Korban Kosmetik Ilegal: Muncul Stretch Mark di Kulit dan Harus Dilaser

"Kulit di bagian pahaku muncul stretch mark kayak mau robek," ujar Rika.
Rika, perempuan berusia 24 tahun itu merupakan salah satu korban kosmetik ilegal yang dijual secara online di Instagram. Kisah pilu Rika bermula ketika bertemu dengan teman lamanya. Saat itu Rika terkejut karena teman lama yang dulu terkenal dekil dan kumal berubah menjadi putih bersih.
Dia lantas bertanya apa rahasia hingga membuat kulit temannya itu berubah. Sejak dulu Rika memang ingin kulitnya yang berwarna gelap bisa menjadi putih dan bersih. Berbagai cara sudah dicoba, mulai dari membeli krim pemutih hingga suntik vitamin C, tapi semua sia-sia.
Informasi krim pemutih dari teman lama itu bak angin surga bagi Rika. Tanpa menunggu lama, dia langsung memesan krim tersebut kepada online shop di Instagram. Rika percaya karena melihat endorse dari beberapa selebgram dan testimoni pengguna yang semuanya merespons bagus.
Dan betul saja, baru tiga bulan pemakaian, kulitnya berubah drastis. Kulit bagian paha dan tangannya menjadi kering sehingga mengelupas, berganti dengan kulit yang baru, yang lebih putih.

"Aku dulu yang kulitnya hitam jadi putih banget," ujar Rika.
Orang-orang di sekeliling Rika tak menyangka dengan perubahan penampilannya yang baru. Banyak dari mereka tergiur ingin menjajal krim yang Rika pakai.
Peluang itu lantas diambil, Rika menjadi reseller krim pemutih yang dipakainya. Kala itu responnya bagus dan banyak yang cocok dengan krim dan losion pemutih itu.
Namun kondisi itu tak berlangsung lama. Di bulan ke-8 pemakaian, kulit bagian paha muncul stretch mark seperti luka cakar. Dia sempat berpikir stretch mark di tubuhnya karena kenaikan berat badan. Tetapi setelah dicek, penyebab utamanya adalah losion yang ia pakai. Produk kecantikan itu juga tidak terdaftar di BPOM.

Bukan hanya Rika yang mengalami kerusakan kulit, teman-teman yang membeli losion pemutih di Rika, banyak yang komplain. Di tubuh teman-temannya muncul bintik-bintik merah dan stretch mark. Bahkan keadaan stretch mark mereka jauh lebih parah dibanding Rika.
Sejak saat itu Rika memutuskan untuk menghentikan pemakaian losion pemutih abal-abalnya. Ia mencari cara untuk menghilangkan stretch mark pada kaki dan tangannya, salah satunya dengan melaser tubuhnya. Upaya itu cukup berhasil meski luka cakaran tersebut tak bisa hilang seutuhnya.
"Jauh lebih baik sekarang karena warnanya sudah hampir sama, ya tetap gitu ada bopeng-bopeng," keluh Rika.

Bukan hanya Rika, hal serupa juga dialami oleh Fitri. Impian memiliki wajah cerah dan kenyal bak bayi gagal total karena krim wajah merek Cream Rose yang ia beli di online shop. Wajahnya kini malah penuh dengan jerawat.
Awalnya Fitri sempat berpikir jerawat yang muncul karena efek penggunaan krim untuk mengeluarkan semua kotoran seperti yang dikatakan oleh penjual krim tersebut. Namun berbulan-bulan pemakaian hingga habis satu botol, muka mulusnya malah makin ditumbuhi jerawat bahkan hingga ke leher.
Setelah merasakan tidak ada perubahan akhirnya Fitri memutuskan untuk berhenti. Dia juga baru menyadari krim wajah yang ia pakai tidak terdaftar di BPOM.
"Belum BPOM, kata penjualnya ngurus BPOM itu mahal terus ribet lah gitu, dan bodohnya percaya gitu aja aku pas lihat story Dokter Mita (dokter kecantikan) baru sadar kalau aku salah satu korban kosmetik abal-abal," ujar Fitri saat dihubungi kumparan, Rabu (19/12).
Kini hanya penyesalan yang Fitri rasakan. Ia mencoba menyembuhkan kulit wajahnya dengan berobat ke klinik kecantikan ternama. Wajahnya saat ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Fitri berpesan agar tidak mudah tergiur dengan kosmetik murah, apalagi tidak ada label BPOM.
Simak selengkapnya dalam konten spesial dengan topik Endorsement Kosmetik Ilegal.
