Korban Meninggal Kebakaran Ngaben Massal di Bali Bertambah Jadi 3 Orang

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tabung minyak Kompor pembakar jenazah meledak saat ngaben massal di Desa Adat Selat, Desa Belega Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, Jumat (19/8) malam. Foto: Humas Polda Bali
zoom-in-whitePerbesar
Tabung minyak Kompor pembakar jenazah meledak saat ngaben massal di Desa Adat Selat, Desa Belega Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, Jumat (19/8) malam. Foto: Humas Polda Bali

RSUP Prof IGNG Ngoerah melaporkan satu korban meninggal saat ledakan tabung minyak kompor saat upacara ngaben massal di Kuburan Desa Adat Selat, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali.

Korban berinisial KAW (32) mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (27/8) sekitar pukul 23.45 WITA. Korban mengalami luka bakar 74 persen. Dengan ini, sudah tiga korban meninggal dalam insiden ini.

"Turut berduka cita atas meninggalnya korban ngaben massal. Korban ketiga di mana korban mengalami luka bakar lebih dari 74 persen ditambah ada tanda trauma jalan napas," kata Staf Medis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik RSUP Prof IGNG Ngoerah, Dr. dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, SpBP-RE(K), FICS kepada wartawan, Senin (29/8).

Agus menuturkan penyebab kematian adalah kegagalan napas akibat faktor metabolik luka bakar dan terjadinya infeksi pada luka bakar.

"Jadi pasien penyebab kematiannya adalah kegagalan napas karena faktor metabolik, luka bakar yang begitu dalam, belum bisa kita tutup dengan jaringan kulit yang sangat minim, yang enggak bisa kita tutup segera sehingga pasien tidak survive," bebernya.

Agus mengatakan, korban mengalami luka bakar hingga ke jaringan otot dengan tingkat luka kategori berat. Korban sempat menjalani operasi pembuangan jaringan mati pada 22, 23 dan 26 Agustus 2022.

Ilustrasi bakar diri. Foto: AFP/YURI CORTEZ /

Namun, kondisi pasien memburuk karena tidak ada kulit korban yang bisa menggantikan jaringan kulit mati yang dibuang. Selama dalam perawatan, pasien juga mengidap penyakit hipertensi yakni 200/160 mmHg.

"Kami dapatkan pasien (mengidap) hipertensi sebelum dirawat dengan luka bakar. Hal ini secara metabolik ikut berpengaruh terhadap pasien dengan segala upaya yang kita lakukan dokter bius, penyakit dalam, jantung. Pada Sabtu siang jam 14.00 pasien mengalami napas cukup berat," katanya.

Dokter sempat memberikan alat bantu pernapasan inkubasi untuk membantu pasien bernapas. Dokter juga memberikan obat bius dosis tinggi untuk membantu pasien tenang dan tertidur saat pemasangan alat bantu napas. Namun, kondisi pasien tetap memburuk.

"Pada pukul 22.45 WITA, pasien sempat kita lakukan resistor jantung dan otak. Kita lakukan penanganan gagal napas dan jantung setiap 15 kali hingga pasien dinyatakan meninggal," katanya.

RSUP Prof IGNG Ngoerah juga merawat tiga korban lainnya. Korban IGP (11) yang mengalami luka bakar mencapai 38 persen telah menjalani operasi pembuangan dan pembersihan jaringan kulit mati sebanyak dua kali.

Ilustrasi mayat. Foto: Shutterstock

Sebagian kulit pasien juga telah tumbuh menjadi kulit baru sebanyak 6-8 persen, terutama pada bagian wajah. Agus berharap pasien bertahan sebab fase kritis masih akan terjadi. Korban sempat kritis empat hari yang lalu.

"Sehingga luka bakar tinggal 29-30 persen dan Kondisi stabil," paparnya.

Korban INP (32) yang mengalami luka bakar 54 persen juga sudah menjalani operasi pembuangan dan pembersihan jaringan kulit mati sebanyak dua kali. Pasien belum stabil karena mengalami peradangan pada kulit.

Korban terakhir inisial IMB (50) mengalami luka bakar 43,5 persen juga telah menjalani operasi pembuangan dan pembersihan jaringan kulit mati sebanyak dua kali. Kondisi luka bakar tinggal 28 persen.

Insiden ledakan tabung minyak ini ini terjadi pada Jumat (19/8) lalu. Dua korban lainnya yang telah meninggal adalah IBO (34) dan IKG (14). IBO meninggal pada Sabtu (20/8) malam dengan kondisi luka bakar 94 persen dan IKG pada Minggu (21/8) dengan luka bakar 98 persen.