisi pascakebakaran yang menghanguskan Dusun Sade, desa adat suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Stringer/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara memperlihatkan kondisi pascakebakaran yang menghanguskan Dusun Sade, desa adat suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Warga korban kebakaran Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, berharap pemerintah segera membangun kembali tempat tinggal mereka.

Bagi warga, rumah yang terbakar bukan hanya tempat berlindung, tetapi juga menjadi ruang untuk mencari mata pencaharian dan menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.

Foto udara memperlihatkan kondisi pascakebakaran yang menghanguskan Dusun Sade, desa adat suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (23/8/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Salah seorang korban, Inaq Aris (52), mengatakan dirinya bersama warga terdampak lainnya kini masih tinggal sementara di rumah kerabat. Ia berharap hunian warga dapat segera dibangun kembali agar kehidupan masyarakat bisa kembali berjalan.

“Saya berharap dibangun kembali seperti sedia kala,” ujar Inaq Aris.

Menurutnya, kebakaran tidak hanya menghanguskan rumah dan barang-barang pribadi. Peralatan yang selama ini digunakan untuk membuat kain tenun sebagai sumber penghasilan juga ikut terbakar.

Kemensos menyalurkan bantuan bagi warga terdampak kebakaran di Kampung Adat Wisata Sade, Lombok Tengah, NTB, Minggu (23/8/2026). Foto: Kemensos RI

Tidak ada alat tenun miliknya yang berhasil diselamatkan. Bahkan, kain songket yang telah dibuatnya dalam waktu lama dan rencananya dijual kepada wisatawan turut musnah dalam kebakaran.

“Banyak kerugian saya. Saya punya dua tempat jualan. Yang bisa saya selamatkan hanya lima songket dan selimut jualan,” katanya.

Inaq Aris mengaku belum dapat menghitung secara pasti total kerugiannya. Selain kehilangan tempat tinggal, ia juga kehilangan peralatan produksi dan sebagian besar barang dagangan yang menjadi sumber pendapatan keluarga.

Kondisi tersebut membuat pemulihan warga tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali rumah, tetapi juga pemulihan mata pencaharian.

Inaq Aris, warga Desa Sade, korban kebakaran. Foto: kumparan

Bagi masyarakat Sade, aktivitas menenun dan menjual hasil kerajinan selama ini berkaitan erat dengan kehidupan ekonomi sekaligus tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

"Dari kecil kami diajari untum menenun, dan itu dari papuq baloq (leluhur) saya," kata Inaq Aris.

Kebakaran Kampung Adat Sade terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api dengan cepat menjalar dan menghanguskan sejumlah rumah serta fasilitas di kawasan permukiman adat.

Pascakebakaran, sebagian warga masih mengungsi di rumah keluarga atau kerabat. Bantuan berupa makanan, pakaian, selimut, dan kebutuhan pokok mulai berdatangan untuk memenuhi kebutuhan warga selama masa pemulihan.