Korban Selamat Gempa Afghanistan Kesulitan Cari Makan dan Tempat Tinggal
ยทwaktu baca 3 menit

Mereka yang selamat dari salah satu gempa paling mematikan di Afghanistan kini harus menghadapi realita kehidupan yang pahit, di antara reruntuhan tempat tinggal mereka.
Orang-orang yang masih bertahan mengaku tak punya makanan dan kesulitan mencari tempat tinggal. Mereka pun takut akan kemungkinan datangnya wabah kolera di kamp-kamp pengungsi.
Di sebuah desa di Distrik Barmal, Provinsi Paktike, rumah-rumah yang dibangun dengan batu dan lumpur telah menjadi puing-puing yang berserakan di tanah.
Area tersebut adalah salah satu yang terkena dampak terburuk gempa. Sekitar 1.000 orang dilaporkan tewas dan 3.000 lainnya terluka di daerah itu.
Keluarga-keluarga di sana tampak diselimuti duka, hampir semuanya telah kehilangan kerabat dalam bencana ini.
Dari Barmal, butuh waktu tiga jam untuk mencapai kota besar terdekat. Lokasi yang terpencil membuat penduduk kesulitan untuk membawa korban terluka ke rumah sakit. Beberapa bahkan harus diterbangkan menggunakan helikopter militer Taliban.
Hingga saat ini, deru helikopter masih terdengar di langit Barmal. Namun, mereka tak lagi membawa korban terluka ke rumah sakit.
Kini, helikopter-helikopter itu membawa pasokan bantuan untuk dibagikan kepada korban selamat.
Kebutuhan yang paling mendesak adalah tempat tinggal sementara bagi ratusan keluarga yang kehilangan rumahnya.
Saat ini, mereka yang selamat di Barmal tinggal di tenda darurat, diapit oleh sisa-sisa rumah yang mereka bangun dengan susah payah.
Seorang pria tua terlihat terduduk di bawah tenda sementara lima anak kecil berlarian mengelilinginya. Khalid Jan harus bertanggung jawab mengurus kelima cucunya yang masih kecil tersebut.
Ayah mereka tewas dalam gempa gempa 6,1 M yang mengguncang Afganistan pada Rabu (22/6/2022) lalu.
"Hanya saya yang mereka miliki. Tetapi, rumah dan semua yang ada di sini telah hancur dan saya tidak akan pernah bisa membangunnya kembali," tutur Khalid, dikutip dari BBC.
Korban selamat lainnya, Agha Jan, terpaksa harus membentangkan selembar terpal yang terikat pada tongkat kayu bak tenda di atas sebidang tanah kosong untuk tinggal bersama anak laki-lakinya.
Saat ia pertama kali merasakan getaran pada dini hari, Agha Jan langsung bergegas untuk menyelamatkan keluarganya yang masih tertidur di kamar mereka.
Namun, dia telanjur kehilangan dua istri dan ketiga anaknya dalam gempa itu.
"Tetapi, semuanya terkubur di bawah reruntuhan. Bahkan sekop saya. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Saya berteriak kepada sepupu-sepupu saya untuk membantu, tetapi ketika mereka menarik keluarga saya dari reruntuhan, mereka semua telah tewas," ungkapnya.
Agha Jan kini menghabiskan hari menyisir reruntuhan rumahnya sambil terus meneteskan air mata.
"Ini adalah sepatu anak saya," ujarnya sambil mengangkat sepasang sepatu, jari-jarinya menyapu debu yang menyelimuti.
Warga lainnya, Habib Gul, sedang berada di Pakistan ketika ia mendengar kabar bencana itu.
Ia pun bergegas meninggalkan pekerjaannya dan pulang ke Barmal. 20 keluarganya tewas dalam insiden ini, 18 dari mereka tinggal di rumah yang sama.
"Nama siapa yang bisa saya berikan? Begitu banyak kerabat saya yang mati syahid, tiga saudara perempuan, keponakan saya, putri saya, anak-anak kecil," tutur Habib Gul sambil menangis.
Kepada reporter, Habib Gul dan warga desa lainnya ingin menunjukkan kehancuran rumah mereka.
Mereka ingin dunia melihat kehancuran dan keputusasaan yang kini harus mereka hadapi. Tak hanya itu, mereka pun berharap nama mereka dapat ditambahkan ke daftar distribusi bantuan.
"Jika dunia memandang kami seperti saudara dan membantu kami, maka kami akan tinggal di sini di tanah kami. Jika tidak, maka kami akan meninggalkan tempat ini di mana kami telah menghabiskan waktu begitu lama dengan air mata berlinang," ucap Habib Gul.
Saat ini, badan-badan bantuan Afghanistan dan internasional sedang menilai kerusakan dan mengirimkan pasokan ke lokasi yang terdampak bencana.
Namun, ini adalah krisis besar yang akan terus berkembang dan semakin memperburuk situasi kemanusiaan yang telah lama mencengkeram negara itu.
Penulis: Airin Sukono.
