Korban Penyerangan Gereja Katolik Gaza oleh Israel: Ini Tindakan Biadab

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana kerusakan pada gereja Keluarga Kudus dalam serangan Israel di lingkungan Zeitoun, Gaza, Rabu (17/7/2025). Foto: Omar AL-QATTAA / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kerusakan pada gereja Keluarga Kudus dalam serangan Israel di lingkungan Zeitoun, Gaza, Rabu (17/7/2025). Foto: Omar AL-QATTAA / AFP

Penyerangan Gereja Katolik 'Keluarga Kudus' di Gaza menelan menewaskan sebanyak 3 orang, semuanya lansia. Bahkan menurut kesaksian salah satu korban, jumlah itu bisa lebih banyak bila tak ada peringatan dari Pastor Gabriel Romanelli--sosok yang beberapa kali ditelepon mendiang Paus Fransiskus untuk mengetahui kabar terkini di Palestina.

Mengutip Aljazeera, seorang korban selamat yang merupakan orang Palestina Kristen, Shadi Abu Dawoud (47), mengatakan aula utama gereja yang rusak usai diserang itu menampung puluhan warga yang mengungsi.

Bahkan, katanya, sebagian besar di dalamnya adalah anak-anak, lansia, dan semuanya adalah 'warga sipil yang cinta damai'.

"Ibu saya mengalami cedera serius di kepala; ia sedang berada di halaman gereja bersama para perempuan lanjut usia lainnya [ketika Israel menyerang]," ujarnya mengutip Aljazeera, Jumat (18/7).

Ia mengatakan semua orang di sana terkejut atas serangan itu dan mengutuknya.

"Kami terkejut dengan serangan udara Israel ini. Ini tindakan biadab dan tidak dapat dibenarkan," tambahnya.

Penyintas lainnya, Mohammed Abu Hashem (69), yang tinggal di samping gereja, mengatakan ia sedang berada di reruntuhan rumahnya ketika terjadi ledakan besar.

"Kengerian yang kami alami tak terlukiskan. Tak ada kata yang dapat menggambarkan apa yang kami alami. Bahkan jauh dari apa yang Anda tonton [di TV] atau dengar,” katanya.

Dua pelayat menangis saat pemakaman keluarga mereka yang tewas akibat serangan Israel Gereja Keluarga Kudus, di Kota Gaza, Kamis (17/7/2025). Foto: OMAR AL-QATTAA/AFP

Adapun mengutip laman Caritas Internationalis--lembaga amal Katolik di sana--salah satu stafnya yang ada di lokasi mengatakan sosok Romo Gabriel Romanelli--yang juga menjadi korban luka-luka--memiliki andil besar dalam menyelamatkan orang-orang di gereja itu dari serangan tersebut.

"Seandainya Pastor Gabriel tidak memperingatkan kita untuk tetap di dalam rumah, kita mungkin kehilangan 50 hingga 60 orang hari ini. Peristiwa itu pasti pembantaian," katanya.

Sebelum korban berjatuhan, mereka yang tewas disebutkan tengah menjalani aktivitas sehari-hari. Berikut rincian data korban:

Saad Salameh, 60 tahun, petugas kebersihan paroki: tewas saat berada di halaman gereja pada saat ledakan

Fumayya Ayyad, 84 tahun, tewas ditempat saat yang menerima tengah berada di tenda psikososial Caritas Internasionalis

Najwa Abu Daoud, 69 tahun, tewas saat duduk di dekat Fumayya ketika ledakan tersebut.

Adapun serangan Israel ke satu-satunya gereja Katolik di Gaza itu terjadi pada Kamis (17/7). Pihak Israel awalnya membantah melakukan serangan itu saat kabarnya mencuat ke publik, sebelum kemudian mengakuinya.

Akan tetapi, Israel membantah serangan itu sengaja menargetkan gereja dan berdalih rumah ibadah itu terkena serpihan tembakan tank IDF.