Korban Tewas Gempa Filipina Bertambah Jadi 46 Orang, 17 Masih Hilang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah jalan mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 di General Santos City, Filipina, Selasa (9/6/2026). Foto: Jam Sta Rosa/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah jalan mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 di General Santos City, Filipina, Selasa (9/6/2026). Foto: Jam Sta Rosa/AFP

Korban tewas akibat gempa magnitudo 7,8 yang mengguncang selatan Filipina pada Senin (8/6) bertambah menjadi 46 orang, sementara 17 lainnya masih dinyatakan hilang per Rabu (10/6).

Dilansir AFP, jumlah korban bertambah setelah tim penyelamat menemukan jasad Joey Deluvio (39), seorang pegawai supermarket, yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan di Kota General Santos.

Operasi pencarian di lokasi tersebut menjadi salah satu fokus utama tim penyelamat selama dua hari terakhir, meski wilayah itu masih diguncang gempa susulan.

Petugas penyelamat Michelle Chua mengatakan tim sempat mendeteksi "denyut nadi yang lemah" menggunakan alat pencari korban.

"Ketika tim mencapai tubuh korban, sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan," ujar Chua kepada AFP.

Menurut Chua, jasad Deluvio ditemukan dalam posisi terjepit di antara dua balok bangunan yang runtuh.

Sejumlah petugas penyelamat dan anjing pelacak melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di gedung yang runtuh setelah gempa bermagnitudo 7,8 di General Santos City, Selasa (9/6/2026). Foto: Jam Sta Rosa/AFP

Badan Penanggulangan Bencana Filipina sebelumnya melaporkan 45 korban tewas. Namun angka tersebut belum memasukkan korban terbaru yang ditemukan di General Santos.

Pejabat pertahanan sipil Rafaelito Alejandro mengatakan sebagian besar tambahan korban berasal dari Provinsi Davao Occidental.

"Banyak korban meninggal akibat tanah longsor dan bangunan yang ambruk," kata Alejandro dalam wawancara radio yang dikutip AFP.

Gempa yang berpusat di lepas pantai Mindanao itu menyebabkan kerusakan luas, memicu longsor di sejumlah daerah, serta sempat memunculkan peringatan tsunami di Filipina dan beberapa negara di kawasan Pasifik.