Korban Keracunan Massal MBG di Kabupaten Bandung Barat Bertambah Jadi 411 Siswa

Jumlah siswa yang mengalami keracunan massal usai mengkonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), pada Senin (22/9/2025), terus bertambah.
Pada Selasa (23/9) jumlah korban tercatat 364 siswa. Hingga Rabu (24/9) bertambah menjadi 411 siswa.
Sebanyak 47 di antaranya masih dirawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan dan 364 orang lainnya menjalani perawatan jalan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Lia N. Sukandar, menjelaskan korban keracunan masih terus berdatangan ke posko kesehatan di GOR Kecamatan Cipongkor meski jumlahnya tak sebanyak hari pertama.
"Berdasarkan data yang kami dapat dari petugas Puskesmas, korban masih terus berdatangan meski tak sebanyak kemarin. Sampai saat ini belum ada laporan kematian," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (24/9).
Adapun ratusan korban ditangani di sejumlah Posko Kesehatan di antaranya Posko Puskesmas Cipongkor sebanyak 93 orang, semua telah dinyatakan sembuh dan telah dipulangkan.
RSUD Cililin menangani sebanyak 35 orang, terdiri dari 16 pasien masih menjalani rawat inap dan 19 pasien rawat jalan yang sudah pulang.
Selain itu, Posko GOR Kecamatan merawat sebanyak 255 orang, dengan 15 pasien masih dalam perawatan dan 240 pasien berobat jalan.
Kemudian di RSIA Anugrah sebanyak 22 orang, terdiri dari 10 pasien masih menjalani rawat inap dan 12 pasien rawat jalan yang telah pulang. Terakhir di Klinik Permata Hati sebanyak 6 orang, semuanya masih menjalani rawat inap.
Sesak Napas dan Kejang
Gejala yang paling banyak dialami oleh para korban antara lain mual 288 orang, pusing 159 orang, muntah 109 orang, sakit perut 112 orang, sesak napas 100 orang, lemas 78 orang, sakit kepala 45 orang, demam 52 orang, diare 36 orang, serta kejang yang dialami oleh 2 orang.
Lia menambahkan, pihak Puskesmas dan rumah sakit terkait tetap berkoordinasi untuk memastikan penanganan yang optimal bagi para korban.
"Kami terus melakukan pemantauan dan perawatan intensif untuk memastikan kondisi korban membaik. Kami juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan agar kejadian serupa tidak terulang," katanya.
Penyebab: Dimasak Dini dan Menu Tidak Segar
Untuk mengetahui penyebab keracunan, Dinas Kesehatan telah mengirimkan sampel muntahan siswa dan sisa makanan ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat.
Menu MBG yang disantap korban adalah ayam kecap, tahu goreng, sayur, dan buah.
"Kami bawa sampel muntahan ke Labkesda Jabar. Kalau menunya ada tahu, ayam kecap, sayur," kata Lia N. Sukandar.
Lia mengatakan berdasarkan keterangan dari siswa yang mengalami keracunan, mereka mencium bau tak sedap ketika membuka kotak MBG berbahan stainless tersebut. Kebanyakan siswa tak menghabiskan makanan tersebut.
"Iya katanya ada bau tidak sedap dari makanannya, memang rata-rata seperti itu pengakuannya. Gejala yang dirasakan seperti muntah, mual, dan sesak napas," kata Lia.
Sementara itu, Koordinator Sarana Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wilayah Bandung Barat, Gani Djundjunan, menyebut dugaan kuat penyebab keracunan adalah proses memasak yang dilakukan terlalu dini.
“Menurut info terakhir, menunya dimasak terlalu pagi, sehingga saat sampai ke sekolah kondisinya sudah tidak bagus,” katanya.
Setiap hari, dapur SPPG yang memasok makanan ke sekolah di Cipongkor memasak sekitar 3.467 porsi. Atas arahan Badan Gizi Nasional (BGN), dapur tersebut kini ditutup sementara untuk evaluasi dan investigasi.
“Jadi dapurnya ditutup sementara sambil menunggu hasil evaluasi. Nanti akan dilihat apa yang salah atau ada kelalaian,” ucapnya.
