Korea Utara Bangun Terowongan Kedua di Situs Uji Coba Nuklir, Siap Luncurkan Tes
ยทwaktu baca 3 menit

Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Amerika Serikat (AS) pada Kamis (16/6/2022) melaporkan, Korea Utara sedang membangun terowongan kedua di situs uji coba nuklir miliknya.
Konstruksi itu berlangsung di Fasilitas Uji Nuklir Punggye-ri. CSIS mengatakan, persiapan pembangunan tersebut telah rampung. Artinya, fasilitas itu siap meluncurkan uji coba nuklir.
CSIS mempublikasikan citra satelit dari lokasi. Dinding penahan dan lanskap dengan pohon-pohon kecil atau semak-semak terlihat di luar Terowongan No. 3. Area itu kemungkinan dibangun untuk mengantisipasi kunjungan pejabat senior.
CSIS mengungkap, analis juga pertama kalinya melihat aktivitas konstruksi baru di Terowongan No. 4.
"[Pembangunan di Terowongan No. 4] dengan kuat mengindikasikan upaya untuk mengaktifkannya kembali fasilitas untuk pengujian [nuklir] di masa mendatang," kata CSIS, dikutip dari Reuters, Kamis (16/6/2022).
Laporan CSIS menyusul pernyataan dari pejabat Korea Selatan pekan ini. Dia menyebut Korea Utara telah bersiap untuk melakukan uji coba nuklir kapan saja.
"Korea Utara telah menyelesaikan persiapan untuk uji coba nuklir lainnya dan saya pikir hanya tinggal keputusan politik yang harus diambil," kata Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Park Jin.
Korea Selatan mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas nuklir Korea Utara bersama dengan otoritas intelijen AS.
Ambisi Nuklir Korea Utara
Korea Utara telah melakukan enam uji coba nuklir bawah tanah di lokasi tersebut sejak 2006 hingga 2017.
Kedua terowongan dalam laporan teranyar itu sebelumnya tidak pernah digunakan untuk uji coba nuklir.
Pintu masuk terowongan tersebut dihancurkan pada 2018 saat Korea Utara mendeklarasikan moratorium uji coba senjata nuklir dan rudal balistik antarbenua (ICBM).
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, mengatakan dia tidak lagi terikat oleh moratorium tersebut. Sebab, AS kurang memberikan timbal balik selama pembicaraan denuklirisasi.
Korea Utara lantas melanjutkan pengujian ICBM pada tahun ini.
Pada Senin (13/6/2022), Park mengatakan, setiap provokasi Korea Utara akan ditanggapi dengan tanggapan yang bersatu dan tegas. Komentar itu disampaikannya setelah pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, di Washington.
Park juga telah mendesak China untuk menggunakan pengaruhnya. Beijing merupakan satu-satunya sekutu utama Korea Utara selama bertahun-tahun.
Park turut berjanji untuk bekerja untuk menormalkan Perjanjian Keamanan Umum Informasi Militer (GSOMIA) dengan Jepang sesegera mungkin. Pakta itu bertujuan untuk meningkatkan tanggapan mereka terhadap ancaman nuklir dan rudal Korea Utara.
Pakta tersebut telah menjadi tulang punggung berbagi informasi keamanan trilateral oleh Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang.
Pada 2019, Korea Selatan sempat mempertimbangkan untuk membatalkan pakta dengan Jepang. Hal itu terjadi selama periode hubungan yang tegang. Tetapi, mereka memutuskan untuk memperbarui pakta tersebut akibat tekanan dari AS.
Pejabat Korea Selatan mengatakan, kerja sama operasi intelijen dengan Jepang tidak semulus sebelumnya sejak saat itu.
Penulis: Sekar Ayu.
